Akhirnya Pemira tahun ini berakhir juga dengan kemenangan berada di kubu sebelah setelah calon mereka mendulang suara yang selisihnya sebenarnya sedikit dari kubu kami.
Kalau ditanya apa tugas ini menyenangkan...entahlah. Bahasa Perancis kemungkinan aku mengulang karena terus-terusan absen. Namun, tidak ada pengalaman yang lebih mengesankan ketimbang ini, di mana aku bisa menangis di bawah tekanan dan tertawa ketika berhasil mengerjakan semuanya.
Dua hari menjelang pemungutan suara, aku sudah ditekan dengan PKM-ku. Satya pergi dan dua lainnya sama sekali tidak kooperatif untuk tugas ini sehingga tidak bisa didelegasikan ke orang lain. Aku sedih, kesal, sekaligus marah, meski marahku tidak lebih menyeramkan daripada Mas Arif. Aku sedih karena mereka terlalu bergantung padaku untuk tugas ini. Aku kesal pada diriku sendiri yang sulit menolak orang lain, terutama seniorku. Aku marah karena ini sudah hampir melewati batasku.
Sehari setelah pemungutan suara, aku kembali ditekan ketika tiba-tiba diminta untuk jadi ketua pelaksana muktamar besok. Belum ditambah omelan Papa karena tiga hari berturut-turut aku pulang malam, diancam tidak dibiayai kuliah, dan akhirnya nggak boleh pulang, disuruh menginap saja di rumah teman. Belum ditambah chaos yang terjadi selama berjalannya penghitungan suara.
Namun, hal-hal di atas bukanlah pengecualian. Aku memang sedih, kesal, marah, dan lain sebagainya, tetapi mau bagaimana lagi? Inilah akhirnya. Aku siap menerima konsekuensi dan siap menjalankan. Yah, mungkin termasuk ancaman Papa. Aku harus menjelaskan ulang kepada Papa bahwa di hari semenjak aku resmi menjadi anggota KAMMI, aku siap terjun dan belajar apa saja karena aku satu visi dengan mereka. Aku ingin semua hal yang ada di kampus mendukung berjalannya dakwah.
Aku mungkin terburuk di Election Committee. Karena banyak hal, termasuk kuliah dan hal-hal ini, tugasku tidak terlaksana dengan semestinya. Namun, ketika berpikir ulang, aku tersadar bahwa ini adalah proses pembelajaran dan pendewasaan. Mau aku gagal atau berhasil, ini adalah proses. Mungkin aku yang kurang bisa memaknainya. Benar kata Mas Muslim saat itu, ketika banyak ketidaklancaran dalam suatu hal, justru inilah proses pembelajaran yang sesungguhnya.
Aku banyak berbuat kesalahan dan inilah yang kumaknai untuk tahapan berikutnya.
Aku lega sekali karena Pemira ini akhirnya usai. Sangat lega. Bukan karena bebas tugas, tetapi karena tersadar bahwa aku masih sangat belia ketika terjun ke dunia politik, banyak melakukan kesalahan, tetapi mampu bertahan di tengah semua hal yang kualami ini. Ketika Allah memberikan ujian, bukankah itu karena Dia ingin menaikkan derajat hamba-Nya?
Ah, aku berpikir ulang. Dulu selama di SMA aku hanya menjadi bagian dari suatu divisi, sekarang jadi sekretaris. Kurasa Allah ingin aku belajar lagi di posisi yang lain.
Aku benar-benar berterima kasih kepada semua orang yang bahu-membahu membantuku ketika ini semua benar-benar sulit. Benar-benar berterima kasih, sekaligus meminta maaf sebesar-besarnya karena tidak pernah menjadi bagian yang baik dalam tim.
Aku masih menjadi mahasiswi baru di kampusku. Ada sekitar 3,5 tahun yang menantiku di depan sana dengan banyak lagi hal yang bisa kugali, kupelajari, dan kualami. Aku tidak boleh berhenti sekarang, apapun situasi dan kondisinya.
Sebab, kekalahan sesungguhnya bukan milik orang yang terbunuh di medan laga, tetapi milik orang yang bahkan lari sebelum memasukinya.
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar