Langsung ke konten utama

Barakallah wa Innalillah

(Tulisan ini kudedikasikan kepada Mas Ace Rahmat Rodia Jamsari, ketua Senat Mahasiswa FISIP Universitas Diponegoro terpilih periode berikutnya).

Apa yang menjadikan seorang pemimpin itu hebat? Buatku, keteladanannya. Menjadikan seorang pemimpin itu memiliki ketegasan, kecepatan berpikir, dan lain sebagainya hanyalah masalah waktu bagiku. Mereka bisa berkembang seiring dengan banyaknya persoalan yang dihadapi dalam masa jabatan mereka. Namun, keteladanan adalah persoalan sendiri. Pemimpin tanpa keteladanan adalah seseorang yang paling tidak kuhormati.

Mengapa?

Akhlak, terutama, adalah persoalan yang paling sulit. Tanpa akhlak, bagaimana seorang pemimpin dinilai oleh bawahannya kelak? Bagaimana kelak dia bergaul dengan bawahan jika masalah mendasar ini saja tidak dia kuasai dengan baik? 

Fungsi utama menjadi pemimpin, selain memberi regulasi, mengawasi, dan lain sebagainya itu, adalah menjadi teladan bagi orang lain. Pemimpin adalah cerminan dari keseluruhan yang dipimpin. Jika gagal menjadi teladan, maka fungsi-fungsi utama yang lain bisa dianggap gagal juga. Bagaimana bisa seseorang memimpin tanpa mengetahui fiqih pemerintahan yang baik? Bukankah pemimpin itu ditunjuk dari seseorang yang terbaik di antara yang terbaik?

Akhlak lagi-lagi adalah yang utama. Kita semua tahu kelak pemimpin diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Jika bawahan-bawahannya berbuat dosa karena mencontoh pemimpin mereka, bagaimana kelak pemimpin itu menjawab pertanyaan Allah? Sepatutnya rasa malu ada ketika kita tak mampu memberikan teladan yang baik bagi mereka yang belum mengetahui ilmunya. Malu, karena kita sebenarnya sudah tahu, tetapi sikap dan keteladanan kita tak ubahnya seperti mereka yang belum tahu. Apa guna ilmu kita yang sudah dipelajari selama ini jika tak mampu diterapkan dengan baik?

Oleh karena semua itu, Mas Ace, barakallah wa innalillah. Ini adalah tanggung jawab yang benar-benar besar tatkala kamu terpilih menjadi ketua Senat Mahasiswa FISIP. Menjadi pemimpin di tengah masyarakat yang semua orang tahu seperti apa FISIP itu. Ini adalah tugas besar yang akan kau emban selama setahun kepengurusan dan semoga ini adalah langkah awal bagimu untuk terus maju dan berubah menjadi yang lebih baik.


Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...