Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2015

Dai Nippon, Wish One Day...

Bulan Oktober sebentar lagi hampir habis... Hari ini rencananya mau pergi ke SMP lama, legalisir ijazah dan lain sebagainya, fotokopi sertifikat-sertifikat, sekalian ketemu sama guru-guru lama. Semua harus selesai, jadi aku bisa sekalian melongok SD lama juga. Kangen banget. Gimana kabarnya semua orang ya? Teman-teman lama yang dulu bully aku juga apa kabar? Jadi apa mereka sekarang? Bulan ini penuh keputusan besar dan alhamdulillah respon semua orang positif. Mr. Sam dan Mr. Dimas terutama, mereka kecewa pertamanya ketika aku bilang orangtuaku hanya mengijinkanku untuk kuliah di Semarang dan itu berarti automatically hanya Undip dan Unnes kemungkinannya. Setelah aku memutuskan bahwa, oke, aku akan mencoba daftar beasiswa ke luar, mereka senang sekali.  Entah udah berapa persen ini persiapannya. Aku sendiri sudah mulai mengulang pelajaran A Level yang dulu sempat diadakan di kelas XI. Aku meminjam modul Pure Mathematics A Level dari perpustakaan sekolah, latihan TOEFL,...

Rossi - Marquez

Aku baru pulang hari ini dan baru saja menyadari keributan di media sosial Senin ini dan aku syok (untungnya kaga kejang-kejang) setengah mati. Gimana enggak? Valentino Rossi, pebalap yang ampun keren luar biasa (maklum ngidolain), dihukum penalti! Penyebabnya? Marquez. Aku (as human) jujur aja misuh-misuh ga keruan begitu tahu. Etdaaahh...aku ngidolain Rossi dari kelas 3 SD dan aku tahu persis caranya membalap! Dia bukan tipe orang yang segitunya ngejar ambisi sampai mencelakai orang lain.  Malam ini ketika aku lihat videonya, aku membatin nggak keruan. Etdah, dihukum penalti gara-gara nendang? Itu race director bisa bedain nggak sih mana nendang mana bukan, atau perlu aku tendang beneran biar bisa bedainnya? Gila, apa salahnya sih menghindari kaki biar nggak nyentuh motor orang lain dan itu dianggap nendang?  But, okay, fine. Mungkin ada yang lebih rese daripada Marquez. Siapa? Lorenzo. Dia rese abis. Rekan setim lagi kena musibah, boro-boro dibantuin, eh malah ...

Special Edition: ABBS Teachers! (2)

Mau lanjut aja sih dari special edition yang sebelumnya juga, berhubung ada yang minta juga. Oke deh, let's begin. Kalo ada guru yang akhir-akhir ini jadi lebih dekat sama aku, itu ada. Miss Anis. Selain aku les sama beliau (sekaligus curcol, hihi...), beliau juga enak kalau diajak bercanda. Miss Anis masuk waktu aku kelas XI semester pertama, micro teaching di kelasku juga pas itu. Beliau masuk gantiin Miss Ana, guru Matematika yang sebelumnya. Biasanya kalau aku ke kantor guru lantai bawah, ngepasin Mrs. Iffah lagi nonton drama Korea, Miss Anis juga ikutan. Aku melongo aja liatnya, ngebayangin kalo aja di saat ini aku duduk di kantor guru sekolah negeri kayak di SMP-ku dulu, pemandangan seperti ini adalah yang paling jarang dijumpai. Kan gurunya udah berumur semua. Sometimes hal-hal kecil kayak gini buat aku bersyukur masuk ABBS, karena guru-guru yang masih muda jadi mereka bisa dengan gampang mengikuti dunia kita, mengawasi kita juga. Next, Mrs. Iffah. Dulu jadi wali ke...

Finally, An Essay

Seminggu ini entah kesambet apa diriku ini -_- tiba-tiba aja aku sudah membuat esai. Tiba-tiba aja sudah bikin planning ini itu. Pokoknya yaa...semua suddenly! Dan rencana pertama sudah tercontreng: esai sudah selesai bulan Oktober. Entahlah...jadi ceritanya aku teringat sebuah target yang menurut orang itu ketinggian dan buatku sendiri itu juga ketinggian. Semua ketinggian deh pokoknya! Because aku orang yang cengeng, kadang masih manja, kadang masih merengek minta ini itu, tiba-tiba aja aku buat planning mau study abroad. Parahnya lagi, aku belum pernah naik pesawat, bayangin aja aku bakalan muntah-muntah. Naik kapal feri ke Palembang terakhir kali aja aku mabuk laut. Aku pasti sudah gila, batinku. Namun pada akhirnya aku berani. Meski aku pernah berpikir, ya ampun...mereka ini, aku nggak seberani yang mereka kira mentang-mentang aku selalu mau disuruh maju menyampaikan sesuatu. Aku orang yang gelagapan, tapi dasar bandel dan nekat, akhirnya aku lakuin juga. Aku cengeng,...

Hidup Itu Sederhana

"Hidup itu sederhana, jika kita memandangnya sederhana..." Hari ini edisi pelajaran kebijaksanaan hidup, ya? Kebetulan hari ini ketika pengambilan rapor mid semester, aku mengobrol dengan Mr. Izz tentang banyak hal, salah satunya kalimat di atas.  Aku tersenyum mendengarnya. Hidup itu sederhana jika kita memandangnya sederhana. Semua orang jika ditanya apa tujuan akhir hidupnya yaa...mereka akan menjawabnya dengan beraneka macam. Mungkin menjadi orang kaya, lalu beristri atau bersuami yang fisiknya di atas standar, anak-anak yang pintar dan lucu, dan...hidup bahagia selamanya. Sungguh itu sebuah fairytale yang...aneh. Bermimpi menjadi orang kaya, well...kurasa ada baiknya kita sedikit realistis juga. Tidak selamanya orang kaya itu bahagia, kan? Mereka dilanda kekhawatiran atas hartanya, takut dicuri atau berkurang (jika mereka tidak semeleh ). Kadang mereka diincar karena hartanya. Bisa jadi dikhianati juga karena hartanya.  Pasangan berwajah di atas stan...

Moving On, Moving On

Sabtu malam kali ini kuhabiskan di kampung halaman tercinta yang baru kutinggalkan sekitar seminggu lebih. Aku juga baru selesai ujian. Segala sesuatu baru saja selesai. Tinggal menunggu hari Senin untuk menjalani aktivitas-aktivitas baru di sekolah yang sudah aku rindukan lama sekali. Pelajaran-pelajaran, mentoring, ekstra, kegiatan seni budaya.  Sabtu malam.  Aku heran kenapa waktu itu selalu diidentikkan dengan apel pacar trus keluar dan kencan. Kenapa ya? Siapa yang memulai tradisi ini? Padahal orang jaman dulu saja nggak berani apel pacar trus ngajak keluar, bisa kena amuk orangtua gadisnya. And well, mereka yang punya pacar bisa seenaknya ngejek yang single, lalu membanggakan pacarnya di media sosial. It's disgusting. Aku juga bukan tipe orang yang bakalan mupeng banget kalau ada yang pamer kemesraan di media sosial. Sebaliknya, hanya ada rasa jijik. Kasarnya mungkin aku bakalan bilang, "Dih, murahan banget," tapi cukup di dalam hati.  Ada sebuah me...