Langsung ke konten utama

Saat Galau

Tahu nggak suramnya hari Minggu ini? Hoo...kalau pingin tahu nih, suramnya hari Minggu ini tuh ya, udah di luar hujan, perasaanku campur aduk, dan akhirnya berujung galau. Iya, hari ini aku galau sumpah! But, maaf-maaf aja, aku nggak lagi galau mikirin seseorang. Aku kayaknya pernah cerita dulu kalau percintaan adalah sesuatu yang tidak penting bagiku sekarang. 

Terus?

Aku terduduk galau di depan laptopku, menatap formulir pendaftaran staf ahli senat yang besok harusnya sudah dikumpulkan. Ugh! Ini memusingkan. Ada sebagian kecil dari diriku yang meragukan apakah kelak aku bisa. Sebagian lainnya campur aduk. Terutama ketika menatap beberapa bagian formulirnya.

Motivasi menjadi staf SM FISIP Undip 2017.

Allahuma Ya Rabb. Ini diisi apa? Bukan berarti aku mendaftar tanpa motivasi atau bahkan ikut-ikutan. Tidak. Itu bukan aku. Aku hanya bingung bagaimana meyakinkan orang lain bahwa aku mampu meski pernah gagal. Bahwa ketika terpilih kelak, aku akan memperbaiki kualitas diriku. Aku bingung sekali. Huft. Mau daftar beginian doang lamanya aja kayak lagi baca proposal ta'aruf calon (eh). 

Apa aku mampu? Apa orang lain akan memandangku demikian? Apa mereka akan memilihku? Pertanyaan-pertanyaan itu terus memenuhi pikiranku. Entah mengapa semakin melekat pertanyaan-pertanyaan itu, aku semakin ragu pada diriku. 

Apa yang membuat orang lain memandangku mampu mengerjakannya, sementara aku sendiri memandang diriku sebagai kegagalan? 

Apa yang membuat orang lain yakin untuk mempercayakan pekerjaan mereka kepadaku, sementara aku masih mentah? Masih anak kemarin sore?

Aku butuh seseorang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. 


Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...