Langsung ke konten utama

Bahu

Jujur kali ini aku mulai mengerti apa yang kubutuhkan saat ini setelah mencoba ngobrol dengan banyak orang. Namun, begitu tahu apa yang kubutuhkan, serta merta aku berkata tegas, "TIDAK! Kamu tidak boleh melakukannya. Terlalu picik!"

Aku lelah mengejar semuanya. Ingin sekali aku duduk. Namun, kali ini ketika baru duduk sebentar, aku langsung berlari berkilo-kilo jauhnya. Duduk, berlari. Duduk, berlari. Begitu seterusnya sampai mati bosan diriku ini dengan rutinitas yang itu-itu saja.

Aku melihat betapa sibuk teman-temanku mengejar nilai ujian mereka. Banyak dari mereka yang enjoy sekali dengan apa yang mereka lakukan. Aku mencoba seperti mereka, tetapi adakalanya hal itu malah menjadi siksaan.

Aku ingin menumpahkan semuanya, tetapi baru saja tersadar kali ini aku tak punya lagi bahu untuk bersandar. Yang satu sudah memilih jalannya sendiri, yang satu sudah dipanggil pulang oleh penciptanya. Apa boleh buat lebih baik kutanggung semuanya, batinku. Kamu mau bersandar kepada siapa? Kamu mau ke mana? Apa yang kamu cari? Semua orang sibuk dengan urusan mereka, meninggalkanku sendiri.

Aku tidak akan repot-repot melakukan hal yang seharusnya kulakukan saat ini juga. Untuk apa? Sejak akhirnya aku tak punya siapa-siapa lagi untuk jadi wadahku membuang segala beban (maaf, betapa introvert diriku ini), aku memilih menyimpannya dalam hati. Rasa kecewa, sedih, takut, gelisah, terluka, dan marah.

Sebenarnya aku sangat ingin menangis, tetapi untuk apa? Kepada siapa? Aku sangat ingin berteriak betapa rindu aku dengan rutinitas lamaku yang belajar santai, hidup santai, tetapi untuk apa? Aku sangat ingin menarik harumnya udara, tetapi mengapa udara begitu sesak?

Aku lelah.



Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...