I can be good without a man
So don't come by me if you are not sure
I don't sell myself to anyone
Because I don't need a man, I don't need a man
Beberapa bulan lalu aku mengobrol dengan salah seorang teman perempuan. Karena sama-sama perempuan, of course, this is girl's talk. Kami membicarakan segala sesuatu tentang laki-laki, mulai dari tipe kesukaan dan keinginan untuk dating. Ketika aku mengatakan bahwa saat ini nggak mau berpacaran, dia menatapku lurus-lurus dan berkata, "Kamu tuh gimana sih, Nis? I know what so called as your principles, tetapi di usiamu sekarang kamu harus bertemu dengan banyak laki-laki. Seusia sekarang, banyak-banyak mantan nggak apa-apa. Gimana kamu tahu lelakimu kelak kalau nggak pacaran?". Kira-kira begitu yang dia katakan.
Aku hanya nyengir kuda.
Teman perempuanku itu adalah satu dari sekian orang yang bertanya dan menanggapi prinsipku untuk nggak berpacaran, tetapi dialah yang paling keras berkomentar. I understand it well, since she and I have different beliefs and religions. Mungkin dia belum paham kalau aku terangkan bahwa agamaku sangat tidak menganjurkan untuk pacaran, well.
Seandainya saja diberi kesempatan untuk menjelaskannya lagi kepadanya, lain kali aku akan memperdengarkan lagunya Miss A yang berjudul I Don't Need A Man. Lagu itu benar-benar aku banget dan menggambarkan persisnya alasanku untuk no dating. Menggambarkan alasanku tidak mau berpacaran selain karena prinsip agama dengan tepat.
For me, dan mungkin untuk perempuan yang kini berprinsip sama denganku, tidak mau berpacaran bukan berarti tidak mau mengenal laki-laki. Bagiku, saat ini waktu lebih berharga digunakan untuk pengembangan diri seluas-luasnya. Tidak berpacaran juga tidak membawa dampak banyak kepada kehidupan perkuliahan. Paling-paling kena ejekan jomblo, haha, and that's not silly at all.
Bagiku, ketika aku telah memutuskan untuk tidak pacaran, waktuku cukup hemat dan perasaanku tidak terbuang sia-sia untuk laki-laki yang bahkan belum tentu menjadi teman hidupku di masa depan. Waktu lebih produktif karena nggak galau dan merana (kalau lagi bertengkar). I can do even many things I couldn't do that time when I had a boyfriend. Bangun pagi, terkadang tidak sempat sarapan dan makan siang, menjalani hari-hari yang sibuk. Tampak melelahkan, tetapi justru itu membuatku lebih bangga kepada diriku sendiri. I am good without a man and I can be good without him.
Aku sejujurnya banyak membandingkan masa ketika dulu punya pacar dan tidak. I used to depend more when I had a boyfriend. Bahkan, nilai-nilaiku juga jadinya bergantung dengan mood-ku. Yaa...ketika hubungan sedang lancar-lancarnya, nilaiku juga lancar, begitu juga sebaliknya. Kelas IX SMP nilaiku naik turun karena hal tersebut. Saat ini ketika menikmati masa-masa single, nilai-nilaiku stabil, bahkan meningkat. Aku punya lebih banyak waktu untuk belajar dan menulis. Perasaanku nggak campur aduk, jauh lebih tentram dan menyenangkan. Meski mood masih nggak stabil (karena maklum ya kan cewek hahaha), seenggaknya jauh lebih stabil daripada saat pacaran dulu. And I don't have to waste my tears for someone who even his existence is unsure in my future.
Ada banyak hal yang berubah setelah menjalani masa single. Jauh lebih sibuk. Jauh lebih banyak pekerjaan. Namun, hal itu malah semakin membuatku berbangga kepada diriku sendiri. Because, I can prove to the world that I am fine without a man.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar