Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2015

Sebuah Coretan Kecil

Wajar jika seseorang merasa jengkel dengan situasi yang tidak dikehendakinya. Orang paling sabar bisa saja marah dan kuharap aku tak perlu melihat kemarahannya. Orang yang humoris pada akhirnya akan sampai kepada titik kemanusiaannya, di mana ia bisa meluapkan kekesalannya. Kira-kira itu yang terjadi kepadaku sekarang. Aku juga manusia biasa dan saat ini aku sedang berada di titik kemanusiaanku untuk marah. Namun, aku juga bukan orang yang paling sabar dan humoris. Aku biasa-biasa saja. Kemarin dan hari ini yang ingin kulakukan adalah menghindari segala kontak sosial dengan siapapun, untuk sejujurnya. Aku butuh waktuku sendiri. Liburan kali ini aku belum mendapatkan me time yang nyaman karena ketika aku sedang melakukannya, semua menyuruhku ngumpul dengan orang lain dan bersenang-senang dengan mereka. Padahal aku sedang ingin sendiri. Sedikit perbedaan ketika di sekolah, aku mendapatkan me time yang amat nyaman. Semua orang sepertinya mengerti. Namun, nanti pastinya aku ak...

Suratku dari Bumi

Hai sobat..... jangan ingat s'mua salah dan kekuranganku... Tapi... Ingatlah s'mua canda, tawa, suka, dan ria yang pernah ana hadirkan dalam hidup antum... 26 September 2013  ·  Dikirim dari Web Dari Bumi, Untukmu Mungkin ini adalah pesan terakhir dariku yang ingin kusampaikan. Pesan baru akan kusampaikan nanti setelah aku sampai di tempat seharusnya. Ketika semua hal sudah kupeluk erat. Pertama, terima kasih karena selalu menemaniku tertawa dan menangis. Tidak banyak orang melakukan itu untukku. Kau tahu, aku belum pernah dapat sahabat seakrab ini dari TK sampai sekarang. Sahabat yang bisa memahamiku dan kupahami juga. Sahabat yang sama anehnya supaya bisa mengerti keanehanku pula. Sahabat yang sama emosinya supaya bisa berantem denganku juga. Kamu berbeda dengan banyak orang yang kutemui sebelumnya. Dulu ketika kita pertama kali bertemu, aku takut padamu. Ingatkah kau aku pernah bilang begitu? Aku takut padamu, kamu tidak bisa diajak bercanda. Seiring berjal...

Sebuah Lembaran Baru

Besok semester berikutnya aku tetap merasa kehilangan (sepertinya). Aku bukan tidak bersyukur. Aku tahu ada banyak teman yang berada di sisiku, bersamaku. Namun, entah kenapa hati rasanya kosong. Aku seperti kehilangan seperdelapan tawaku biasanya.  Kehilangan seperdelapan? Iya, karena akhir-akhir ini terkadang aku bisa tiba-tiba menangis. Kangen sekali. Dan yang bisa kulakukan (lagi-lagi) adalah kirim doa yang terbaik untuknya. Aku ingin bertemu dengannya di surga. Namun, mau kehilangan seperti apapun, inilah lembaran baru hidupku. Entah apapun yang baru dalam diriku, inilah cerita baruku. Inilah aku yang baru, setelah kejadian itu.  Aku tahu betapa bapernya aku ini (haha...) dan rasanya semakin baper akhir-akhir ini. But well, okay. Don't know why I can't stop it. Aku berharap bisa. Harapan baruku nanti adalah...semoga aku bisa membawa semangatnya terbang tinggi di langit dunia, melihat keindahan penciptanya. Mitarashi Hana

Kisah Kita Bertiga

Dulu kita biasanya bertiga. Aku ingat persis itu. Dari kelas X kita dipertemukan bertiga, lalu lomba bertiga, apa-apa bertiga.  Dulu aku biasanya membicarakan banyak hal dengan kalian. Banyak sekali. Dan aku senang bisa menyesuaikan diri dengan kalian bertiga. Yang satu blak-blakkan, supel, dan easy going. Satunya lagi supel, seriusan, dan baper. Dulu kita biasanya bertiga. Berantem bertiga. Namun semua selalu kembali utuh seperti semula. Dan masa terus berjalan... Tahun berikutnya, yang pertama pergi, pulang ke kampung halaman. Menyisakan aku dan satu orang lagi yang selalu siap menjagaku menggantikan yang pertama. Tahun itu kulewati hari-hari bertengkar dengannya, tetapi selalu dan selalu kembali seperti semula, dengan cara apapun. Tahun berikutnya pun masih sama. Bertengkar. Saling ejek. Namun untuk kepentinganku kita kembali akur. Dan di tahun itu, akhirnya malaikat maut menjemputmu, meninggalkanku. Sendiri. Mitarashi Hana

Apa yang Tersisa Sekarang

He has gone, so what can I do?   Kemarin aku buat status, bilang kalau hariku terlalu normal sekarang. T-e-r-l-a-l-u n-o-r-m-a-l. Tidak ada lagi yang mengejekku di sekolah. Tidak ada yang heboh berantem denganku. Ternyata itu membuatku kangen. Dulu aku pernah berharap dia hilang saja dari sekolah, aku benci padanya, begitu batinku. Namun, ketika dia benar-benar hilang, hariku jadi terlalu normal. Aku kangen dia. Baru kusadari, meski kami sering ejek-ejekkan, meski kami sering berantem, tapi sebenarnya kami membutuhkan satu sama lain. Baru kusadari, ternyata dia benar-benar kesepian dan dia berterima kasih sekali aku masih ada... Sekarang apa yang tersisa hanyalah kenangannya, kebaikannya, dan...entahlah, banyak sekali. Dan tiada satu hari pun aku tidak merindukannya. Kangen sekali. Mitarashi Hana

A Piece of Story: Farewell, My Best Friend (Depapepe - Start)

Aku nggak percaya akan menulis tentang kehilangan lagi setelah artikel sebelumnya juga sama. Kali ini instrumen gitar dari Depapepe berjudul Start yang menemaniku menulis. Instrumen ini kenangan terbesar yang selalu mengingatkanku akan seseorang yang baru saja pergi kali ini. Instrumen ini adalah yang terakhir kali dia bawakan di panggung, sebelum kecelakaan naas merenggutnya dua bulan setelah perform itu. Dulu, di kala kami harus berkolaborasi menampilkan musikalisasi puisi, dia dan temannya mati-matian meminta pada ketua panitia agar bisa mengiringiku, entah mengapa. Dengan berat hati, sang ketua panitia (yang akhirnya mungkin menyesal sudah mengijinkan mereka tampil dengan berat hati) mengijinkan mereka tampil mengiringiku. Dan tahukah, betapa saat itu aku (yang tentu saja, jahat) mengeluh, mencibir, mengapa harus dia yang mengiringiku. Namun, dia menunjukkan konsistensinya padaku agar bisa mengiringiku.  "Silakan, Tuan Putri. Kami hanya pelayanmu. Kami siap me...