Tanggal 2 Desember kemarin ada keseruan tersendiri di Semarang, to be exact di Hotel Ibis Simpang Lima. Mata kuliah Diplomasi melangsungkan proyek kelas yang menurutku asyik setengah mati. Kami melakukan Model United Nation (MUN), sidang ala-ala PBB, dengan chamber UNHCR dan topik pengungsi Rohingya.
Well, aku pertamanya nggak se-excited itu dan dari awal berpikir MUN ini istilahnya yaa...main diplomat-diplomatan. Istilah sosiologinya play stage (kalau tidak salah), di mana anak akan belajar dengan bermain peran. Karena aku tahu payah banget kemarin diriku di IRDUMUN tahun lalu, kali ini aku nggak berharap lebih. Namun, melihat teman-temanku sekelompok yang udah solid sejak pertama kali kita janjian buat position paper, rasanya hal ini menjanjikan juga. Oh, sampai lupa. Aku, Alvin, Satya, Ugro, dan Maul mewakili negara Laos.
Seiring berjalannya waktu, ternyata aku menemukan sesuatu di sana. Sesuatu yang buat aku menggebu-gebu setengah mati. Aku menemukan semangat yang rasanya terakhir kali kutemukan ketika pertama kali memutuskan akan masuk HI. Meski awalnya nggak semangat, rasanya dari sesi zero conference ada sesuatu di dalam diriku yang seakan-akan berteriak, "Ayo! Ayo!" kepadaku. Aku yang asli nggak suka mencatat tiba-tiba jadi buka-buka jurnal dan study guide untuk menulis lagi poin-poin yang dirasa penting dalam sidang. Aku yang awalnya berpikir, "Ah malas ah," tiba-tiba jadi semangat menulis nota-nota untuk dikirimkan ke delegasi negara lain.
Dan, yang bahkan membuatku terkejut, tiba-tiba aja aku niat banget sampai bilang ke Alvin yang sama-sama sudah pernah MUN, "Eh Vin, tolong simak pas delegasi sana ngomong dong, aku mau mencatat yang ini", "Vin, tolong catat dong mosi yang diajuin apa aja,", "Eh, kita vote mosi dari negara ini aja, ini penting,".
Sebenarnya selain itu, aku senang sekali ketika teman-temanku yang nggak biasa bicara di kelas tiba-tiba jadi aktif dan mengutarakan ide mereka. Pertama sih, Satya. Mungkin karena melihat aku dan Alvin yang asyik mengirimkan nota ke delegasi negara lain, awalnya dia bilang ke aku, "Nis, yang itu biar aku aja yang kirim,". Lama-kelamaan, dia ngomong, "Eh, Nis, aku mau ngomong juga, tapi kamu catetin dong apa aja yang perlu disampaikan,". Sumpah ya, aku senang sekali. Maul dan Ugro juga. Maul juga mau bicara, tetapi karena kesalahanku mengangkat placard di awal, kami ditaruh di slot awal untuk bicara dan otomatis kita nggak punya waktu menyiapkan, akhirnya aku yang bicara. Eh, tapi Maul banyak membantuku mengirim nota. Ugro juga. Untung kita ditempatkan di slot akhir meski lagi-lagi angkat placard di awal, jadi bisa menyiapkan bahan untuk Ugro.
Ada suatu saat ketika aku memperhatikan sesuatu yang penting dari apa yang kucatat di zero conference, lalu aku bicara ke Alvin, "Vin, kita angkat mosi ini gimana? Ini menyangkut mandat UNHCR yang tadi di catatan sih,"
Alvin setuju. "Boleh, kapan kita mau angkat?".
"Nggak tahu deh, tapi yang jelas jangan sekarang," jawabku. "Aku pingin ini beneran diangkat sih, jadi kayaknya kita harus cari suara dulu biar bisa lolos,".
Akhirnya, aku dan Alvin sibuk menulis nota di sesi conference pertama sambil menyimak. Pertama, aku menulis nota ke delegasi Inggris yang kurasa berkaitan dengan hal tersebut. Aku mencoba meyakinkan mereka bahwa ini penting dan harus dibahas. Setelah beberapa kali kirim nota, kami berhasil meyakinkan mereka. Setelah Inggris, kami mengirim nota ke beberapa negara, tetapi sebelum sempat mengirim lebih banyak...tak terasa sudah masuk sesi break.
Aku dan Alvin memanfaatkan sesi break dengan berkeliling ke meja-meja delegasi. Aku mendatangi delegasi Amerika Serikat, Kamboja, Singapura, dan lain sebagainya. Senang rasanya ketika beberapa dari mereka menyatakan persetujuannya. Aku nggak tahu Alvin mendatangi delegasi mana saja, tetapi dia bekerja keras juga.
So, setelah sesi break, aku belum memutuskan akan mengangkat mosi. Aku masih ragu dengan suara yang nanti diperoleh. Kami lanjut menulis nota lagi dan mencoba untuk membujuk negara-negara yang duduknya lumayan dekat seperti delegasi Turki.
Setelah un-moderated coccus untuk membahas working paper (soalnya kalau legal drafting ribet mungkin ya), chair menawarkan delegasi untuk mengajukan mosi. Alvin niatnya saat itu mau mengangkat un-moderated coccus lagi selama 15 menit, tetapi nggak tahu kenapa sih jadinya moderated coccus, jadi kami mencoba mengangkat mosi yang kami niatkan dari awal mau dibahas.
Dan...ketika mosi kami di-voting, mosi itu lolos.
Dan untuk alasan yang baru kuketahui setelah pulang MUN, hatiku berteriak kencang. Senang sekali.
"Yas!" ujarku pelan ketika chair menyatakan mosi kami lolos.
* * *
"Aku mau jadi diplomat!".
Mbak Sheiffi, dosen kami, pernah bercerita bahwa itulah yang dikatakan anak-anak HI seangkatannya di awal mereka mengikuti perkuliahan. "Setelah itu, kami ditanyai lagi pertanyaan yang sama ketika kami di semester 7. Hanya sedikit anak yang mengangkat tangannya,".
Awalnya itu juga yang aku tahu. Aku mengira anak HI prospek kerja paling cuma jadi diplomat atau bekerja di Kementerian Luar Negeri. Ya, aku juga termasuk satu di antara sekain banyak anak itu. Aku juga berkata akan menjadi diplomat suatu hari nanti. Meski aku mengatakan hal itu sejak SMA, tetapi...untuk beberapa alasan hal itu terdengar jauh lebih kencang ketika di perkuliahan.
Namun, untuk beberapa saat teriakan itu tidak sekencang biasanya. Di semester kedua dan ketiga, aku berulang-ulang bertanya kepada diriku sendiri, "Beneran nih mau jadi diplomat?". Apalagi setelah tahu gimana susahnya jadi diplomat ketika ikut mata kuliah Diplomasi. Jadi diplomat nggak enak. Calon pasangan hidupku nanti nggak cuma diwawancarai orangtuaku, tetapi juga sama Kementerian Luar Negeri. Nanti Kemenlu juga yang memutuskan dia layak atau tidak jadi pasangan hidupku. Wah, sedih banget. Kalau diplomat laki-laki sih mungkin lebih mudah, tetapi tidak untuk yang perempuan. Diplomat perempuan disarankan untuk tidak menikah dengan laki-laki yang bekerja tetap seperti PNS. Disarankan sih menikah dengan laki-laki dengan profesi seperti wartawan atau peneliti yang bisa diajak berpindah-pindah. Nah lo.
Untuk beberapa saat aku berpikir, "Jangan-jangan aku bilang mau jadi diplomat gegara ikut-ikutan doang?", "Jangan-jangan aku malah belum tahu karir seperti apa yang aku pingin di masa depan?" dan lain sebagainya. Jujur saja, itu mengkhawatirkan. Papa pernah bilang bahwa akademisku adalah satu-satunya kelebihan yang kupunya, jadi karirku nggak boleh jauh-jauh dari itu.
Aku akhirnya memutuskan bahwa kalau nanti nggak jadi diplomat, jadi peneliti juga nggak kalah asyiknya. Namun, aku pingin jadi peneliti di lembaga yang asli mendedikasikan penelitian untuk pengembangan pendidikan. Meski aku senang, terkadang rasanya khawatir juga kalau bayarannya nggak banyak di sana. Bukan karena matre dan mengejar uang (karena aku juga nggak suka jadi orang yang punya banyak uang dan nggak suka barang branded), aku khawatir gajiku tidak cukup menopangku untuk mandiri. Meski kelak punya suami, aku sama sekali tidak mau bergantung dengan penghasilannya. Pertama, aku benci menggantungkan hidupku kepada orang lain. Kedua, aku tidak tahu apa yang terjadi di masa depan. Maksudku, kalau tiba-tiba terjadi sesuatu dengan suamiku atau pernikahanku, bukankah itu akan memberikan dampak secara finansial juga? Ketiga, aku ingin menyenangkan anak-anakku dengan uangku sendiri. Keempat, supaya bisa membuat banyak jaminan asuransi.
Namun, keresahan tersebut berakhir ketika MUN kami selesai.
Dalam perjalanan pulang, aku sadar bahwa rasa senang bisa meyakinkan delegasi negara lain itu muncul karena diriku ingin menjadi diplomat. Keinginan itu ternyata bukan sekadar ikut-ikutan. Meski sempat dibuat riweuh dengan table manner yang sumpah itu bikin punggung pegal, tetapi ternyata aku senang. Aku bahagia. Pada akhirnya toh aku malah mempraktikkan apa yang kupelajari selama table manner di rumah.
Jadi diplomat dan peneliti ternyata boleh juga ya.
Aku kembali menatap langit. Kali ini, aku memastikan bahwa keinginan itu bukan sebatas euphoria jadi anak HI. Ini mimpi dan ini harus dikejar.
So, maaf ya buat calon pendamping hidupku di masa depan. Kamu sepertinya harus dua kali wawancara sebelum menikah denganku. Hahahahaha.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar