Matahari baru naik sepenggalah, tetapi orangtuaku sudah sangat sibuk karena membantu hajatan tetangga. Mama sudah berangkat sejak pagi untuk membantu ibu-ibu lain membungkus snack. Papa dan aku baru saja pulang dari jogging (lebih tepatnya Papa yang jogging dan aku malah putar-putar keliling kota dengan motor), selanjutnya Papa akan membantu bapak-bapak di sana.
Dan di saat itulah aku membaca komentar yang mengejutkan.
"I plan to visit Semarang next weekend! Wish you be able to accompany me explore over cool places over there!".
Uh, tentu saja aku akrab dengan user yang baru saja komentar itu. Itu dari Rifai! Oke, ini hebat. Rifai akan ke Semarang dan dia mengajakku main, apa yang lebih hebat dari itu? Aku bergembira tentunya, tetapi itu tidak lama ketika menatap cermin.
Ah, bukan, ini justru malah bencana!
Aku langsung menghubungi sahabatku, Faifda, yang kemungkinan saat ini sedang sibuk di pemancingannya untuk membantu orangtuanya.
"Daa...kamu balik kapan? Dia ngajak main, nih! Ikut yuk!" ajakku lewat LINE.
"Balik sebelum tanggal 26, insya Allah, tapi pastinya kapan belum tahu," jawabnya.
"Dia ngajak main, wkwkwk. Bencana sih sebenernya,".
"Turutin lah, turutin,".
Uh, Faifda. Aku memfokuskan kenapa ini malah bencana.
"Aku gendut banget sekarang," kataku. "Kamu ingat kan guru-guruku aja bilang gitu di pernikahannya Mr. Dimas dan mereka udah setahun nggak ketemu. Bayangin dia yang 3 tahun nggak ketemu aku!! Ya ampuuunnn....shock deh kayaknya dia lihat aku,".
"Pede aja, Say. Apa iya mau diet dalam waktu seminggu -_-,".
"Butuh obat pelangsing biar kurus dalam seminggu," kelakarku. "Makanya aku bilang ini bencana,".
"Makan cabe terus, insya Allah, wkwkwk. Pede aja, Nis. Lagian juga momen ini (udah kamu tunggu kan) wkwk,".
"Njay, nggak jadi main, opname rumah sakit dua minggu, hahahaha," Aku tertawa membaca pesannya. "Iya sih, aku udah nunggu banget momen ini,".
"Wkwkwk, jadinya plus jenguk di RS deh, Nis. Hla iyaa pede aja gendut ga masalah yang penting ngomong nyambung,".
Aku lega mendengarnya.
Faifda adalah sahabatku. Dialah yang paling sering jadi tempat penampunganku di saat-saat seperti ini. Dia akrab dengan tokoh-tokoh yang kuceritakan, terutama Mr. Dimas dan Mr. Izz. Beberapa waktu sebelumnya, aku sempat sedikit bercerita tentang Rifai. Tentang masa-masa konyol bersamanya di kelas X. Masa-masa waktu aku masih terlalu polos dan lugu. Masa-masa menyebalkan, sekaligus penuh tawa dan kenangan. Sedikit banyak itulah yang kugambarkan ketika mengisahkan Rifai.
Aku teringat lagu Arashi yang Still, tentang pertemuan dan perpisahan. Itsuka ano omoi ga kagayaki hanasu toki made (Sampai suatu hari ketika perasaan-perasaan itu memancarkan cahayanya). Kurasa, entah benar-benar minggu depan atau tidak, inilah hari yang kutunggu-tunggu setelah berpisah 3 tahun dengannya. Aku tahu sih Rifai terkadang bahkan batal tanpa alasan, tetapi hari pertemuan dengannya adalah salah satu hari yang paling kutunggu seumur hidupku. As Mr. Dimas and Mr. Izz, he is such a precious person for me. My partner-in-crime and my best friend. Berpisah dengan Mr. Dimas dan Mr. Izz urusan gampang karena aku bisa ke Solo kapan saja, tetapi Rifai terlalu jauh. Saat ini dia sedang di Jakarta, entah sedang apa.
Mungkin, batinku dalam hati. Bahkan jika ini batal lagi, aku tetap akan menunggu hari pertemuan itu kembali. Siapa yang tidak mau bertemu orang-orang yang berarti bagi mereka? Bahkan jika itu hanya sekilas untuk mengucapkan terima kasih, aku ingin bertemu dengan mereka. Hari-hariku di masa lalu sempat bersinar terang karena mereka. Setidaknya untuk sedikit merasakan secercah sinar di masa lalu, aku ingin bertemu.
Wah, aku tidak sabar sekali menantinya, pikirku. Setinggi apa ya dia sekarang?
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar