Langsung ke konten utama

ABG Anti Galau

"Hayooo....mbak lagi galauin siapa?"

Sesaat aku masih teringat celotehan adik-adik kelasku tadi. Bukan, bukan karena keusilan mereka. Aku menggaris bawahi kata galaunya. Aku? Galauin orang? 

Emang siapa yang lagi aku galauin, batinku geli.

Hey, aku single yang bahagia! Single yang bakalan taken kalau nanti udah ijab sah (ciee...). Lagipula masih ada banyak hal penting yang harus kupikirkan daripada si Jo a.k.a. Jodoh (ini bahasan populer di kalangan anak kelas XII, mana bab terakhir PAI nanti tentang pernikahan). Project menulisku dengan Mr. Dimas misalnya atau persiapanku kuliah ke luar negeri. 

Berarti...nggak lagi jatuh cinta gitu?

Gimana ya, aduh. Namanya juga remaja, pasti bisa dengan mudah jatuh cinta. Namun aku sayangnya kesibukanku menumpuk, jadi mana sempat aku memikirkan. Benar kata Mama, kesibukan yang padat bisa mengurangi rasa "rindu tak sah" (iyaa...belum jadi siapa-siapanya kok udah kangen-kangenan) ketika jatuh cinta. Aku terlalu sibuk.
 
Adik-adik kelasku kebanyakan anak-anak hitz. Ada yang udah taken sebelum sah dan lain-lain. Aku hanya geleng-geleng aja sih kalau diceritain teman-teman di boarding betapa mereka "bergerilya" melawan peraturan sekolah yang melarang keras pacaran. Well, pingin suatu saat mereka ngerasain skorsing juga, jujur aja. Biar mereka dibina. Lagian...apa enaknya pacaran? Hanya sekedar umbar kata mesra, kangen-kangenan, ngabisin uang buat orang lain (ini mah buatku ogah banget!), dan lain sebagainya. Enakan jadi single, uang dipakai sendiri, bebas ke sana-sini.
 
Aku bukan tipe cewek yang ribet banget masalah penampilan. Perawatan aja jarang. Kalau pulang siang, aku bukannya perawatan, tapi pastinya masih di sekolah. Kalau ditanya alasannya apa, aku selalu bilang, "Aku nggak suka pulang awal. Emang ntar mau ngapain di boarding?"
 
Kadang aku terbayang melihat diriku suatu hari nanti menjadi workaholic. Sibuk kerja terus-terusan. Eh, nggak deh, nggak jadi. Nanti aku nggak punya waktu untuk jalan-jalan ke museum atau tempat wisata lain atau bahkan sekadar memandang langit biru, kebiasaanku yang tumbuh sejak aku di SMA.
 
Aku teringat ketika datang ke reuni SMP dan bilang statusku masih single. Banyak sih yang pastinya...well, membatin, 'Iya, emang dari dulu dia nggak laku-laku,' tapi aku santai saja. Hey, dengar ya, aku tidak mau jadi "barang bekas".
 
 
 
 
 
Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...