Langsung ke konten utama

Sebuah Coretan Kecil

Wajar jika seseorang merasa jengkel dengan situasi yang tidak dikehendakinya. Orang paling sabar bisa saja marah dan kuharap aku tak perlu melihat kemarahannya. Orang yang humoris pada akhirnya akan sampai kepada titik kemanusiaannya, di mana ia bisa meluapkan kekesalannya.

Kira-kira itu yang terjadi kepadaku sekarang. Aku juga manusia biasa dan saat ini aku sedang berada di titik kemanusiaanku untuk marah. Namun, aku juga bukan orang yang paling sabar dan humoris. Aku biasa-biasa saja.

Kemarin dan hari ini yang ingin kulakukan adalah menghindari segala kontak sosial dengan siapapun, untuk sejujurnya. Aku butuh waktuku sendiri. Liburan kali ini aku belum mendapatkan me time yang nyaman karena ketika aku sedang melakukannya, semua menyuruhku ngumpul dengan orang lain dan bersenang-senang dengan mereka. Padahal aku sedang ingin sendiri.

Sedikit perbedaan ketika di sekolah, aku mendapatkan me time yang amat nyaman. Semua orang sepertinya mengerti. Namun, nanti pastinya aku akan melakukan kontak sosial dengan mereka. Bercanda, tertawa, seperti layaknya remaja normal. Aku introvert, sehingga me time buatku adalah kebutuhan pokok. 

Dan karena aku introvert inilah, aku benar-benar memilih kepada siapa aku akan bercerita. Aku harus pastikan mereka tutup mulut atas semua cerita yang kusampaikan. Akhirnya yang dekat denganku hanya segelintir, sementara yang lainnya dekat denganku sebatas teman. Ada bedanya kan antara teman dan sahabat?

Aku mengerti apa yang terlintas di pikiran orang rumah ketika aku sendirian. Melamun, mungkin, atau tidur-tiduran. Tidak, tidak, bukan hanya sekadar melamun atau tiduran yang kulakukan. Ketika dalam posisi berbaring, aku bisa berpikir jernih, merenung, memikikan isu global, semua hal masuk ke dalam pikiranku ketika aku sendiri. 

Namun, satu hal yang akan kutegaskan: aku bukan anti sosial. Aku punya banyak teman. Aku tahu memang di SMP pertemananku buruk, tapi kuharap mereka tidak lupa bahwa manusia bisa berkembang. SMA adalah saat-saat yang paling kunikmati dan pertemananku baik-baik saja. Aku bercanda dan tertawa bersama mereka. Kuharap mereka tidak lupa bahwa aku juga belajar sosialisasi di boarding. Kuharap mereka tidak lupa bahwa aku suka berteman dengan orang yang baru kukenal.

Saranku, cobalah sesekali mengunjungiku di kota kelahiran keduaku, Surakarta. 




Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

True Self

Minggu, 15 Oktober 2017 "...sebenarnya banyak sih yang ngomongin kamu di belakang waktu itu, tapi aku juga nggak suka kamu di-judge seenaknya gitu,". "...". "Waktu terakhir main ke sana sih guru-guru juga pada bilang, 'Antania sekarang berubah banget setelah masuk HI,',". "..." * * * Selasa, 5 Desember 2017 "Aku pergi dulu ya ke rumah Ayu!" sahutku dari pintu belakang. "Aku ambil sendiri uang sakunya,". Ini adalah minggu-minggu ujian semester. Aku dan Ayu memutuskan untuk sering belajar bareng. Aku bukan tipikal orang yang biasa belajar di rumah, sih. Beuh, yang ada malah tidur aku kalau di rumah. Meja belajar sama kasur jaraknya cuma dua langkah. Aku menatap kontak WhatsApp-ku sebelum berangkat dan tertegun melihat beberapa kontak yang hilang dari daftar, lalu memutuskan kembali ke kamar sebentar untuk mengecek nomor yang perlu ditambahkan. Ah, aku baru saja ganti HP dan nomornya y...