Langsung ke konten utama

Postingan

New Life, New Self

Waaahh...sudah lama nggak menulis di blog ini!   Ketika membaca postingan-postingan lama, rasanya terkenang masa lalu ya. Banyak hal yang terjadi ternyata selama beberapa tahun ini, baik yang menyenangkan maupun tidak.   Sekarang sudah pertengahan 2018 dan usiaku sudah memasuki dasawarsa kedua. Banyak hal menyenangkan terjadi terutama dalam pertemanan, sesuatu yang nggak pernah bisa kulewati dengan mulus di masa sekolah. Aku punya dua sahabat yang selalu memberikan dukungan dan ada di masa-masa gelapku. Aku berteman dengan baik di kampus.   Perubahan hidupku lainnya akan terjadi sebentar lagi di semester kelima perkuliahanku.   Doakan ya, semoga setelah ini aku akan segera membuat kartu nama bertuliskan:   Anissa Antania Hanjani   Junior Research Assistant Lecturer Assistant       Yours Truly,   Anissa Antania Hanjani 
Postingan terbaru

Resolusi 2018

Before 2017 ends, blablabla... Lagi tren banget sih posting begituan di snapgram, tetapi aku jujur aja nggak begitu tertarik. Sama tidak tertariknya dengan fakta bahwa 2017 akan segera berakhir. Honestly, pergantian tahun itu biasa-biasa saja. Bukan masalah, "Haram merayakan tahun baru karena blablabla...", ya tetapi secara pribadi aku menganggap tahun baru itu biasa saja. Tidak ubahnya seperti pergantian hari lainnya. Dari tahun ke tahun ketika terompet dan petasan berbunyi, aku dan keluargaku di rumah saja. Tidur nyenyak. Namun, aku tahu apa makna tahun baru, terutama 2018 ini. Usiaku akan menjadi dua dasawarsa di bulan kelima nanti. Bulan kedua nanti akan jadi semester genap kedua di perkuliahan. Itu saja. It will be the beginning of a new journey . Aku menjanjikan hal itu kepada diriku sendiri di tahun 2018 ini. Aku ingin sekali memulai perjalanan yang sama sekali belum pernah kulakukan. Aku ingin menjadi orang asing di tempat yang asing pula. Untuk pert...

Mr. Izz

I nearly lost my words to tell you a story about this incredible man. I am always thankful that God made me faith to meet him: my teacher, my master, my role model, and for me, even my father. Akhir-akhir ini ketika aku kembali melihat ke belakang, rasa terima kasih itu selalu bertambah setiap harinya. Beliau benar-benar mempersiapkanku dengan baik untuk terjun dalam kehidupan yang sebenarnya di kampus. Well, rasanya masih seperti kemarin ketika beliau cerita ini dan itu tentang kampus, rumitnya hubungan interpersonal di sana, parahnya persaingan di dalam, dan lainnya. Ketika Tuhan menakdirkanku berhasil melaluinya, setelah bersyukur kepada-Nya, dalam hati aku selalu ingat seseorang pernah menceritakan hal itu sebelumnya dan aku berterima kasih sekali. "Sebenarnya sih, kamu nggak usah SMA," kata beliau suatu hari di kantor guru. "Langsung kuliah aja, ngapain buang-buang waktu di SMA?". "Hah? Langsung kuliah? Kok bisa?" tanyaku heran. ...

Paradoks

Hari ini baru aja baca status tentang ustadz yang dipersekusi di Bali. Yaa...si ustadz yang dulu menghina fisik artis. Ada yang minta pemerintah bersikap, tetapi ada juga yang bilang, "Kalau tak ada asap, ya tak akan ada api,". Begitu seterusnya. Lucu nggak sih, dari satu topik ini saja aku jadi pusing sendiri dan akhirnya memutuskan jalan kaki ke sungai dekat rumah sore ini biar dapat pencerahan (ahahaha...berasa orang bertapa nggak sih?). Waktu-waktu senggang sore di luar rumah membawa pikiranku ke banyak tempat. Teringat kemarin aku memutuskan untuk unfollow Ustadz FS. Teringat instastory teman-teman tentang FS melawan AJ di sebuah stasiun TV kemarin. Banyak hal yang masuk ke dalam pikiranku sore ini dan itu membuatku tersadar, sekaligus menemukan pertanyaan baru. Aku tersadar, sebenarnya alasan mengapa aku menentang ide-ide khilafah dan ideologi transnasional ternyata sudah lama. Sejak melihat bendera hitam putih bertuliskan kalimat-kalimat Tuhan berkibar, me...

True Self

Minggu, 15 Oktober 2017 "...sebenarnya banyak sih yang ngomongin kamu di belakang waktu itu, tapi aku juga nggak suka kamu di-judge seenaknya gitu,". "...". "Waktu terakhir main ke sana sih guru-guru juga pada bilang, 'Antania sekarang berubah banget setelah masuk HI,',". "..." * * * Selasa, 5 Desember 2017 "Aku pergi dulu ya ke rumah Ayu!" sahutku dari pintu belakang. "Aku ambil sendiri uang sakunya,". Ini adalah minggu-minggu ujian semester. Aku dan Ayu memutuskan untuk sering belajar bareng. Aku bukan tipikal orang yang biasa belajar di rumah, sih. Beuh, yang ada malah tidur aku kalau di rumah. Meja belajar sama kasur jaraknya cuma dua langkah. Aku menatap kontak WhatsApp-ku sebelum berangkat dan tertegun melihat beberapa kontak yang hilang dari daftar, lalu memutuskan kembali ke kamar sebentar untuk mengecek nomor yang perlu ditambahkan. Ah, aku baru saja ganti HP dan nomornya y...

Pursuing So-Called Career

Tanggal 2 Desember kemarin ada keseruan tersendiri di Semarang, to be exact di Hotel Ibis Simpang Lima. Mata kuliah Diplomasi melangsungkan proyek kelas yang menurutku asyik setengah mati. Kami melakukan Model United Nation (MUN), sidang ala-ala PBB, dengan chamber UNHCR dan topik pengungsi Rohingya. Well, aku pertamanya nggak se- excited itu dan dari awal berpikir MUN ini istilahnya yaa...main diplomat-diplomatan. Istilah sosiologinya play stage (kalau tidak salah), di mana anak akan belajar dengan bermain peran. Karena aku tahu payah banget kemarin diriku di IRDUMUN tahun lalu, kali ini aku nggak berharap lebih. Namun, melihat teman-temanku sekelompok yang udah solid sejak pertama kali kita janjian buat position paper, rasanya hal ini menjanjikan juga. Oh, sampai lupa. Aku, Alvin, Satya, Ugro, dan Maul mewakili negara Laos. Seiring berjalannya waktu, ternyata aku menemukan sesuatu di sana. Sesuatu yang buat aku menggebu-gebu setengah mati. Aku menemukan semangat yang rasany...

Gekkou

Unch, yang sebentar lagi 20 tahun. Aku jujur aja deg-degan sih memikirkannya. Ya ampun, cepat banget sih waktu berlalu. Nggak kerasa banget udah masuk zona dewasa muda. Sebentar lagi berkarir lalu...menikah. Menikah ya? Dua hari lalu teman-temanku mencurahkan perasaan mereka tentang laki-laki yang mereka suka. Mengejutkannya, meski sudah punya pacar, mereka pun tetap bisa suka dengan orang lain. Haha, apalah aku ya yang pacarannya sama buku dan jurnal. Eh, tapi kurasa mereka sudah di tahap menentukan perasaan, deh. Mereka ada di tahap mencari dan menemukan sosok laki-laki ideal di mata mereka. Ternyata, bahkan pacar mereka sekali pun tidak masuk kategori ideal untuk mereka. Yah, meski pacar mereka beneran sayang dan setia. Hari ini aku menatap langit lagi seusai ujian dan bertanya-tanya apakah diriku sendiri sudah menetapkan laki-laki seperti apa yang ingin kunikahi...mungkin dalam beberapa tahun lagi. Kurasa belum, sih. Namun, aku selalu tahu seperti apa laki-laki yan...