Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Bahu

Jujur kali ini aku mulai mengerti apa yang kubutuhkan saat ini setelah mencoba ngobrol dengan banyak orang. Namun, begitu tahu apa yang kubutuhkan, serta merta aku berkata tegas, "TIDAK! Kamu tidak boleh melakukannya. Terlalu picik!" Aku lelah mengejar semuanya. Ingin sekali aku duduk. Namun, kali ini ketika baru duduk sebentar, aku langsung berlari berkilo-kilo jauhnya. Duduk, berlari. Duduk, berlari. Begitu seterusnya sampai mati bosan diriku ini dengan rutinitas yang itu-itu saja. Aku melihat betapa sibuk teman-temanku mengejar nilai ujian mereka. Banyak dari mereka yang enjoy sekali dengan apa yang mereka lakukan. Aku mencoba seperti mereka, tetapi adakalanya hal itu malah menjadi siksaan. Aku ingin menumpahkan semuanya, tetapi baru saja tersadar kali ini aku tak punya lagi bahu untuk bersandar. Yang satu sudah memilih jalannya sendiri, yang satu sudah dipanggil pulang oleh penciptanya. Apa boleh buat lebih baik kutanggung semuanya, batinku. Kamu mau bersanda...

Ujian, Ujian, Ujian

Percaya atau tidak, jika aku ditanya masalah UN, aku hanya akan menggeleng. Belum siap. Namun, apa artinya gelengan dan anggukanku? Aku masih optimistis. Dan aku tak akan pernah menyerah. Dan aku tak akan pernah berhenti. Mitarashi Hana

Introduction

Hidup itu bagai melewati ombak di lautan. Itu sungguh benar adanya. Ini hampir dua bulan lebih sahabatku tiada, tetapi Dia tidak membiarkanku sendiri. Aku tetap tertawa, tersenyum ceria. Hari-hariku perlahan berubah. Ombak itu semakin tenang, tenang, dan akhirnya lautan kembali terlihat bersahabat bagiku. Setenang kehidupanku kini. Aku dapat teman baru, kurasa. Duh, tidak menyangka. Aku jarang bicara dengannya, dialah yang memulai perkenalan itu duluan. Meski faktanya aku tahu namanya dan dia tahu namaku. Kami sebatas itu dulu. Kami memang tidak banyak bicara sih, saat bertemu. Namun, di chat, kami banyak tertawa. Bersaing, lebih tepatnya. Nilai bahasa Inggris kami sama-sama baiknya. Try out terakhir, aku peringkat pertama, dia kedua, dengan selisih dua poin. Tipis sekali. Kami sama-sama bertekad akan mengalahkan satu sama lain dan meraih nilai 100 saat UN nanti. Lucu. Pertama, kuingat dia adalah "psikopat". Sejenis itu lah. Habis dia aneh, mengatakan hal-hal...