Sebenarnya ini artikel yang kuanggap tidak perlu, tetapi baiklah, kutulis sebagai jawaban untuk yang kemarin-kemarin bertanya aku di pihak siapa, di mana posisiku, dan lain sebagainya.
Aku di pihak siapa? Posisiku di mana? Mau tahu saja, haha. Rahasia. Tidak, karena jika pada tahu kecenderunganku di mana dan kelak preferensiku serta prediksiku salah, aku tidak mau diprovokasi oleh siapapun dengan kalimat, "Tuh An, blablabla...ayo sama kita aja!" dan sejenis itu. Tidak, terima kasih. Jika kelak preferensiku salah, aku ingin berpikir lagi dan melihat semua sudut pandang, baru memutuskan lagi. Bukannya memihak hasil dipanas-panasin.
Maaf, teman-teman. Kita semua sudah besar, banyak juga yang sudah mahasiswa. Kalian diajari berpikir secara ilmiah, ya pelajaran itu digunakan lah. Masa' gampang mbleduk cuma gara-gara berita yang dikasih huruf kapital. Lain kali kalau ada yang mau nyodorin berita sejenis itu ke aku lagi, aku mau tanya, "Ada data validnya? Udah dianalisis secara kebahasaan?" blablabla and so on.
Ada yang mungkin dilupakan oleh banyak orang, yaitu fakta bahwa manusia selain nabi dan rasul tidak luput dari salah. Aku mengamati kebanyakan temanku sejak jaman Pemilu tahun 2014, lalu lanjut pada 100 hari masa kerja kabinet Jokowi-JK, lalu seterusnya. Aku heran, jujur aja, kenapa nggak berhenti kayaknya mereka menyalahkan pemerintah dari sejak terpilihnya presiden sampai sekarang. Seakan kelebihannya itu nggak ada, tertutup semua sama kekurangannya. Dibilang ini rezim yang nggak pro sama kaum A, rezim ini, dan lain sebagainya sampai aku hafal. Di sisi lain, ketika mereka pro terhadap seseorang, semuanya menggebu-gebu, membabi buta, entah datanya valid atau nggak pokoknya situ benar dan yang salah rezimnya. Bikin pusing.
Dari sinilah aku menamakan fenomena ini buta fakta. Kebencian dan kefanatikan terhadap seseorang atau satu pihak akan menutupi kekurangan atau kelebihannya. Pokoknya sini benar dan lainnya salah.
Teman-temanku tercinta, aku menyayangkan sekali cara pikir ini tetap dipertahankan sampai masuk kuliah, padahal kalian kan tahu ketika kita membuat suatu karya ilmiah, harus disertai bukti dan data yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan. Tolonglah, apa yang sudah kalian dapat ketika kuliah itu diterapkan, minimal ketika kita mendapatkan suatu berita atau kabar. Bukankah sudah tahu adab menerima kabar dari Surah Al Hujurat ayat 6? Telitilah dulu kebenarannya bahkan jika sudah ada yang bilang itu valid, baru share, baru menanggapi, dan lain sebagainya. Kalau perlu dianalisis, ditelaah secara bahasa juga, baru disebarluaskan.
Kok bahasa? Tidak mungkin semua orang akan memaknai suatu kalimat seutuhnya dengan makna yang sama. Kalau bisa sama, yakin deh harusnya UN bahasa Indonesia itu gampang. Nyatanya susah, kan? Lihat deh, kalau dari sudut pandang si A menangkapnya begini, sudut pandang si B pahamnya begini, baru disimpulkan.
Mau berpihak ke mana, itu terserah kalian. Namun, saranku gunakanlah nalar sebaik-baiknya. Akal manusia adalah karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada kita sehingga kita bisa survive di bumi ini. Yaa...eman-eman aja sih ya kalau kalian dikasih nalar, tetapi ketemu berita yang caps lock nya jebol aja langsung pada hujat-menghujat. Hm.
Sebagai penutup, aku mau bilang, kalian tidak akan sepenuhnya objektif kalau preferensi kalian tidak dilepaskan. Selama ada preferensi, kalian tidak akan pernah menilainya sebagai manusia biasa.
Yours,
Yang berusaha tetap waras
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar