Capek banget. Makanya akhir-akhir ini aku males. Bikin rangkuman males, padahal harus dikirim. Belajar males, padahal lagi UTS. Kok aku rada banget ya? Mau lulus ga nih?
Tidak banyak hal wow yang terjadi. Hanya...aku sedang senang saja. UTS yang nggak lancar hanya senam, di mana aku terpaksa mengulang. Aku menemukan banyak hal lagi, meski bukan hal yang menyenangkan sekali, setidaknya bisa dipelajari.
Aku mulai tahu di mana kotornya politik dan merasakan ujian-ujian pertama memasuki 'parpol' kampus. Nggak menyenangkan karena aku berseberangan dengan teman-temanku sendiri yang notabene satu SMA, satu frekuensi dengan 'parpol' yang aku masuki, tetapi ternyata mereka ragu. Aku bukannya mengabaikan pandangan orang lain, tetapi pandangan orang lain itu justru buatku lebih mantap dengan apa yang aku lakoni sekarang. Sebelum aku masuk 'parpol'-ku sekarang, aku bertanya ke banyak orang sebelum akhirnya mantap dilantik. Jujur aja, itu sebabnya aku mulai jarang ngobrol di WA dengan teman-teman seangkatan. Aku nggak nyaman, sumpah. Aku nggak nyaman harus ngobrolin 'parpol'-ku sekarang. Bukan aku menyesalinya, justru karena mereka lebih banyak memandang negatif dan aku merasa nggak nyaman karena hampir aja stigma itu ada di diriku, lebih baik menghindarinya sekarang juga.
Kenapa aku bahkan harus berseberangan dengan teman-temanku sendiri? Inilah yang membuatku banyak berpikir.
Itu baru satu. Lebih parah, kemarin ada orang sembarang lempar isu tentang 'parpol'-ku dan tersebar di grup angkatan HI 2016. Aku yang baru aja memasuki dunia politik kampus mengonfirmasi isu itu. Sisi positifnya, mulai ada simpatisan.
Yah, itu akhir-akhir ini sih.
Hari ini penilaian renang. Alhamdulillah lulus, tinggal senam aja yang ngulang, haha. So, setelah penilaian, aku ke kampus rapat bareng atase muda DKA. Kami membahas rencana diskusi mingguan dan ngobrol hal-hal biasa.
Uniknya, ada temanku yang baru belajar filsafat Islam. Aku sendiri dulu sudah pernah mencicipi sedikit sufisme dan filsafat ketuhanan ketika diskusi dengan Mr. Izz. Tentang ma'rifat. Tentang Tuhan.
"Aku masuk KAMMI," kisahku ketika topik sudah mulai menjurus perpolitikan kampus. "Kamu?"
"Aku di HMI,"
"Oh ya?"
"Tahu Mas Ajie, kan? Aku debat filsafat sama dia dan aku kalah," kisahnya. "Dia pakai filsafat Islam, makanya aku mulai belajar juga dan tertarik masuk HMI,"
"Wow," Aku kagum. "Rumi dan Al Jili, seperti itu kan? Tentang Tuhan juga,"
"Coba deh, Nis, aku tanya. Menurutmu lebih kuat mana, hukum alam atau hukum Tuhan?"
"Hukum Tuhan,"
"Kalau semut kita pencet gitu langsung mati?"
"Kita nggak bisa memastikan, kan?"
"Kalau langsung dipencet?"
"Iya sih,"
"Nah, berarti kuat hukum alam, kan?"
"Tapi aku masih percaya hukum Tuhan," Aku terkekeh. "Karena sampai sekarang pun tidak ada teori yang bisa menjelaskan tentang kebetulan. Semisal, seperti tadi pas di GOR, aku pulang jalan kaki, tiba-tiba ketemu Fauzan yang nawarin aku tebengan. Kebetulan, kan? Hukum Tuhan itu,"
"Pertanyaanku tadi kan tentang semut,"
Aku, Adrian, dan Dimas terkekeh geli.
"Sekarang Adrian, nih. Adrian, mana Adrian?"
"Aku, kan?" tanya bingung.
"Kalau aku tunjuk tanganmu, itu tangan Adrian, kan?"
"Iya,"
"Nah, tapi di mana Adrian?"
Kami tertawa.
"Ada yang bilang, kalau kita ingin mengenal Tuhan, kita harus melepas ke-aku-an. Mengenal diri kita lebih dalam. Ketika kita sudah tahu siapa diri kita, kita akan lebih dekat dengan Tuhan," kata temanku itu.
"Makanya ada pepatah, 'Siapa mengenal dirinya, dia mengenal tuhannya'," tambahku.
"Iya,"
"Mengenal tuhannya? Berarti jadi syarat beriman gitu?" tanya Dimas.
"Ya, nggak, Dim. Serem amat. Aku aja belum mengenal diriku dengan baik," Aku tertawa.
"Maksudnya cuma kalau kita semakin mengenal diri kita, kita akan semakin dekat dengan Tuhan. Ma'rifat gitu,"
Ini menyenangkan. Sudah lama aku tidak membahas filsafat Islam dan Tuhan selain kalau sedang bareng Mr. Izz.
"Aku dulu belajar filsafat Barat di SMA. Gara-gara itu aku sempat agnostik dan atheis selama 2-3 bulan. Sama sekali aku nggak salat," kisah temanku itu.
"Nggak ketahuan ortumu, tuh?" tanya Adrian.
"Ya kalau ditanyain tinggal bilang aja, 'Udah', gitu," jawabnya.
Dia melanjutkan kisah hidupnya yang amat menarik.
"Pas udah mau seleksi universitas gitu, di SMA kayak bentuk komunitas gitu, belajar bareng. Aku yang ngajarin mereka sosiologi, geografi, gitu-gitu. Lucunya, mereka lolos seleksi aku nggak. Aku coba daftar di mana-mana nggak keterima, hampir aja daftar Unissula ketika akhirnya aku diumumin lolos HI Undip," kisahnya. "Haha, soalnya setelah kayak gitu kejadiannya baru deh aku taubat,"
Aku tertawa geli. "Tuh kan, hukum Tuhan lebih berkuasa ketimbang hukum alam,"
"Di situ aku belajar satu hal, belajar filsafat harus ada pegangannya. Aku masih baca kok filsafat-filsafat Barat, tapi aku juga mulai belajar filsafat Islam,"
Aku sendiri angguk-angguk dalam hati saja mendengar penjelasannya. Aku tahu dalam Islam sendiri ilmu filsafat masih di area abu-abu. Sebagian ulama' menghukuminya haram, sebagian menetapkan kehalalannya untuk dipelajari dan dikaji sebaga bagian dari bidang ilmu. Aku? Aku sih masih memilih yang halal. Aku suka filsafat.
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar