Untuk Anissa Antania Hanjani 20 tahun yang akan datang...
Halo, gimana kabarmu? Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Sibuk seperti biasa? Banyak kegiatan?
Apa yang kau kerjakan sekarang? Apa profesimu? Diplomat? Menteri luar negeri? Duta besar? Dosen? Guru? Ibu rumah tangga?
Apapun yang kau kerjakan sekarang, itu adalah akumulasi dari apa yang kukerjakan sekarang. Aku tahu sih pekerjaanku tidak pernah sempurna, haha. Namun, jadi apapun kamu kelak di masa depan kuharap kamu tetap melakukan yang terbaik, bahkan jika kamu hanyalah seorang ibu rumah tangga.
Maafkan aku jika akumulasi dari apa yang kukerjakan dan kuputuskan saat ini memengaruhimu di masa mendatang, tetapi kurasa inilah jalan terbaik Tuhan untukku dan untukmu. Tuhan sudah merencanakan sesuatu. Ikuti saja alurnya. Yah, meski beberapa pilihan kurasa kurang tepat, tetapi Tuhan kan sudah memberiku kesempatan untuk memilih, jadi mungkin aku harus minta maaf lagi jika itu benar-benar memberimu dampak di masa depan.
Ada banyak sekali yang ingin kusampaikan kepadamu, lho. Aku sudah terlalu sering bertanya-tanya, seperti apa sih kehidupanku di masa depan? Apakah aku masih ada di dunia? Atau justru malah sudah tiada? Yah, tetapi ada dan tiadanya kamu kelak, aku hanya berharap bahwa kamu sudah melakukan yang terbaik. Untuk keluarga. Untuk lingkungan sekitar. Untuk bangsa yang kita cintai ini.
Hei, aku di masa depan! Seperti apa Indonesia 20 tahun kelak? Di sini sedang banyak isu sentimen SARA. Berkat isu itu, kau tahu kan, itu memengaruhi hubungan pertemananku. Tidak masalah sih, toh akan terlihat bukan siapa yang benar-benar teman dan siapa yang bukan berkat isu ini. Tidak, maksudku bukan masalah siapa yang akan sepihak denganku dan siapa yang tidak. Aku bukan tipe orang seperti mereka yang menilai pertemanan berdasarkan hal itu. Ada yang lebih penting daripada itu: siapa yang akan tetap menerimaku dengan pilihanku dan siapa yang tidak. Itu yang terpenting, bukan?
Kau masih ingat Faifda, bukan? Sahabatku di kampus? Kami sering mengutarakan argumen masing-masing, tetapi aku bersyukur dia menerimaku dengan seluruh pilihan yang aku teken dan, tentu saja, aku menerima dia dengan seluruh pilihan yang dia buat. Kami sering berbeda pendapat, tetapi kulihat argumennya jauh lebih logis daripada teman-teman yang saat ini renggang denganku. Berkat argumen-argumen itulah dia memutuskan pindah jurusan ke HI. Ingin belajar politik lebih dalam katanya. Ingat kan, kuatnya pertemanan kami memengaruhi banyak hal? Karena sama-sama jadi mentor, kami saling memercayakan. Aku memercayakan adikku ke dia kalau kelak adikku di FISIP Undip dan dia memercayaiku mentee-nya kalau dia jadi pindah jurusan ke universitas lain. Entah mengapa, aku langsung berharap semoga kamu di masa depan masih bersahabat dengannya. Jarang sekali menemukan orang seperti itu.
Kuharap di masa depan kelak, kamu menemukan orang-orang yang seperti itu. Orang-orang yang tetap menerimamu dengan apa yang kamu pilih, entah itu pilihan politikmu, agamamu (siapa tahu kan ternyata kamu tinggal di luar negeri di mana Islam menjadi mayoritas?), subjektivitasmu, pokoknya apapun.
Kuharap juga, kondisi Indonesia 20 tahun mendatang tidak seperti yang kualami sekarang. Aku sudah jengah dengan permainan isu sentimen SARA ini. Aku ingin Indonesia di masa depan yang kamu tinggali adalah rumah bagi semua pemeluk agama, etnis, dan kepercayaan. Bukankah rumah adalah sebuah tempat di mana kau bisa pulang? Tempat di mana hawa yang terasa familiar menyambutmu dengan hangat? Aku membayangkan betapa menyenangkannya jika semua warga negara Indonesia saling memiliki Indonesia bersama-sama sebagai sebuah rumah. Tempat di mana mereka bisa beribadah dengan tenang, merayakan budaya dengan khidmat, dan merekatkan toleransi dengan rela.
Semoga pada 20 tahun yang akan datang, kau menemukan orang-orang yang akan membuatmu merasa di rumah. Orang-orang yang membuka hatinya untukmu apa adanya. Orang-orang yang akan menawarkan tangannya dalam pelaksanaan ibadahmu sehari-hari. Orang-orang yang berbagi air mata kegembiraan. Betapa menyenangkannya jika Indonesia, tidak, bahkan seluruh dunia bisa berbagi perasaan hangat itu.
Jika Indonesia yang kamu tinggali belum seperti itu, aku ingin menyemangatimu sekuat tenaga untuk lakukan yang terbaik. Aku akan berusaha keras kok supaya dalam 20 tahun dari sekarang kamu dan semua orang mendapatkan rumah layak huni bagi semua kalangan. Aku janji akan berusaha memberikan pilihan yang paling logis, rasional, dan efektif bagi semuanya. Namun, jika dalam pemilihan itu aku masih melakukan kesalahan, kuharap kamu memaafkanku dengan rela. Aku hanya manusia biasa yang tidak akan pernah sempurna.
Namun, aku bisa menjanjikan satu hal kepadamu: aku tidak akan pernah mengklaim bahwa diriku dan segolongan orang adalah pelaksana kehendak Tuhan dan tetap jadi manusia biasa.
Jadi, kuharap kamu tidak patah semangat ya, aku di masa depan!
Ada banyak hal trivia yang ingin kutanyakan sih, misalnya...um, siapa teman hidupku, berapa anakku, dan lainnya.
Eh, tidak usah. Aku ingin yang rahasia tetap menjadi rahasia.
Sebab, aku ingin menjalani hidupku yang sekarang. Sebaik mungkin.
Yours,
Anissa Antania Hanjani 20 tahun yang lalu
Komentar
Posting Komentar