Langsung ke konten utama

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?".

"Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?".

"Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,".

"Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem.

Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua, aku teringat kisah di jaman Khulafaur Rasyidin, agak lupa-lupa gitu sama kisahnya, di mana ada seseorang yang diadukan ke Khalifah karena mengatakan tiga hal yang dianggap menistakan agama, lalu orang tersebut akhirnya menjelaskan maksud ketiga perkataannya. Aku ingatnya hanya perkataan ketiganya di mana dia berkata, "Aku memiliki apa yang tidak Allah miliki," dan itu maksudnya adalah, "Aku punya istri dan anak, sementara Allah tidak," berdasarkan Surah Al Ikhlas ayat 3. Orang tersebut akhirnya bebas dari tuduhan penistaan agama.

Ada kalanya sih perkataan seseorang itu sekadar "judul" semata dan sering kali kita lebih fokus sama "judul" tersebut daripada keseluruhan isinya. Orang akan lebih cenderung menjatuhkan judgement terhadap judulnya, padahal pengetahuannya akan keseluruhan makna benar-benar nol besar. 

Analoginya versiku adalah lagunya Arashi yang judulnya My Girl. Ketika orang hanya membaca judulnya atau mendengarkan lagunya sekilas, My Girl ini tampaknya ditujukan kepada kekasih yang terpisah jauh. Namun, ketika menonton video klipnya dan mendengarkan lagunya sekali lagi barulah orang tahu kalau lagu My Girl maknanya tentang rasa terima kasih dan kangen seorang anak kepada ibunya yang sudah lama meninggal. My Girl maknanya ternyata 'Ibuku'. Aku juga baru tahu ketika menonton video klipnya. 

See? Sering kita terkecoh dengan "judul", bukan?

Berkaca kepada kisah tadi, sikap Khalifah yang mau mendengarkan perkataan dan penjelasannya adalah sikap yang benar-benar bijak. Bayangkan deh kalau langsung dijatuhi hukuman dan setelah dihukum Khalifah baru tahu penjelasannya, betapa besar pastinya penyesalan yang dirasakan, bukan? 

Kurasa, seharusnya itulah sikap kita ketika mendengar sesuatu seperti perkataan si A. Tanyakan. Pastikan. Menjatuhkan judgement kepada seseorang memang mudah, tetapi pada akhirnya akan selalu berujung menyakitkan kepada semuanya. Sering bukan pepatah don't judge a book by its cover berlaku di dalam hidup kita? Pepatah ini kan mengajarkan kepada kita agar berhati-hati dalam menilai segala sesuatu. Belum tentu DVD tentang wildlife benar-benar menceritakan tentang kehidupan binatang di alam liar, bisa jadi lain cerita kalau itu di tangan para penjual DVD you know lah (hahahaha guyon doang lho ini). Belum tentu juga sebuah buku yang tersegel plastik, warnanya tidak menarik, dan hanya berjudul Life isinya membosankan, bisa jadi ternyata isinya jauh lebih menarik dari yang diduga dan halamannya penuh warna. 

Lagipula, sering kali judgement itu dibumbui prasangka-prasangka halus kita dan...bukankah sebagian besar prasangka adalah dosa? Sebelum mengetahui makna sebenarnya, simpanlah prasangka itu untuk diri kita sendiri. 

"Judul" itu sering kali hanya pemanis, kok. Agar menarik perhatian orang untuk mengetahui makna sesungguhnya. Pepatah-pepatah, kata-kata mutiara, dan idiom-idiom sering kali dibuat semenarik mungkin dan biasanya memiliki makna tertentu, bukan? Sering kali orang melemparkan "judul" kontroversial, tetapi maksud terbesarnya sesungguhnya adalah untuk mengajak para pendengarnya untuk mencari tahu. 

Namun, berapa banyak orang yang mau tahu? Berapa banyak yang mau berpikir dan bertanya?


Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...