Wajar jika seseorang merasa jengkel dengan situasi yang tidak dikehendakinya. Orang paling sabar bisa saja marah dan kuharap aku tak perlu melihat kemarahannya. Orang yang humoris pada akhirnya akan sampai kepada titik kemanusiaannya, di mana ia bisa meluapkan kekesalannya.
Kira-kira itu yang terjadi kepadaku sekarang. Aku juga manusia biasa dan saat ini aku sedang berada di titik kemanusiaanku untuk marah. Namun, aku juga bukan orang yang paling sabar dan humoris. Aku biasa-biasa saja.
Kemarin dan hari ini yang ingin kulakukan adalah menghindari segala kontak sosial dengan siapapun, untuk sejujurnya. Aku butuh waktuku sendiri. Liburan kali ini aku belum mendapatkan me time yang nyaman karena ketika aku sedang melakukannya, semua menyuruhku ngumpul dengan orang lain dan bersenang-senang dengan mereka. Padahal aku sedang ingin sendiri.
Sedikit perbedaan ketika di sekolah, aku mendapatkan me time yang amat nyaman. Semua orang sepertinya mengerti. Namun, nanti pastinya aku akan melakukan kontak sosial dengan mereka. Bercanda, tertawa, seperti layaknya remaja normal. Aku introvert, sehingga me time buatku adalah kebutuhan pokok.
Dan karena aku introvert inilah, aku benar-benar memilih kepada siapa aku akan bercerita. Aku harus pastikan mereka tutup mulut atas semua cerita yang kusampaikan. Akhirnya yang dekat denganku hanya segelintir, sementara yang lainnya dekat denganku sebatas teman. Ada bedanya kan antara teman dan sahabat?
Aku mengerti apa yang terlintas di pikiran orang rumah ketika aku sendirian. Melamun, mungkin, atau tidur-tiduran. Tidak, tidak, bukan hanya sekadar melamun atau tiduran yang kulakukan. Ketika dalam posisi berbaring, aku bisa berpikir jernih, merenung, memikikan isu global, semua hal masuk ke dalam pikiranku ketika aku sendiri.
Namun, satu hal yang akan kutegaskan: aku bukan anti sosial. Aku punya banyak teman. Aku tahu memang di SMP pertemananku buruk, tapi kuharap mereka tidak lupa bahwa manusia bisa berkembang. SMA adalah saat-saat yang paling kunikmati dan pertemananku baik-baik saja. Aku bercanda dan tertawa bersama mereka. Kuharap mereka tidak lupa bahwa aku juga belajar sosialisasi di boarding. Kuharap mereka tidak lupa bahwa aku suka berteman dengan orang yang baru kukenal.
Saranku, cobalah sesekali mengunjungiku di kota kelahiran keduaku, Surakarta.
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar