Langsung ke konten utama

Rossi - Marquez

Aku baru pulang hari ini dan baru saja menyadari keributan di media sosial Senin ini dan aku syok (untungnya kaga kejang-kejang) setengah mati.

Gimana enggak? Valentino Rossi, pebalap yang ampun keren luar biasa (maklum ngidolain), dihukum penalti! Penyebabnya? Marquez. Aku (as human) jujur aja misuh-misuh ga keruan begitu tahu. Etdaaahh...aku ngidolain Rossi dari kelas 3 SD dan aku tahu persis caranya membalap! Dia bukan tipe orang yang segitunya ngejar ambisi sampai mencelakai orang lain. 

Malam ini ketika aku lihat videonya, aku membatin nggak keruan. Etdah, dihukum penalti gara-gara nendang? Itu race director bisa bedain nggak sih mana nendang mana bukan, atau perlu aku tendang beneran biar bisa bedainnya? Gila, apa salahnya sih menghindari kaki biar nggak nyentuh motor orang lain dan itu dianggap nendang? 

But, okay, fine. Mungkin ada yang lebih rese daripada Marquez. Siapa? Lorenzo. Dia rese abis. Rekan setim lagi kena musibah, boro-boro dibantuin, eh malah dengan teganya bilang kalo hukumannya Rossi kurang berat. Mungkin semua orang maklum dia kayak gitu, kan dia yang jadi juara dunia andai kata hukumannya Rossi diberatin. But for me, itu sama aja. Tega abis. Itu teman atau teman sih? Atau musuh dalam selimut? 

But the reaction is great. Netizen beramai-ramai membuat petisi supaya hukuman penalti Rossi dicabut dan dukungannya sudah mencapai angka ratusan ribu. 

Ada sebuah meme yang benar-benar pas buat kejadian ini. Maybe. Bunyinya, 'Jadilah seperti Marquez, kalo kamu ga bisa nikung dia, buatlah dia jadi jelek di mata orang lain'. Ya, gitu aja terus deh, Marc! Sampai dinosaurus beranak kecoa. Sampai bunglon nggak berubah warna.

Dan kenapa aku tumben kesal? Ya, di samping karena faktor idola, aku kesal karena itu video jelas aja nggak memperlihatkan sama sekali kalau itu nendang. Maksudku, untuk membuat motor dengan kecepatan ratusan kilometer per jam itu jatuh, seenggaknya nendangnya kudu ekstra keras sampai dia kehilangan keseimbangan. Lagian aku nggak melihat Marquez kehilangan keseimbangan, goyang, atau entahlah apa itu, pokoknya tanda-tanda yang memperlihatkan dia abis ditendang. Yang ada dia jatuh lebih karena dia miss, over banget tikungannya. Please deh, the kindest Mr. Race Director, see the video more! Aduuhh...

Just hope the best for Vale.





Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...