Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

Holiday Time!

Waktunya berlibur! Yah, ga bisa dibilang benar-benar berlibur. Aku seharian di rumah. Tidak banyak yang kulakukan. Paling beres-beres kamar yang sudah terbengkalai satu semester (dan kuusahakan selama liburan kamarku kinclong), lalu belajar bahasa Jepang. Aku sudah bisa menulis dengan hiragana, itu kabar baiknya. Aku kangen teman-teman, hah, apalagi ini liburan yang amat panjang. Aku akan luang sampai dengan bulan Februari. Liburan yang panjang, bukan? Eh, tapi nggak seasyik itu. Aku malah nggak terlalu suka libur lama-lama.  Kurasa akan menyenangkan kalau ada yang mengajakku jalan, sih. Haha. Aku bosan terus-terusan di rumah. Meski, kuakui saja, seharusnya ini waktuku menyenangkan diriku sendiri. Semester dua kelak kegiatanku sudah padat. Aku resmi jadi staf HRD di FKMM dan fungsionaris DKA di HMHI. Ini akan memakan banyak waktu luangku. Hm. Sincerely yours, Anissa Antania Hanjani

Saat Galau

Tahu nggak suramnya hari Minggu ini? Hoo...kalau pingin tahu nih, suramnya hari Minggu ini tuh ya, udah di luar hujan, perasaanku campur aduk, dan akhirnya berujung galau. Iya, hari ini aku galau sumpah! But, maaf-maaf aja, aku nggak lagi galau mikirin seseorang. Aku kayaknya pernah cerita dulu kalau percintaan adalah sesuatu yang tidak penting bagiku sekarang.  Terus? Aku terduduk galau di depan laptopku, menatap formulir pendaftaran staf ahli senat yang besok harusnya sudah dikumpulkan. Ugh! Ini memusingkan. Ada sebagian kecil dari diriku yang meragukan apakah kelak aku bisa. Sebagian lainnya campur aduk. Terutama ketika menatap beberapa bagian formulirnya. Motivasi menjadi staf SM FISIP Undip 2017. Allahuma Ya Rabb. Ini diisi apa? Bukan berarti aku mendaftar tanpa motivasi atau bahkan ikut-ikutan. Tidak. Itu bukan aku. Aku hanya bingung bagaimana meyakinkan orang lain bahwa aku mampu meski pernah gagal. Bahwa ketika terpilih kelak, aku akan memperbaiki kualitas di...

Boomerang!

"Nis, dulu kamu kan IPA. Kok langsung bisa menyesuaikan di IPS?" Pertanyaan di atas cukup mainstream ditanyakan sekitar seminggu ini. Hm. I wonder why. Mukaku sama sekali tidak mencerminkan adanya kandungan rumus fisika atau apapun itu. Haha.  Banyak yang belum tahu lebih tepatnya, tetapi jujur saja aku sering tertawa dapat pertanyaan ini. Mengapa? Karena, berarti aku masih ada bekas guratan menghadapi soal-soal IPA di seluruh wajahku! Haha. Padahal aku nggak ada pantes-pantesnya di sana. Teman-temanku di SMA malah bilang aku adalah anak IPS yang nyasar di IPA. Sebenarnya, ada yang lebih menggelikan lagi ketimbang pertanyaan itu. Ada. Apakah itu? Hm, kenyataan bahwa sekarang aku kuliah di FISIP dan kegiatanku akhir-akhir ini adalah sesuatu yang menggelikan. Jadi, begini ceritanya. Percaya atau tidak, aku dulunya juga orang awam meski suka banget sama IPS. Aku benci politik. Setiap kali nonton ada politikus di DPR yang ricuh-ricuh gitu, aku selalu menatap ...

Spare Time

Jumat adalah waktu terluangku dalam seminggu ini. Jumat kemarin terutama. Setelah kuliah bahasa Indonesia, aku ikutan mengecat sekre, lalu pergi ke minimarket dengan motornya Faifda. Dengan motor? Yup. Aku diam-diam tanpa sepengetahuan Mama dan Papa nekat meminjam motor teman lalu meluncur ke jalanan Tembalang yang padatnya bukan main. Pertama kali melakukannya pas Pemira dulu, aku memamerkannya ke semua orang. Termasuk ke Mas Jadug yang tahu banget masalahku ini. "Mas Jadug," "Hm?" "Aku mau pamer," "Apa?" "Aku udah dua kali bawa motor sendiri tadi," Khasnya Mas Jadug, dia menepuk dadanya setelah aku mengatakan itu. "Akhirnya ya," katanya. "Emang kenapa, sih?" tanya Mbak Patria yang saat itu kebetulan sedang duduk di depannya. "Itu tuh kemajuan besar buat dia," jawab Mas Jadug. Saat meminjam motor itu, aku belajar banyak hal. Teknik parkir, mengeluarkan motor, menyeberan...

Barakallah wa Innalillah

(Tulisan ini kudedikasikan kepada Mas Ace Rahmat Rodia Jamsari, ketua Senat Mahasiswa FISIP Universitas Diponegoro terpilih periode berikutnya). Apa yang menjadikan seorang pemimpin itu hebat? Buatku, keteladanannya. Menjadikan seorang pemimpin itu memiliki ketegasan, kecepatan berpikir, dan lain sebagainya hanyalah masalah waktu bagiku. Mereka bisa berkembang seiring dengan banyaknya persoalan yang dihadapi dalam masa jabatan mereka. Namun, keteladanan adalah persoalan sendiri. Pemimpin tanpa keteladanan adalah seseorang yang paling tidak kuhormati. Mengapa? Akhlak, terutama, adalah persoalan yang paling sulit. Tanpa akhlak, bagaimana seorang pemimpin dinilai oleh bawahannya kelak? Bagaimana kelak dia bergaul dengan bawahan jika masalah mendasar ini saja tidak dia kuasai dengan baik?  Fungsi utama menjadi pemimpin, selain memberi regulasi, mengawasi, dan lain sebagainya itu, adalah menjadi teladan bagi orang lain. Pemimpin adalah cerminan dari keseluruhan yang dip...

Dear Anissa

Waktu-waktu ketika on the way pulang kuliah adalah waktu yang paling kusuka. Aku bisa memikirkan kejadian hari ini, berpikir besok harus apa, dan menatap langit, entah itu mendung maupun cerah. Ketika aku duduk di atas kendaraan, pikiranku benar-benar liar. Kubiarkan saja, selama itu tidak memikirkan hal yang aneh, termasuk di dalamnya adalah tentang percintaan. Baru kemarin aku ditelepon Mr. Izz, guru yang selalu jadi favoritku di masa SMA. Mr. Ajung mengundangku untuk datang ke Solo besok Sabtu untuk jadi motivator bagi adik-adik kelasku di SMA dan setiap universitas ada delegasinya. Itu kabar baik tentunya bagiku dan Mr. Izz.  "Aku kangeennn...banget, Sir," kataku di telepon. "Sama, saya juga kangen kamu," Sudah entah berapa bulan kami tidak saling komunikasi dan bertukar pikiran. Dulu di SMA aku dan Mr. Izz selalu sepaket. Kami biasa duduk di jam istirahat dan berdiskusi panjang lebar, entah itu tentang Tuhan, negara, agama, moralitas, dan lain se...

Catatan: PEMIRA 2016

Akhirnya Pemira tahun ini berakhir juga dengan kemenangan berada di kubu sebelah setelah calon mereka mendulang suara yang selisihnya sebenarnya sedikit dari kubu kami. Kalau ditanya apa tugas ini menyenangkan...entahlah. Bahasa Perancis kemungkinan aku mengulang karena terus-terusan absen. Namun, tidak ada pengalaman yang lebih mengesankan ketimbang ini, di mana aku bisa menangis di bawah tekanan dan tertawa ketika berhasil mengerjakan semuanya. Dua hari menjelang pemungutan suara, aku sudah ditekan dengan PKM-ku. Satya pergi dan dua lainnya sama sekali tidak kooperatif untuk tugas ini sehingga tidak bisa didelegasikan ke orang lain. Aku sedih, kesal, sekaligus marah, meski marahku tidak lebih menyeramkan daripada Mas Arif. Aku sedih karena mereka terlalu bergantung padaku untuk tugas ini. Aku kesal pada diriku sendiri yang sulit menolak orang lain, terutama seniorku. Aku marah karena ini sudah hampir melewati batasku. Sehari setelah pemungutan suara, aku kembali ditekan ...

Hello, November

Selamat pagi, November. Aku kesal karena banyak hal terjadi ketika aku tidak ada. Jadi, setelah hari-hari melelahkan di mana aku harus memperbaiki berkas, membuat surat perijinan (yang pas melobinya ke fakultas aku sampai memohon-mohon sekali, untung ada Mas Muslim), dan menulis berita acara yang berhubungan dengan Pemira FISIP, aku memutuskan untuk mengikuti kuliah lagi. Udah kayak lama banget nggak masuk kelas. Aku udah membolos beberapa mata kuliah satu-dua kali gara-gara Pemira, sebaiknya aku harus mengejar ketertinggalanku. Rabu kemarin mata kuliahnya politik. Wah, favoritku sekali. Sayangnya, kelasnya sepi dan kormatnya lagi ikutan International Relations Visit di Jakarta, jadi dosen menunjukku sebagai pencatat keaktifan kelas. Agaknya yang membuatku gemas sekaligus sebal adalah keaktifan di kelas entah mengapa berkurang, sehingga berkali-kali aku harus mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan dosen. Hari itu aku dan Alifa juga presentasi mengenai hubungan politik den...

Cokelat? Hm, Belum Tentu Ya!

Kalau mau tahu, hari ini sumpah aku BDMD a.k.a bad mood. Kacau mood-ku hari ini sejak pagi. Banyak hal yang terjadi, sih. Yang jelas, mood-ku dari pagi benar-benar jelek. Hancur-hancuran. Nyaris aja aku mau bolos mata kuliah politik, padahal itu favoritku.   Yah, tapi akhirnya berangkat juga aku. Haahh…baik, masa’ UKT udah tinggi tega-teganya kamu nggak kuliah, Nis? Duit ortumu terbuang percuma kalau kamu nggak kuliah, Nis! Banyak hal yang membuat mood-ku kacau. Jabatan baruku sebagai sekretaris EC Pemira FISIP yang brings high tension. Teman-temanku SMA yang kuliah di Undip yang menurutku anggapan mereka tentang politik semakin menyedihkan, maksudku bisa-bisanya mereka percaya sama orang yang nggak belajar politik sama sekali ketimbang aku yang dapat pengantarnya, dikasih tahu seperti apa, dan kuliahnya memang membahas politik, mungkin gara-gara aku masih maba juga kali ya anggapan mereka. Terus sama…pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu kupikirkan, tetapi...

Nightmare: Real and Dream

Hh...pagi ini lucu sekali. Aku terbangun lalu mengecek semua sosmedku. Hal itu sudah jadi kebiasaanku setiap pagi. Ketika pagi aku tersadar banyak hal yang sudah terjadi tadi malam dan baru kusadari ini semua akibat aku sudah teler setelah seharian menghadapi berkas. Jadi, apa yang terjadi adalah... Mas Arif marah kayaknya ke aku gara-gara aku chat tadi BPH rapat, padahal bukan rapat, hanya membahas sesuatu dan semua keputusan bersifat wacana. Aku kaget ketika sadar dan langsung chat minta maaf ketika berhenti latihan motor tadi. Hh...ini nih yang nggak aku suka dari begadang. Malam memang membuat pikiranku kalut, kesal, dan lain sebagainya. Aku benar-benar seperti orang mabuk tadi malam. Aku hanya ingat sedikit hal. Selain membuat Mas Arif marah, tadi malam aku meracau tidak jelas. Paginya, baru ngeh, "Ini kenapa aku tiduran di lantai?" Intinya, tadi malam aku menyampaikan segala sesuatu sesuai apa yang aku pikirkan , bukan apa yang mau aku sampaikan...

Rowosari, 14 Oktober 2016

Hah, stres. Jujur saja, ini semua salahku karena keenggananku membagi masalah dengan orang lain. Takut ember bocor, itu sebab utamanya. Masalah pertama, aku lagi naksir (ini masalah besar karena bisa mengganggu perkuliahan), masalah kedua, aku dilanda dilema politik (haha, apa banget bahasanya). Udah itu aja. Kedua masalah ini enggan aku bagikan karena masalah pertama udah nyaris aja jadi ember bocor ketika aku ceritakan kepada mantan orang terdekatku. Untung aku jago masalah 'berpura-pura tidak tahu' dan 'berpura-pura baik-baik saja'. Apa yang terjadi adalah mantan orang terdekatku itu malah dikira naksir orang yang sedang kutaksir. Haha, jackpot! Efek yang terjadi, ya, aku stres. Jujur aja, hari ini aku batal hadir di acara deklarasinya Mas Jadug dan Mas Aang sebagai calon ketua-wakil ketua BEM ya gara-gara ini. Aku lagi stres. Besok interview, besok ini, dan besok itu. Huft. Kayak kegiatanku itu nggak ada habisnya. Haha, aku sekarang paham kenapa Mas Jadug d...

Recently...

Capek banget. Makanya akhir-akhir ini aku males. Bikin rangkuman males, padahal harus dikirim. Belajar males, padahal lagi UTS. Kok aku rada banget ya? Mau lulus ga nih? Tidak banyak hal wow yang terjadi. Hanya...aku sedang senang saja. UTS yang nggak lancar hanya senam, di mana aku terpaksa mengulang. Aku menemukan banyak hal lagi, meski bukan hal yang menyenangkan sekali, setidaknya bisa dipelajari. Aku mulai tahu di mana kotornya politik dan merasakan ujian-ujian pertama memasuki 'parpol' kampus. Nggak menyenangkan karena aku berseberangan dengan teman-temanku sendiri yang notabene satu SMA, satu frekuensi dengan 'parpol' yang aku masuki, tetapi ternyata mereka ragu. Aku bukannya mengabaikan pandangan orang lain, tetapi pandangan orang lain itu justru buatku lebih mantap dengan apa yang aku lakoni sekarang. Sebelum aku masuk 'parpol'-ku sekarang, aku bertanya ke banyak orang sebelum akhirnya mantap dilantik. Jujur aja, itu sebabnya aku mulai jarang n...

Peran

Huft. Besok ujian bahasa Perancis. Aing mumet mikirinnya. Gimana nggak, Perancis itu tuuhh...tulisannya apa, bacanya apa. Mending-mending bahasa Jepang. Dua hari liburan, Sabtu-Minggu, kugunakan untuk sepenuhnya refreshing, lalu Minggu malam belajar bahasa Perancis. Aku menonton dokumenter reformasi, menulis artikel tentang PKI bareng Mr. Dimas, lalu tidur-tiduran. Aku tahu sepertinya ini liburan yang aku butuhkan. Aku membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa tanda-tanda kamu butuh liburan adalah saat bangun pagi menjadi siksaan tersendiri. Itu salah satunya. Ya, masalahnya akhir-akhir ini aku begitu. Bangun pagi berasa siksaan dunia akhirat. Berhubung aku nonton dokumenter reformasi, aku jadi bikin renungan untuk diriku sendiri. Aku ingat kuliah pengantar ilmu sosiologi yang menerangkan tentang teori peran. Bahwa setiap manusia memiliki seperangkat peran dalam hidupnya. Kusadari ada banyak peran yang kumainkan dalam hidup. Benar juga ya. Sebagai anak dari orangtuaku, ...

Menemukan Keluarga

Dewasa ini, aku mulai sering mencari tempat di mana pun yang kalau aku di sana, aku bisa merasakan feeling nyaman. Feel at home, sejenis itulah. Dulu, ABBS adalah keluarga kedua selama aku di Surakarta. Nyaman banget ngumpul bareng guru-guru dan teman-teman dulu itu.  Gimana dengan di universitas? Masih belum menemukan? Masih mencari? Aku bersyukur aku menemukannya lebih cepat daripada yang kuprediksi. Bahkan sebelum tengah semester. Sumpah aku bersyukur banget. Kumpul sama orang-orang itu, aku inget Allah. Kumpul sama orang-orang itu, aku inget dakwah. Fiuh. Di mana sih? That feeling aku dapatkan ketika resmi bergabung dengan Komisariat KAMMI FISIP Undip. Hari ini aku ikut rapat pertama dan feelingnya susah dijelaskan. Seneng pokoknya. Aku satu-satunya anggota komisariat dari angkatan 2016 (Mbak Bilbil bilang aku pelopornya, jiaahh...), tapi pas bareng mereka, aku langsung merasa udah lama banget barengnya. Tertawa. Aku nggak tahu udah lama kayaknya aku nggak ketawa s...

First Meeting of Rumah Pintar FISIP

Jumat kemarin aku punya cerita seru, lho! Jadi, Jumat malam kemarin adalah pertemuan pertama Rumah Pintar FISIP di Desa Rowosari. Desa ini memang sudah jadi desa binaannya FISIP. Rumah Pintar FISIP tempatnya gabung sama PAUD gitu dan bangunan itu berdiri di belakang rumahnya Bu Tutik, salah seorang warga desa di sana.  Hm, well...it is the most amazing story in life. Kalau Mr. Dimas cerita ngajar pertama beliau ke Papua, pelosok-pelosok gitu, kali ini aku juga ke pelosok. Aku, Mbak Devi, Mbak Bilbil, Mbak Risma, Syahri, dan Mbak Bela bareng-bareng berangkat rombongan gitu naik motor. Di jalan, kita shalawat bisa sampai dua kali. Pertama, pas kita lewat jalan sepi. Bayangin aja, udah jalan sepi nggak ada lampu. Ini kalo dibegal gimanaaa...ini. Ya Allah, aku masih terlalu mudaaaa....belum lulus sarjana juga, mana baru masuk, kalau mati sekarang kayaknya nggak lucu (halah). Kedua, pas lewatin jalanan rusak. Oke, jalanan rusak itu tuh bukan sekedar yang aspalnya berlubang. Ini...