Aku baru saja menonton psychological drama dan ada sebuah kutipan yang menarik bagiku. Bunyinya begini, "Setiap manusia memiliki mataharinya masing-masing dan dia tumbuh mengikuti arah cahaya matahari tersebut,".
Aku setuju.
Kalau kuingat-ingat, selama ini aku sudah mendengar banyak hal yang dikatakan orang-orang tentangku dan kurang lebih itu sama. Aneh. Kalau tidak, mereka akan bilang aku berbeda. Sampai di titik ketika lama hidupku mencapai batang bertuliskan SMA, aku selalu mendengarnya. Entah mengapa, itulah yang membuatku bertanya-tanya. Apa bedanya aku dari semua orang? Apa aku melakukan hal yang tidak biasa? Mengapa bisa begitu? Siapa aku? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul bagai kereta api.
Namun, ada satu orang yang berbeda. Satu orang. Eventually not my parents, but I respect him as if he was them. Orang itu untuk pertama kalinya tidak memandang apa yang jadi kesukaanku dengan tawa. Untuk pertama kalinya aku merasa bisa memercayai seseorang sepenuhnya untuk semua tentang diriku, masalahku, perasaanku, dan lain sebagainya. Orang itu bukan hanya mengajariku, tetapi juga mendidik dan mengarahkanku. Sesekali, orang itu secara tidak langsung membuatku menahan diri ingin cerita tentang masalahku, agar aku bisa menunjukkan kepadanya bahwa hal ini bisa kupecahkan sendiri. Orang itu tidak memaksaku untuk mengambil pilihan ini dan itu untuk masa depanku dan menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepadaku. "Kamu yang lebih tahu apa yang baik buatmu," begitu katanya. Orang itu membiarkanku marah dengan santainya untuk kemudian mengarahkan kemarahanku kepada titik jemunya sendiri. Dan, ketika suatu hari aku marah, orang itu tahu apa yang harus kudengarkan, lalu menyampaikannya dengan bijaksana.
Yang terpenting, orang itu hanya mendeskripsikanku dengan satu kata yang berbeda dari semua orang yang kutemui.
Orang itu adalah matahariku.
Orang itu adalah cahaya yang aku ikuti sekarang. Sebuah cahaya yang begitu terang, yang bagiku adalah suatu keajaiban saat akhirnya aku menemukannya. Seperti Archimedes yang berteriak, "Eureka!" sambil berlarian di jalan, aku juga ingin melakukannya. Eureka, aku menemukannya. Aku menemukan cahayaku!
Berapa kali pun aku memikirkannya, rasa hormat, terima kasih, dan kasih itu tidak berubah. Meski terpisah oleh jarak. Meski terpisah oleh kesibukan. Entah seberapa jauh itu, aku merasa bahwa matahari itu terus bersinar selama ajaran-ajarannya kuterapkan.
Ah, hanya sedikit kenang-kenangan yang kumiliki dengan orang itu. Hanya foto. Orang itu tidak pernah membalas suratku karena tidak suka menulis. Orang itu lebih suka terang-terangan bicara kepadaku. Entah mengapa, meski pertemuan itu amat singkat, tetapi semua yang kami lakukan meninggalkan bekas kuat di ingatan. Semua pembicaraan kami, candaan kami, pertanyaan-pertanyaan kami, ah, rasanya seakan kemarin semua itu terjadi.
Bagiku, orang itu benar-benar penting. Saking pentingnya, aku ingin dia hadir dalam pernikahanku dan kelahiran putra-putriku kelak sebagaimana dahulu aku selalu memintanya datang dan menontonku tampil di panggung. Ah, saat itu ketika dia datang dan menontonku tampil, aku merasa seakan-akan orangtuaku yang ada di sana sehingga rasanya perfeksionis di panggung itu harus buatku. Agar dia tersenyum saat melihatku.
Sungguh, aku benar-benar berterima kasih kepadanya. Seandainya dia tidak pernah mendengarkan ceritaku untuk pertama kalinya, diriku ini rasanya bukan diriku yang sekarang. Masa depanku pasti akan berbeda. Orang itu berjasa besar menunjukkan jalan yang kutempuh sekarang.
Terima kasih, karena selalu mendengarkan apa yang membuatku marah dan kesal.
Terima kasih, karena selalu menyemangatiku untuk setiap keputusan yang kubuat.
Terima kasih, karena selalu menjatuhkanku agar aku bangkit kembali.
Terima kasih, karena selalu percaya kepadaku.
Terima kasih, karena tidak pernah mengatakan bahwa aku aneh.
Terima kasih, karena selalu peka ketika masalah-masalah menerpaku satu per satu.
Terima kasih, karena selalu tahu apa yang kubutuhkan dan kuinginkan.
Terima kasih, karena Anda telah memilih untuk berbeda dari orang lain dalam menghadapiku.
Terima kasih, untuk semuanya.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar