Kalau
mau tahu, hari ini sumpah aku BDMD a.k.a bad mood. Kacau mood-ku hari ini sejak
pagi. Banyak hal yang terjadi, sih. Yang jelas, mood-ku dari pagi benar-benar
jelek. Hancur-hancuran. Nyaris aja aku mau bolos mata kuliah politik, padahal
itu favoritku.
Yah,
tapi akhirnya berangkat juga aku. Haahh…baik, masa’ UKT udah tinggi
tega-teganya kamu nggak kuliah, Nis? Duit ortumu terbuang percuma kalau kamu
nggak kuliah, Nis!
Banyak
hal yang membuat mood-ku kacau. Jabatan baruku sebagai sekretaris EC Pemira
FISIP yang brings high tension. Teman-temanku SMA yang kuliah di Undip yang
menurutku anggapan mereka tentang politik semakin menyedihkan, maksudku
bisa-bisanya mereka percaya sama orang yang nggak belajar politik sama sekali
ketimbang aku yang dapat pengantarnya, dikasih tahu seperti apa, dan kuliahnya
memang membahas politik, mungkin gara-gara aku masih maba juga kali ya anggapan
mereka. Terus sama…pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu
kupikirkan, tetapi sudah telanjur menancap kuat di kepala. Haahh…akhirnya kacau
mood-ku hari ini.
Bodohnya,
aku lupa hari ini pergantian dosen politik. Setelah tengah semester, dosen
matkul politik ganti dengan dosen yang anggapannya kakak tingkat itu killer dan aku sendiri ada trauma dengan
beliau. Ya, kebodohanku itu…aku datang terlambat. Kupikir habislah aku dimarahi
di depan teman-teman. Ternyata tidak. Masih dimaafkan ternyata. Aku bergegas
masuk dan menempati salah satu kursi.
Pelajaran
hari ini ternyata memulihkan mood-ku. Sungguh. Aku sedari tadi kan berpikir,
“Kenapa sih teman-temanku mikir politik kayak gini?”, “Mereka lucu banget sih,
kalau aja kakak-kakak tingkatku tahu mereka jadi bahan tertawaan doang,”, “Duh,
sumpah deh ya, kalau nggak tahu bisa nggak sih tanya aja ke yang lebih paham, Miss
Intan kek, Mr. Sam kek, Miss Nunung kek, beliau-beliau kan terjun di politik
kampus,” nah, pelajaran hari ini menjawab semua kegalauanku.
“Semua
orang pastinya berpikir macam-macam kan ketika jawaban kita, ‘Kami belajar
politik’? Politik itu kotor lah, politik itu brengsek lah, tapi sebenarnya
tidak. Politik sebenarnya baik, untuk merumuskan kepentingan bersama. Kalau
kata Aristoteles itu, politik adalah good
life,” kata beliau sebagai pembuka.
Uh,
aku setuju banget itu! Ha, mereka harus dengerin ini lain kali sebelum njeplak
masalah politik, apalagi politik kampus.
Apa
yang menjadikan aku gemes sama mereka hanya satu: mereka dididik dengan basis
yang sama denganku, mereka tahu tidak boleh memilih pemimpin non-muslim, mereka
tahu Islam juga berpolitik, lah kenapa giliran sudah tahu malah mereka
ragu-ragu masuk pergerakan? Lucu gitu, lho. Lucu karena yang antusias malah
teman-teman seangkatanku di HI. Lucu banget, mereka yang baru tahu politik
Islam itu apa malah lebih punya antusiasme tinggi ketimbang mereka yang udah
tahu. Malah lebih lucunya lagi, mereka nanyanya ke orang-orang yang nggak tahu
gimana jalannya organisasi pergerakan. Gemes gitu, lho. Ini sama aja kayak aku
nanya masalah pertanian ke anak FPIK atau nanya masalah kimia ke anak FH.
Ini
sebenarnya yang ingin kusampaikan sejak lama.
Kalian tahu kan, wajib bagi kita
seorang pemimpin muslim. Kalian tahu itu. Kalian lihat kenyataannya banyak
pemimpin non-muslim memang citranya dan kerjanya lebih bagus ketimbang kader
kita. Berarti kan solusinya hanya satu, kita harus menjadi kader pemimpin. Kita
harus menjadi solusi bagi umat. Kenapa kalian malah ragu, bahkan malah
cenderung menolak? Lucu soalnya karena kalian menuntut hasil kerja presiden
sekarang, tetapi sendirinya kalian tidak menyiapkan apa-apa saja bagi bangsa
kita di masa mendatang. Omong doang. Kalian mau dipimpin oleh pemimpin muslim
yang dikenal baik, pencitraannya bagus? Ya udah, satu-satunya jalan ya
berpolitik. Apa gunanya kalian berkoar-koar di sosmed belaka tanpa aksi nyata?
Tahu kenapa selama ini aku diam
aja? Soalnya aku heran sama kalian. Kalian hanya menuntut, tetapi aksi nyatanya
nggak ada. Kalian bahkan kalah dengan teman-temanku yang antusiasmenya tinggi
ikut organisasi pergerakan apa aja, nggak hanya pergerakan yang aku ikuti doang,
dengan satu semangat: kita ingin bangsa ini jadi lebih baik. Aku lelah selama
ini berpura-pura setuju dengan yang kalian katakan. Semua yang kalian paparkan,
tetapi nggak tahu informasinya jelas atau tidak, entah itu hoax atau provokasi.
Aku lelah berpura-pura bilang iya. Kali ini aku akan berdiri dengan jawabanku
sendiri. Aku tidak akan berpura-pura setuju dengan kalian lagi.
Khususnya, dengan masuknya aku ke
KAMMI, aku ingin menegaskan ke kalian: jangan koar-koar doang. Ayo aksi nyata!
Jadilah pemimpin di masa depan. Politik mencari kekuasaan? YA EMANG! Kalian bisa
ditertawakan kakak-kakak tingkatku di sini kalau tanya hal konyol seperti itu.
Pertanyaan kalian salah. Seharusnya bukan, “Kok politik nyari kekuasaan, sih?”,
akan tetapi, “Kekuasaan itu buat apa?”. Semua yang berpolitik mencari
kekuasaan, tetapi sekali lagi, untuk siapa kekuasaan itu? Segelintir golongan
atau rakyat? Menguntungkan beberapa aja atau untuk kemaslahatan umat? Itu yang
harusnya kalian tanyakan!
* * *
Mata
kuliah politik kali ini seru sekali. Sesekali aku terhanyut dengan
suasana-suasana yang ada, ikut diskusi, dan bertanya. Aku baru tahu shadow state itu bukan khayalan Tere-Liye
doang dalam novel ‘Pulang’, itu benar-benar terjadi di Indonesia. Aku baru tahu
kondisi Indonesia sebenarnya bagaimana, carut-marutnya, kecacatan demokrasinya,
dan lain sebagainya.
Ah,
bad mood-ku sembuh. Tumben kali ini nggak butuh cokelat untuk menyembuhkan bad
mood.
Dosen
(yang katanya killer itu) akhirnya menepuk bahuku usai kuliah berakhir.
“Anissa
ya? Dulu sekolahnya di mana?” tanya beliau.
“SMA
Al Abidin. Al Abidin Bilingual Boarding School Surakarta,”
Beliau
tampak bingung.
“Ah,
itu sekolah baru,” lanjutku. “Saya angkatan pertama,”
“Bahasa
Inggris-mu pasti bagus, kan?”
“Alhamdulillah,”
“Berapa
TOEFL-mu?”
“533,”
“Wah,
bagus. Bagus, deh,”
Yah, setidaknya sih, ini meluruhkan image beliau yang katanya killer. Kuliah pertama dari beliau malah meruntuhkan semua bad mood-ku hari ini. Well, satu lagi. Alhamdulillah aku dapat kesan pertama yang baik meski sempat terlambat, hahaha.
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar