Langsung ke konten utama

Unaccidental Gratitude Message

Sampai sekarang, ada satu hal yang harusnya sih disampaikan dari dulu sejak SMA. Namun, sampai lulus pun aku lupa. Well, belum terlambat. Karena itulah postingan kali ini didedikasikan untuk Miss Iffah, guru bahasa Indonesia dulu di SMA.

"Kayaknya rasa terima kasih ini nggak terlalu penting deh, Miss. Namun, tetap saja deh, aku harus bilang terima kasih. Terima kasih karena sudah mengenalkanku kepada Arashi!".

Aku sudah mengenal Arashi sejak menonton Boys Over Flowers versi Jepang (as every J-Pop fans know, it is Hana Yori Dango) dan mulai familiar dengan wajah Matsumoto Jun, tetapi nggak tahu kenapa meski dialah yang paling ganteng di antara personel Arashi lainnya, aku belum tertarik mencari info lebih lanjut tentang Arashi. Paling mengoleksi single-nya yang saat itu jadi original soundtrack kedua drama itu: Wish, Love So Sweet, dan One Love. Itu pun single itu aku taruh di folder Ost Hana Yori Dango (kalau sekarang dijadikan satu folder sama single Arashi yang lain, koleksinya udah hampir 200-an, drastis banget perubahannya).

Itu tidak lama sih, sampai akhirnya masa SMA datang. Aku tidak akan lupa hari itu. Saat itu aku masih kelas X. Masih polos nan suci (halah).

Miss Iffah, guru bahasa Indonesia, saat itu mengajar dan menjanjikan menonton drama kalau sudah selesai pelajaran. Nah, begitu pelajaran selesai, janji itu ditepati. Miss Iffah memutarkan satu drama yang sampai sekarang nggak akan aku lupakan: Yamada Taro Monogatari. Salah satu temanku bilang, bahwa ada personel Arashi yang main di situ (dia bilang gitu karena aku pernah bilang aku suka Arashi meski belum sampai sukaaaaa banget seperti sekarang). Aku cuma iya-in aja karena nggak tahu bahwa memang ada personel Arashi yang main, nggak hanya satu, tetapi dua sekaligus. 

Tahu kan yang mana? Si murid miskin nan imut-imut Yamada Taro (diperankan Ninomiya Kazunari a.k.a. Nino) dan si murid kaya nan jutek, tetapi perhatian Mimura Takuya (diperankan Sakurai Sho a.k.a. Sho).

Aku ingat sekali semua temanku asyik menonton drama itu, tanpa mereka peduli siapa yang main, mereka kenal atau nggak, dan itu diputarkan menggunakan LCD kelas. So it was a classroom show, indeed. Yamada Taro Monogatari was funny. Khas banget waktu lihat murid cewek di drama pingsan pas ada Yamada Taro atau Mimura Takuya. Indeed, aku yang saat itu belum kenal Arashi banget sebenarnya amazed, kagum dengan akting mereka. Terutama aku terfokus kepada yang main Yamada Taro.

Well, semua menikmatinya yang jelas, bahkan sampai ditonton saat makan siang bersama dan ketika waktu salat Zuhur tiba sampai harus di-pause dramanya.

Aku minta file dramanya setelah itu, lupa minta langsung ke Miss Iffah atau lewat temanku, tetapi yang jelas drama itu masih ada di laptopku sampai sekarang.

Liburan akhir semester satu kelas XI, akhir Desember 2014, aku menonton lagi Yamada Taro Monogatari. Indeed, it remains me to Miss Iffah a lot. Berkat drama itu, aku mulai kepo soal Arashi dan mencari soundtrack dramanya, Happiness. Baru aku tahu bahwa tidak hanya satu, ada dua personel Arashi yang main di drama tersebut. Baru akhirnya aku kenal Arashi. Baru akhirnya aku kenal lagu-lagu inspiratif mereka. 

So that is why I have to thank Miss Iffah a lot. Aku senang sekali di hari pertama kali Miss Iffah memutarkan drama Yamada Taro Monogatari. It is unforgettable story. 

Itu rasa terima kasihku pertama kepada Miss Iffah di postingan ini, karena secara nggak langsung aku jadi tahu Arashi lewat beliau.

Ada banyak hal juga yang membuatku ingin berterima kasih. Aku ingat saat kelas XI semester dua, kami sekelas menonton film Soekarno untuk tugas bahasa Indonesia. Ada scene di mana Soekarno membicarakan masa depan Indonesia dengan Hatta. Untukku yang benar-benar sentimental, karena scene itu mengingatkanku kepada kondisi Indonesia sekarang, aku menangis. Teman-teman menertawakanku karena hal itu, tetapi Miss Iffah bilang, "Nggak apa-apa dong, bagus kalau Antania nangis, berarti dia kan nasionalis,".

Indeed, I am an Islamic nationalist, thank you very much for the comforting, Miss Iffah.

Mungkin, hal itu belum termasuk beberapa toleransi juga ketika aku tidak mengumpulkan tugas (but still I got a good score in bahasa Indonesia, thanks a lot), atau ketika aku dan teman-teman makan bersama di rumahnya, atau ketika beliau banyak membantuku menjawab soal UN bahasa Indonesia yang parah susahnya, atau ketika refreshing di kelas dengan dramanya (Yamada Taro Monogatari, aku nggak akan pernah lupa), atau ketika menjadi wali kelasku, atau...atau...

Yes, indeed, this post is special edition for her. Tentang semua hal yang aku ingat ketika bersama Miss Iffah, bahkan atau-nya tadi sampai tidak bisa diteruskan karena terlalu banyak, ne? Mungkin akan memenuhi postingan ini. 

Arigato gozaimasu, Sensei.


Yours,
Anissa Antania Hanjani

P.S.: For Miss Iffah if you read this post, coba deh sesekali gitu bisa perdengarkan lagunya Arashi di kelas xD aku bisa jamin lagu-lagunya menyenangkan dan inspiring people. I think students can take a lot of lessons through their songs. Because as a student too in the past, I had taken many lessons from their songs.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...