Jujur kali ini aku mulai mengerti apa yang kubutuhkan saat ini setelah mencoba ngobrol dengan banyak orang. Namun, begitu tahu apa yang kubutuhkan, serta merta aku berkata tegas, "TIDAK! Kamu tidak boleh melakukannya. Terlalu picik!"
Aku lelah mengejar semuanya. Ingin sekali aku duduk. Namun, kali ini ketika baru duduk sebentar, aku langsung berlari berkilo-kilo jauhnya. Duduk, berlari. Duduk, berlari. Begitu seterusnya sampai mati bosan diriku ini dengan rutinitas yang itu-itu saja.
Aku melihat betapa sibuk teman-temanku mengejar nilai ujian mereka. Banyak dari mereka yang enjoy sekali dengan apa yang mereka lakukan. Aku mencoba seperti mereka, tetapi adakalanya hal itu malah menjadi siksaan.
Aku ingin menumpahkan semuanya, tetapi baru saja tersadar kali ini aku tak punya lagi bahu untuk bersandar. Yang satu sudah memilih jalannya sendiri, yang satu sudah dipanggil pulang oleh penciptanya. Apa boleh buat lebih baik kutanggung semuanya, batinku. Kamu mau bersandar kepada siapa? Kamu mau ke mana? Apa yang kamu cari? Semua orang sibuk dengan urusan mereka, meninggalkanku sendiri.
Aku tidak akan repot-repot melakukan hal yang seharusnya kulakukan saat ini juga. Untuk apa? Sejak akhirnya aku tak punya siapa-siapa lagi untuk jadi wadahku membuang segala beban (maaf, betapa introvert diriku ini), aku memilih menyimpannya dalam hati. Rasa kecewa, sedih, takut, gelisah, terluka, dan marah.
Sebenarnya aku sangat ingin menangis, tetapi untuk apa? Kepada siapa? Aku sangat ingin berteriak betapa rindu aku dengan rutinitas lamaku yang belajar santai, hidup santai, tetapi untuk apa? Aku sangat ingin menarik harumnya udara, tetapi mengapa udara begitu sesak?
Aku lelah.
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar