Langsung ke konten utama

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya)

Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak. 

Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu.

Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ingin pergi jauh-jauh. Terkadang berada di areamu membuatku memandang rendah diriku. Siapa aku bila dibandingkan denganmu, kira-kira begitu. 

Berkesempatan untuk mengobrol, berbagi cerita, curhat, saling ejek, well...itu menyenangkan. Namun, sekali lagi kamu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Jatuh kepadamu membuatku tidak bisa menguatkan konsentrasiku ketika kamu ada di sekeliling. Menyebalkan. Ini belum saatnya. Ini terlalu dini. Begitu keras aku menekan diriku berkali-kali. 

Mengapa? Mudah saja. Karena belum tentu kamu jodohku. Sudah itu. Bisa jadi aku hanya jatuh kepadamu untuk sesaat saja, setelah itu Allah akan memberiku yang lebih baik. Aku tidak pernah bisa menebak masa depan dengan baik, sih. Aku pun juga tidak mau menebak-nebak perasaanmu. Itu bukan hal yang begitu penting dan mendesak. 

Ya, buatku cinta adalah a piece of cake dalam hidup. Selingan. Karena belum waktunya aku menemukan seseorang yang ditakdirkan denganku, makanya aku kelihatan masa bodoh ketika berada di sekitarmu. Padahal jantungku berdetak dari tadi, sejak kamu terlihat olehku.

Aku juga tidak akan menandaimu dalam doaku. Aku tidak mau lancang meminta kepada Allah agar dijodohkan denganmu. Siapa aku? Aku hanyalah manusia dan Allah yang membuat skenarionya. Mana berhak aku meminta-minta sama sutradara padahal tugas aktor hanyalah tampil baik di panggung, bukan? Namun, kalau bertanya...haha, iya, aku sering bertanya. Apakah itu kamu? Namun, aku tidak akan pernah menandaimu dalam doaku. Tidak. Kalau bukan kamu juga tidak masalah. Aku tetap akan hidup dengan baik.

Aku hanya akan mengakui satu hal sekarang: jatuh cintaku itu sama kamu saat ini. Ingat baik-baik. Saat ini. Bisa jadi seminggu, sebulan, atau setahun kemudian hal itu berganti. Aku juga tidak mau menghabiskan waktuku tenggelam dalam romansa cinta anak kuliahan. Aku lebih suka sibuk beraktivitas selayaknya mahasiswa: belajar, kuliah, rapat organisasi, dan turun aksi. Maaf, aku bukan tipe orang yang suka meluangkan banyak waktu di masalah percintaan. 

Aku nggak peduli jika kamu tahu, sih. Sebab, bahkan jika kamu tahu, aku tetap sama. Aku tetap akan beraktivitas biasanya. Seberapa jauh hal itu mempengaruhiku? Nol persen. Tidak sama sekali. Kalau pun kamu tahu, faedahnya apa?

Well, sebelum kututup tulisan sampah ini, kuucapkan selamat bekerja untukmu di kepengurusan tahun ini. Semoga Allah besertamu.



Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...