Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2017

Light Review Today: Sakurai Sho

Lelah bahas politik melulu akhir-akhir ini. Bahas sesuatu yang ringan, deh! Minggu malam ketika makan malam dengan keluarga, nggak tahu kenapa aku bosan melihat channel TV pilihan Mama dan adikku yang Korean always . Dari tadi pagi aku sudah nonton channel K+ yang isinya drama-drama populer Korea terbaru, lalu sore ini setelah semua puas sudah menonton Cinderella and Four Knights, Mama mengganti channel TV ke KBS World.  Astaga...Korea lagi! Ketika Mama mengomentari salah satu artis Korea (yang entahlah itu emak-emak bisa ngikutin aja, padahal aku nggak) dengan adikku, aku ikut-ikutan nimbrung, "Dih, plastik semua. Artis Jepang mah natural," "Banyak orang Jepang ke Korea buat operasi plastik," kata adikku. "Arashi tuh cakepnya alami," Aku mengungkit my 5 super boys yang kugandrungi selama tiga tahun itu. "Perasaan nggak ada ya yang kenal Arashi, yang kenal Nisa doang," komentar Mama, disambut tawa adikku. "Ih, me...

PKI: Antara Paranoid dan Hoax

Dewasa ini, kudapati berbagai isu yang aneh bin ajaib merebak. Mulai dari yang paling absurd, irasional, basi, bahkan murahan tumpah ruah di media sosial. Kebangkitan PKI adalah salah satunya. Kalau boleh jujur sih, aku bingung isu ini mau dikelompokkan ke jenis isu apa menurut versiku. Sebab, aku bisa mengatakan semua kategori itu masuk. Ya absurd, ya irasional, ya basi, murahan juga. Bingung, deh. Haha. Aku nggak tahu lagi mau ngomong apa sama orang yang selalu mengaitkan rezim sekarang dengan PKI sejak terpilihnya Jokowi sebagai presiden dengan data-data yang nggak tahu itu dapatnya dari mana. Sebenernya mau ketawa keras-keras karena kekonyolan ini, cuma rasanya kasihan karena sebenernya mereka kurang literasi. Di sisi lain, aku heran sama mereka, sejak kapan ya mereka lebih canggih dari BIN dan TNI AD sehingga bisa mendapatkan video, data, dan foto-foto kayak gituan? Harusnya TNI AD yang sudah bergerak maju kalau lihat begituan. Jelas mereka trauma, 6 jenderal mereka dibunuh. N...

Rumahku, Indonesia

Indonesia adalah rumahku. Rumah di mana aku dan Katrin yang Tionghoa duduk bersama dan belajar soal-soal OSN IPS ketika dulu SMP. Indonesia adalah rumahku. Rumah di mana aku dan Bang Anton yang sekolah di keuskupan pernah bicara soal makna Idul Fitri tanpa menyinggung satu sama lain. Indonesia adalah rumahku. Rumah di mana aku duduk dan menjelaskan apa itu Islam kepada Andreas yang beragama Katolik dengan tangan terbuka. Indonesia bukanlah rumah tempat Andreas bercerita padaku, "Apakah kamu marah aku bertanya soal Islam kepadamu? Dulu aku pernah bertanya kepada temanku dan dia marah,". Melainkan rumah di mana aku dan sepupuku yang Katolik duduk dan bercanda penuh damai. Indonesia bukanlah rumah bagi marahnya kaum anu kepada kelompok tetangga. Melainkan rumah di mana ustadz dan uskup saling bercengkerama lepas. Indonesia adalah rumah bagi tiap-tiap jiwa perindu ikatan kebangsaan atas ratusan suku, ribuan pulau, dan berbagai agama. B...

Haha to Boku

Pagi ini setelah mandi, aku bercakap santai dengan Mama yang sedang memasak sup untuk dijual di warung keluarga. Mama menyinggung tentang tulisan Pancasila yang baru saja kubuat. "Kamu sebenarnya mau mengkaji apa, sih?" tanya Mama. "Ituu...ya tentang si A itu, kalau dia cuma diksinya doang jelek, seandainya dia minta maaf di depan publik mungkin laporannya bisa ditarik. Ternyata setelah nonton videonya, uh, nggak heran Sukmawati nggak mau menarik laporannya," jawabku dengan nada manja. "Tadi Mama bacanya cepat-cepat sih," kata Mama. Mama kemudian cerita tentang temannya, seorang profesor yang suka sekali membolak-balikkan fakta. Mama dan profesor itu satu angkatan ketika kuliah di Fakultas Hukum almamaterku. "Profesor itu buta fakta," komentarku. "Nggak, bukan buta fakta kalau menurut Mama. Apa yang dia omongin itu Mama dan teman-teman Mama masih mengerti secara keilmuannya, tetapi dibolak-balikkan. Kalau menurut Mam...

