Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

Spare Time

Jumat adalah waktu terluangku dalam seminggu ini. Jumat kemarin terutama. Setelah kuliah bahasa Indonesia, aku ikutan mengecat sekre, lalu pergi ke minimarket dengan motornya Faifda. Dengan motor? Yup. Aku diam-diam tanpa sepengetahuan Mama dan Papa nekat meminjam motor teman lalu meluncur ke jalanan Tembalang yang padatnya bukan main. Pertama kali melakukannya pas Pemira dulu, aku memamerkannya ke semua orang. Termasuk ke Mas Jadug yang tahu banget masalahku ini. "Mas Jadug," "Hm?" "Aku mau pamer," "Apa?" "Aku udah dua kali bawa motor sendiri tadi," Khasnya Mas Jadug, dia menepuk dadanya setelah aku mengatakan itu. "Akhirnya ya," katanya. "Emang kenapa, sih?" tanya Mbak Patria yang saat itu kebetulan sedang duduk di depannya. "Itu tuh kemajuan besar buat dia," jawab Mas Jadug. Saat meminjam motor itu, aku belajar banyak hal. Teknik parkir, mengeluarkan motor, menyeberan...

Barakallah wa Innalillah

(Tulisan ini kudedikasikan kepada Mas Ace Rahmat Rodia Jamsari, ketua Senat Mahasiswa FISIP Universitas Diponegoro terpilih periode berikutnya). Apa yang menjadikan seorang pemimpin itu hebat? Buatku, keteladanannya. Menjadikan seorang pemimpin itu memiliki ketegasan, kecepatan berpikir, dan lain sebagainya hanyalah masalah waktu bagiku. Mereka bisa berkembang seiring dengan banyaknya persoalan yang dihadapi dalam masa jabatan mereka. Namun, keteladanan adalah persoalan sendiri. Pemimpin tanpa keteladanan adalah seseorang yang paling tidak kuhormati. Mengapa? Akhlak, terutama, adalah persoalan yang paling sulit. Tanpa akhlak, bagaimana seorang pemimpin dinilai oleh bawahannya kelak? Bagaimana kelak dia bergaul dengan bawahan jika masalah mendasar ini saja tidak dia kuasai dengan baik?  Fungsi utama menjadi pemimpin, selain memberi regulasi, mengawasi, dan lain sebagainya itu, adalah menjadi teladan bagi orang lain. Pemimpin adalah cerminan dari keseluruhan yang dip...

Dear Anissa

Waktu-waktu ketika on the way pulang kuliah adalah waktu yang paling kusuka. Aku bisa memikirkan kejadian hari ini, berpikir besok harus apa, dan menatap langit, entah itu mendung maupun cerah. Ketika aku duduk di atas kendaraan, pikiranku benar-benar liar. Kubiarkan saja, selama itu tidak memikirkan hal yang aneh, termasuk di dalamnya adalah tentang percintaan. Baru kemarin aku ditelepon Mr. Izz, guru yang selalu jadi favoritku di masa SMA. Mr. Ajung mengundangku untuk datang ke Solo besok Sabtu untuk jadi motivator bagi adik-adik kelasku di SMA dan setiap universitas ada delegasinya. Itu kabar baik tentunya bagiku dan Mr. Izz.  "Aku kangeennn...banget, Sir," kataku di telepon. "Sama, saya juga kangen kamu," Sudah entah berapa bulan kami tidak saling komunikasi dan bertukar pikiran. Dulu di SMA aku dan Mr. Izz selalu sepaket. Kami biasa duduk di jam istirahat dan berdiskusi panjang lebar, entah itu tentang Tuhan, negara, agama, moralitas, dan lain se...

Catatan: PEMIRA 2016

Akhirnya Pemira tahun ini berakhir juga dengan kemenangan berada di kubu sebelah setelah calon mereka mendulang suara yang selisihnya sebenarnya sedikit dari kubu kami. Kalau ditanya apa tugas ini menyenangkan...entahlah. Bahasa Perancis kemungkinan aku mengulang karena terus-terusan absen. Namun, tidak ada pengalaman yang lebih mengesankan ketimbang ini, di mana aku bisa menangis di bawah tekanan dan tertawa ketika berhasil mengerjakan semuanya. Dua hari menjelang pemungutan suara, aku sudah ditekan dengan PKM-ku. Satya pergi dan dua lainnya sama sekali tidak kooperatif untuk tugas ini sehingga tidak bisa didelegasikan ke orang lain. Aku sedih, kesal, sekaligus marah, meski marahku tidak lebih menyeramkan daripada Mas Arif. Aku sedih karena mereka terlalu bergantung padaku untuk tugas ini. Aku kesal pada diriku sendiri yang sulit menolak orang lain, terutama seniorku. Aku marah karena ini sudah hampir melewati batasku. Sehari setelah pemungutan suara, aku kembali ditekan ...

Hello, November

Selamat pagi, November. Aku kesal karena banyak hal terjadi ketika aku tidak ada. Jadi, setelah hari-hari melelahkan di mana aku harus memperbaiki berkas, membuat surat perijinan (yang pas melobinya ke fakultas aku sampai memohon-mohon sekali, untung ada Mas Muslim), dan menulis berita acara yang berhubungan dengan Pemira FISIP, aku memutuskan untuk mengikuti kuliah lagi. Udah kayak lama banget nggak masuk kelas. Aku udah membolos beberapa mata kuliah satu-dua kali gara-gara Pemira, sebaiknya aku harus mengejar ketertinggalanku. Rabu kemarin mata kuliahnya politik. Wah, favoritku sekali. Sayangnya, kelasnya sepi dan kormatnya lagi ikutan International Relations Visit di Jakarta, jadi dosen menunjukku sebagai pencatat keaktifan kelas. Agaknya yang membuatku gemas sekaligus sebal adalah keaktifan di kelas entah mengapa berkurang, sehingga berkali-kali aku harus mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan dosen. Hari itu aku dan Alifa juga presentasi mengenai hubungan politik den...