Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Faifda

Ada satu orang lagi yang membuatku selalu berpikir, "Ah, syukurlah aku bertemu dengannya,". Faifda Fatmawati Sholekhah. Jurusan D3 Manajemen Pemasaran. Sama seperti teman-temanku sebelumnya, dia tipikal orang yang bakalan sering dipanggil ukhti. Tidak, itu secara penampilan saja. Namun, isi kepalanya berbeda. Dia cerdas, seribu kali pun dia mengelak kalau dibilang begitu, aku akan tetap bilang dia cerdas. Kenyataannya begitu, kok. Ada sensasi yang tidak pernah kurasakan sebelumnya ketika sedang bersamanya. Pertama kalinya aku ingin meluangkan waktu di tengah kesibukanku untuk mengobrol dengan seseorang adalah ketika mengenal Faifda. Usai tugas, kuliah, organisasi, dan lainnya, ada beberapa waktu di mana tiba-tiba terpikir, "Ah, Faifda luang nggak ya? Aku ingin makan dan ngobrol,". Kenapa makan dan ngobrol? Waktu makan ketika duduk satu meja, orang akan cenderung cerita semua yang dialaminya. Orang cenderung lebih terbuka ketika duduk di meja makan denga...

Matahari

Aku baru saja menonton psychological drama dan ada sebuah kutipan yang menarik bagiku. Bunyinya begini, "Setiap manusia memiliki mataharinya masing-masing dan dia tumbuh mengikuti arah cahaya matahari tersebut,". Aku setuju. Kalau kuingat-ingat, selama ini aku sudah mendengar banyak hal yang dikatakan orang-orang tentangku dan kurang lebih itu sama. Aneh. Kalau tidak, mereka akan bilang aku berbeda. Sampai di titik ketika lama hidupku mencapai batang bertuliskan SMA, aku selalu mendengarnya. Entah mengapa, itulah yang membuatku bertanya-tanya. Apa bedanya aku dari semua orang? Apa aku melakukan hal yang tidak biasa? Mengapa bisa begitu? Siapa aku? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul bagai kereta api. Namun, ada satu orang yang berbeda. Satu orang. Eventually not my parents, but I respect him as if he was them . Orang itu untuk pertama kalinya tidak memandang apa yang jadi kesukaanku dengan tawa. Untuk pertama kalinya aku merasa bisa memercayai seseorang sepenuhnya ...

Sebuah Jawaban

"Aku kecewa sama kamu,". Naruhodo. Wakatta. Karena aku akan terus mencecar itu selama pemikiran-pemikiran tersebut masih ada. Selama aku masih ada. Selama aku masih bernyawa. Karena agama dan negara bukan mainan kalian. Karena selama aku masih bernyawa, sampai pemikiran tersebut punah, aku akan tetap mencecarnya.

Tentang Sebuah Kotak

Kau tahu bagaimana perasaan seekor burung ketika kembali ke habitatnya setelah sekian lama berada di sangkar? Dia bebas, terus mengepakkan sayapnya, dan melayang ke udara.  Itu juga perasaanku sekarang. Dua tahun aku menahan diri tidak bicara, setelah akhirnya terbebas, kemerdekaanku kembali. Cita-citaku seakan tergambar jelas di angan. Zutto, zutto, zutto , aku memanfaatkan kebebasanku berpendapat. Lega. Bertemu dengan teman-teman baru adalah sebuah kesyukuran yang tiada tara bagiku setelah sekian lama melihat satu lingkungan saja. Aku tersenyum mendapati bahwa warna yang kulihat benar-benar abstrak, berbeda satu sama lain, saling berbenturan, tetapi membaur juga pada akhirnya. Ada yang marxist, sekuler, agamis, nasionalis, dan lain sebagainya. Aku lega sekali melihatnya. Aku tahu dan pernah menyatakan bahwa jika kita terkotakkan, maka bukalah kotaknya, bukan menghilangkannya. Namun, dalam suatu kasus, ada saatnya di mana kita benar-benar terpaksa menghilangkan kotak ...

Kepada Pegiat Sosial Humaniora

Teruntuk remaja seusiaku yang memilih ilmu paling dinamis. Manusia itu objek penelitian yang lebih unik, itulah yang selalu jadi alasan mendasar mengapa aku memilih menggeluti IPS ketimbang IPA. Daripada sesuatu yang pasti, aku lebih condong untuk menyukai sesuatu yang bisa memiliki beragam jawaban dari satu pertanyaan saja. Alam mudah ditebak dan aku selalu salah tebak dalam memahami alam. Manusia dan tingkah lakunya lebih menarik bagiku. Terkadang, aku mengamati teman-temanku sebagai objek persoalan yang harus dipecahkan jawabannya. Itu menyenangkan. Ya, sebab dengan meneliti manusia sebagai objek, kita akan menemukan berbagai jawaban dari beragam sudut pandang. Kita diajar untuk berpikir terbuka. Tidak selamanya satu ditambah satu sama dengan dua dalam sudut pandang IPS. Bisa jadi jawabannya tiga, empat, lima, dan seterusnya. Seru, bukan? Manusia bukanlah alam raya yang bisa diprediksi kejadian-kejadiannya. Dengan akalnya, manusia bisa menciptakan lingkungan sosial baru yan...