Fenomena Pancasila Kita

Apa itu Pancasila? Apa itu Pancasila, sampai membuat anak-anak TK hingga para mahasiswa di perguruan tinggi wajib memahaminya? Apa itu Pancasila, yang membuat para pahlawan revolusi mempertahankannya mati-matian hingga meregang nyawa di Lubang Buaya? Apa itu Pancasila, yang konon ketika tersiar kabar penghinaannya di Malaysia, membuat presiden pertama kita berang? Sekadar dasar negarakah? Atau lebih dari itu? * * * Publik kali ini sedang mengikuti dugaan kasus penistaan Pancasila yang dilakukan oleh...sebut saja si A yang diadukan oleh Sukmawati Soekarnoputri. Pagi ini aku memutar video yang menjadi salah satu alat bukti penistaan tersebut, mumpung masih beredar di YouTube, haha. Aku ingin tahu, katanya sih si A bilang, "Pancasilanya Soekarno ketuhanannya ada di pantat,". Pertama mendengar itu, bisa disimpulkan diksinya saja sudah jelek. Namun, kalau ini hanya masalah diksi sih seharusnya sampaikan permintaan maaf di publik mungkin si pelapor bisa men...

Pelajaran dari Jokowi-Ahok

Aku yakin sejak kecil kita sudah belajar pepatah mulutmu, harimaumu dan siapa yang menabur, dia akan menuai . Untuk saat ini, pepatah ini masih sangat relevan dalam kehidupan kita dan dua tokoh politik kita yang sedang hits , Pak Joko Widodo dan Pak Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) adalah contoh nyata relevansi dua pepatah tersebut. Ketika Jokowi-Ahok maju sebagai cagub dan cawagub DKI Jakarta pada 2012 lalu, aku melihat mereka sebagai umm...kalau istilahnya anak muda yang lagi jatuh cinta itu couple goals . Beliau berdua saling melengkapi satu sama lain. Pak Jokowi yang terkenal kalem, santai, dan tenang, dilengkapi Pak Ahok yang keras dan frontal dengan kemampuan politik yang sama-sama bagusnya. Perbedaan karakter yang saling melengkapi tersebut membuatku nggak heran kalau mereka akan memenangi Pilkada DKI Jakarta tahun 2012.  Namun, semua berbeda ketika akhirnya Pak Jokowi terpilih sebagai presiden pada Pemilu 2014 dan Pak Ahok naik sebagai gubernur DKI Jakarta, lalu terus...

Tentang Objektivitas Kita

Sebenarnya ini artikel yang kuanggap tidak perlu, tetapi baiklah, kutulis sebagai jawaban untuk yang kemarin-kemarin bertanya aku di pihak siapa, di mana posisiku, dan lain sebagainya. Aku di pihak siapa? Posisiku di mana? Mau tahu saja, haha. Rahasia. Tidak, karena jika pada tahu kecenderunganku di mana dan kelak preferensiku serta prediksiku salah, aku tidak mau diprovokasi oleh siapapun dengan kalimat, "Tuh An, blablabla...ayo sama kita aja!" dan sejenis itu. Tidak, terima kasih. Jika kelak preferensiku salah, aku ingin berpikir lagi dan melihat semua sudut pandang, baru memutuskan lagi. Bukannya memihak hasil dipanas-panasin.  Maaf, teman-teman. Kita semua sudah besar, banyak juga yang sudah mahasiswa. Kalian diajari berpikir secara ilmiah, ya pelajaran itu digunakan lah. Masa' gampang mbleduk cuma gara-gara berita yang dikasih huruf kapital. Lain kali kalau ada yang mau nyodorin berita sejenis itu ke aku lagi, aku mau tanya, "Ada data validnya? Udah dia...

Second Semester, I'm Yours!

Alhamdulillah, udah hampir mendekati hari masuk kuliah. Aku beneran bersyukur. Udah bosen banget liburan nih, haha. Alhamdulillah, nilai juga udah pada keluar dan KRS udah kuisi juga. Alhamdulillah, nilai-nilaiku bahkan jauh melampaui target yang dulu kutuliskan. Aku dulu nggak yakin bisa mengikuti perkuliahan, makanya kutulis dalam rencanaku di semester satu IPK-ku minimal harus 3,10. Alhamdulillah, semua di luar ekspektasiku. IPK-ku cukup tinggi ketika banyak teman yang bilang aku terlalu sibuk untuk ukuran mahasiswa semester satu. Semester dua ini aku harus lebih baik lagi. Mungkin aku akan sedikit mengurangi kegiatanku di organisasi dan lainnya, lalu menambah fokus di akademik. Kurasa perlu sih, karena semester tiga sudah mulai ketemu dosen-dosen yang mengharap mahasiswanya sudah bisa menuliskan sebuah karya ilmiah dengan baik. Rasanya perlu untuk lebih fokus di akademik karena hal tersebut, mengingat aku menargetkan lulus dalam jangka waktu 3,5 tahun dan ingin segera berk...