Aku nggak percaya akan menulis tentang kehilangan lagi setelah artikel sebelumnya juga sama.
Kali ini instrumen gitar dari Depapepe berjudul Start yang menemaniku menulis. Instrumen ini kenangan terbesar yang selalu mengingatkanku akan seseorang yang baru saja pergi kali ini. Instrumen ini adalah yang terakhir kali dia bawakan di panggung, sebelum kecelakaan naas merenggutnya dua bulan setelah perform itu.
Dulu, di kala kami harus berkolaborasi menampilkan musikalisasi puisi, dia dan temannya mati-matian meminta pada ketua panitia agar bisa mengiringiku, entah mengapa. Dengan berat hati, sang ketua panitia (yang akhirnya mungkin menyesal sudah mengijinkan mereka tampil dengan berat hati) mengijinkan mereka tampil mengiringiku.
Dan tahukah, betapa saat itu aku (yang tentu saja, jahat) mengeluh, mencibir, mengapa harus dia yang mengiringiku. Namun, dia menunjukkan konsistensinya padaku agar bisa mengiringiku.
"Silakan, Tuan Putri. Kami hanya pelayanmu. Kami siap menaati perintahmu,"
Hari itu ketika aku perform bersama mereka (dan terutama, bersama dia), itu menjadi hari paling luar biasa yang pernah kualami seumur hidupku. Merasakan sambutan begitu besar, penerimaan yang hangat dari semua orang, benar-benar mengalahkan rasa bahagiaku ketika menang olimpiade atau lomba-lomba lainnya. Namun, bodohnya, aku lupa satu hal: dia pun berperan menyukseskanku.
Hari ketika kami berlomba bersama juga hari yang luar biasa menyenangkan. Memang, aku kalah. Memang, aku menangis. Namun, lagi-lagi dialah yang menemaniku menangis. Dia tidak keberatan jika aku terus-terusan mengeluhkan hal yang sama, mengapa aku harus kalah, mengapa ini semua terjadi, tapi dia dengan segala kebesaran hatinya menemaniku, menghiburku.
Dan bodohnya aku, dengan segera aku melupakan kebaikannya.
Dia dulu ikut membelaku ketika bullying masih kualami. Ikut stres mengetahui kenyataan aku sering diperlakukan tidak adil dulunya. Ikut emosi, ikut marah-marah, meski aku memintanya mundur agar tidak terkena getah masalahku. Meski orang yang bermasalah denganku adalah (yang dulu) mengisi hatinya, dia tidak mundur. Tetap membelaku. Tetap bersamaku.
Dan (lagi-lagi) bodohnya aku, dengan segera kuabaikan kebaikannya.
Membelikanku apa-apa yang kumau, menghiburku, mengejekku, menyapaku, menanyakan kabarku, menanyakan suasana hatiku, adalah apa-apa yang selalu dia lakukan setiap kami bertemu.
Dan kini aku tidak bisa lagi merasakan hal itu, merasakan bagaimana setiap hari aku emosi dipanggil 'Bebek' olehnya, merasakan emosi setiap kali dia mengejekku. Setelah dia pergi, hariku menjadi terlalu normal. Bukan hariku biasanya, yang penuh ketegangan, tapi penuh sensasi yang menghangatkan.
Aku orang paling jahat, itulah yang kukatakan pada teman-temanku ketika mereka menghakimi diri mereka sebagai orang jahat yang selalu mengabaikannya ketika akhirnya dia pergi. Aku orang paling jahat. Aku tahu seperti apa masalahnya, seperti apa kebaikannya, seperti apa perhatiannya padaku, seperti apa dia sesungguhnya, tapi aku yang paling sering menghindarinya, paling sering menggunjingnya di belakang, paling blak-blakkan membencinya, paling sering acuh tak acuh padanya.
Sekarang, mau apa? Dia telah tiada. Pergi setelah paginya sempat membelikanku susu cokelat dan mengajakku berbicara, sekaligus mengenalkanku sebagai sahabatnya dari kelas X SMA kepada orang lain. Aku amat sangat terlambat untuk meminta maafnya. Dosanya kutanggung setelah aku acap kali menggunjingnya dan dia mendapat pahalaku.
Jika saja kamu bisa membaca tulisan ini, sahabatku, aku ingin minta maaf. Maafkan aku, sungguh aku minta maaf. Aku jahat, aku tahu. Namun, kamu selalu berusaha membuatku tersenyum di mana pun aku berada. Membanggakanku di mana pun kau berada, berkata bahwa aku sahabatmu satu-satunya, sejak lama.
Beristirahatlah.
Aku sungguh sayang padamu, itulah jawaban atas pernyataanmu dulu.
Saat ini, esok, dan selamanya, kau adalah sahabat terbaik yang kupunya di sepanjang masa sekolahku. Dari TK sampai sekarang. Dengar? Kau adalah sahabat terbaik yang kupunya.
Selamat jalan, Yusuf Habibi.
Dari sahabat yang selalu kau banggakan,
Anissa Antania Hanjani

Komentar
Posting Komentar