Langsung ke konten utama

Finally, An Essay

Seminggu ini entah kesambet apa diriku ini -_- tiba-tiba aja aku sudah membuat esai. Tiba-tiba aja sudah bikin planning ini itu. Pokoknya yaa...semua suddenly! Dan rencana pertama sudah tercontreng: esai sudah selesai bulan Oktober.

Entahlah...jadi ceritanya aku teringat sebuah target yang menurut orang itu ketinggian dan buatku sendiri itu juga ketinggian. Semua ketinggian deh pokoknya! Because aku orang yang cengeng, kadang masih manja, kadang masih merengek minta ini itu, tiba-tiba aja aku buat planning mau study abroad. Parahnya lagi, aku belum pernah naik pesawat, bayangin aja aku bakalan muntah-muntah. Naik kapal feri ke Palembang terakhir kali aja aku mabuk laut.

Aku pasti sudah gila, batinku.

Namun pada akhirnya aku berani. Meski aku pernah berpikir, ya ampun...mereka ini, aku nggak seberani yang mereka kira mentang-mentang aku selalu mau disuruh maju menyampaikan sesuatu. Aku orang yang gelagapan, tapi dasar bandel dan nekat, akhirnya aku lakuin juga. Aku cengeng, paling cengeng kalau di rumah. Mama kalau mau menyampaikan bad news sekarang selalu mengakhirkanku karena tahu dua hal, pertama aku jauh dan kalau disampaikan pas aku di Solo pasti ntar jadinya banyak pikiran dan kedua aku bakalan nangis di bus pas pulang (and yes, aku selalu nangis pas mau balik -_- karena dengerin lagu). Di sini aja aku cengeng apalagi di sana. Enaknya kan kalau di Solo masih bisa pulang akhir bulan, nah kalo study abroad jangan-jangan baru bisa pulang 5 tahun kemudian.

Hal yang paling aku syukuri adalah semua orang support keputusanku. Dimulai dari orangtuaku yang sebelumnya melarangku karena melihat badanku nggak gemuk juga, takut aku nggak keurus di sana. But, karena badanku akhirnya sedikit demi sedikit menggemuk dan Mama mulai bicara sama Papa biar merelakan anaknya yang sulung ini memilih keputusannya sendiri, akhirnya lampu hijau dari ortu menyala. Sedikit cerita aja sih, aku sebenarnya agak males ngomongin college sama Papa karena beda pandangan. For him, aku kuliah itu buat cari kerja and for me, aku kuliah itu karena aku suka dan abdi masyarakat nantinya, jadi beliau nyaranin aku ngambil ekonomi atau akuntansi, sementara aku lebih condong ke hubungan internasional, ilmu politik, dan sastra Inggris. Mama akhirnya bicara sama Papa dan bilang, "Nisa udah besar, dia punya pertimbangan sendiri kenapa milih hubungan internasional. Lagian hubungan internasional juga bagus, kok. Prospek kerjanya juga bagus," and voila, thanks Mom! Akhirnya Papa udah mulai jarang ngomongin college dan pas aku nanya sama Mama kenapa, ternyata Mama ngomong ini itu sama Papa masalah kuliahku nanti. Thanks! A very big thanks, Mom! 

Akhirnya aku juga mulai memberanikan diri buat bilang ke Mama, "Berarti Mama siap ya kalau aku milih buat ke luar negeri."

"Nggak apa-apa, Mama emang harus ikhlas, dong," she answered.

Setelah orangtua kasih lampu hijau, aku mulai berani buat esai dan mencari-cari program beasiswa buat study abroad. Finally, entahlah...semua selesai dan aku sendiri baca itu berkali-kali sebelum akhirnya aku serahin ke dua guru buat dikoreksi. They are Mr. Dimas and Miss Wochy. Baru keluar tadi sih hasil koreksian esai itu dari Mr. Dimas -_- and I don't know why, aku jadi merasa terlalu kecil di dunia yang luas ini ketika disuruh ngoreksi ini itu, lalu bertanya pada diriku sendiri, aku udah ngambil keputusan yang tepat atau cuma modal nekat?
Finally, when I write this entry, aku hanya tersenyum sendiri. E-n-t-a-h-l-a-h. Aku tak butuh alasan apa-apa mengapa aku melakukannya, bukannya cinta itu ga butuh banyak alasan ya?
Well, lagipula...sepertinya banyak yang sudah mulai mengulurkan tangan. Mr. Sam akan memberikan kontak email ke suatu tempat lah pokoknya (ini masih rahasia ya...) dan buatin rapor dalam bahasa Inggris (oke, urusan administrasi selesai). Mr. Izz, Miss Wochy, Mr. Dimas, they always help me buat segala hal yang berkaitan dengan English, terutama Mr. Dimas yang udah pernah merasakan yang namanya study abroad. Arifa, wow, aku senang sekali bisa dekat dengannya, sambil sesekali berceloteh, "Ntar kita satu universitas ya di sana!" and she said yes, I hope so. Punya teman dengan cita-cita yang sama, itu juga motivasi besar.

Aku tahu ini peluangnya entah satu banding berapa ribu. Namun karena itulah kuharap ini adalah harapan yang akan segera tersemogakan. 

Aku ingin melihat dunia, berpetualang ke tempat-tempat yang dulu hanya bisa kulihat di buku-buku di perpustakaan SD dan SMP.

And, kadang kita perlu penyemangat kan? Entah, sekarang penyemangatku adalah foto-foto tempat-tempat terkeren yang ingin sekali kukunjungi di masa depan, di dalam folder My Adventure In The Future!!






Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...