Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

A Piece Story: Good Bye, Grandpa...

Alhamdulillah 'ala kulli hal, hari ini masih bisa bangun pagi meski semalam tidur jam dua belas. Sama sekali nggak ngantuk, segar bugar. Setelah salat Subuh pagi ini di rumah aku lanjut tilawah Surah Al Kahfi (kan ini hari Jumat), lalu buka laptop lagi. Malam lalu aku sibuk mendengarkan banyak orang bicara. Tamu-tamu berdatangan, menyalami kami sekeluarga, lalu duduk, dan nanti Papa Mama menceritakan bagaimana Eyang Kakung di saat-saat terakhirnya, selalu begitu. Namun setidaknya hal yang kusyukuri adalah, insya Allah, beliau pergi dalam keadaan baik. Saat-saat terakhir Eyang, kata Papa Mama, dihabiskan dengan berzikir dan bertalqin. Penyakit kankernya padahal semakin berat, sampai kaki dan tangannya lumpuh dan mati rasa.  Cerita itu setidaknya membuatku lega. Aku terus-terusan memikirkan keadaan rumah meski di sekolah aku tampak riang gembira.  Malam itu cerita itu terulang setidaknya sepuluh kali seiring datangnya tamu-tamu yang mengucapkan bela sungkawa atas me...

Kepompong Hutan

Entertain myself...   Akhir-akhir ini aku sedang rajin mengunjungi salah satu personal blog. Hiburan tersendiri. Aku kenal siapa yang menulis, lucu banget pas orangnya mencak-mencak begitu tahu aku sering baca dan akhir-akhir ini aku baca sampai ke akar-akarnya. Sampai ke artikel paling lawas. Aku membacanya sendirian, lewat ponselku yang hampir...argh, gitu deh, tapi yang jelas aku ketawa ngakak. Aku memang suka menulis dan kalau ada yang menyodorkanku tulisannya, entah di blog atau di laptop, aku akan selalu membacanya dengan senang hati. Begitu terus sampai akhirnya aku berkenalan dengan salah seorang penulis juga. Ya, penulis yang blognya lagi sering aku kunjungi. Penulis itu sering menyodorkan tulisannya padaku, mulai dari essay sampai artikel pendek, dan kuakui aku suka gaya menulisnya yang lepas, meski terlalu detail sih.  Keren, batinku. Aku tidak terlalu yakin cerita hidupku di masa lalu akan kubagikan juga. Entahlah. Soalnya masa jahiliyahku itu rum...

ABG Anti Galau

"Hayooo....mbak lagi galauin siapa?" Sesaat aku masih teringat celotehan adik-adik kelasku tadi. Bukan, bukan karena keusilan mereka. Aku menggaris bawahi kata galaunya. Aku? Galauin orang?  Emang siapa yang lagi aku galauin , batinku geli. Hey, aku single yang bahagia! Single yang bakalan taken kalau nanti udah ijab sah (ciee...). Lagipula masih ada banyak hal penting yang harus kupikirkan daripada si Jo a.k.a. Jodoh (ini bahasan populer di kalangan anak kelas XII, mana bab terakhir PAI nanti tentang pernikahan). Project menulisku dengan Mr. Dimas misalnya atau persiapanku kuliah ke luar negeri.  Berarti...nggak lagi jatuh cinta gitu? Gimana ya, aduh. Namanya juga remaja, pasti bisa dengan mudah jatuh cinta. Namun aku sayangnya kesibukanku menumpuk, jadi mana sempat aku memikirkan. Benar kata Mama, kesibukan yang padat bisa mengurangi rasa "rindu tak sah" (iyaa...belum jadi siapa-siapanya kok udah kangen-kangenan) ketika jatuh cinta. Aku terlal...

Turning Points

Setiap orang pasti punya turning point masing-masing dan aku pun juga begitu, meski bodohnya terkadang aku masih saja jatuh ke tempat yang sama (aduh...malu nggak, sih?), tapi mereka nggak capek-capeknya membantuku berdiri. Ada beberapa perubahan mencolok setelah hijrah dari Ungaran ke Solo. Aku dari awal menyadari bahwa tanpa kehadiran Mama dan Papa akan sulit buatku jika tak ada yang mengarahkan. That's why aku dekat dengan guru-guru, sesekali curhat sama mereka karena...well, mereka pernah muda, kan? (Waks, bukan berarti aku nganggep Miss dan Mister-nya udah tuaaa...maafin Antania yaa...) Kebanyakan dari mereka adalah turning point buatku dan yang membekas ada tiga orang. Pertama Mrs. Dee, kedua Mr. Izz, ketiga Mr. Dimas. Mrs. Dee buatku berarti banyak dan I'll always miss her very much. Aku sering main ke kantor kepsek saat beliau masih menjabat dan well, buatku beliaulah yang membuat kesan kantor kepsek jadi lebih baik di mataku, soalnya tempat itu horor buat...

I Am WONDERING Where Were You?

But I wonder where were you? When I was at my worse down on my knee And you said, "You'll have my back." But I wonder where were you? All the roads you took came back to me Benar. Selama ini kamu di mana? Harusnya aku tahu dari awal bahwa ini akan segera berakhir. Menyebalkan memang, tapi kali ini aku akan dengan sangat rela hati akan mengakhirinya. Kita bukan best friend . Kita bukan rival . Kamu bukan siapa-siapa lagi bagiku. Ya, bukan siapa-siapa lagi. Jadi asumsiku adalah...aku tak lagi mengenalmu. Aku lupa siapa kamu. Aku lupa kita pernah ngapain aja. Kamu yang sekarang bukan kamu yang dulu. Sudah berbeda. Sia-sia aku selama ini menasihatimu. Sungguh sia-sia... Sekarang aku akan memilih jalanku sendiri. Kau juga, pilih jalanmu sendiri. Aku sudah muak terus berharap kau akan insaf dan kembali ke jalan yang benar. Muak. Benar-benar muak. Aku membenci kenyataan ini, tapi inilah yang terjadi.  Selamat tinggal, anak kelahiran 12 Febru...