Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Mr. Izz

I nearly lost my words to tell you a story about this incredible man. I am always thankful that God made me faith to meet him: my teacher, my master, my role model, and for me, even my father. Akhir-akhir ini ketika aku kembali melihat ke belakang, rasa terima kasih itu selalu bertambah setiap harinya. Beliau benar-benar mempersiapkanku dengan baik untuk terjun dalam kehidupan yang sebenarnya di kampus. Well, rasanya masih seperti kemarin ketika beliau cerita ini dan itu tentang kampus, rumitnya hubungan interpersonal di sana, parahnya persaingan di dalam, dan lainnya. Ketika Tuhan menakdirkanku berhasil melaluinya, setelah bersyukur kepada-Nya, dalam hati aku selalu ingat seseorang pernah menceritakan hal itu sebelumnya dan aku berterima kasih sekali. "Sebenarnya sih, kamu nggak usah SMA," kata beliau suatu hari di kantor guru. "Langsung kuliah aja, ngapain buang-buang waktu di SMA?". "Hah? Langsung kuliah? Kok bisa?" tanyaku heran. ...

Paradoks

Hari ini baru aja baca status tentang ustadz yang dipersekusi di Bali. Yaa...si ustadz yang dulu menghina fisik artis. Ada yang minta pemerintah bersikap, tetapi ada juga yang bilang, "Kalau tak ada asap, ya tak akan ada api,". Begitu seterusnya. Lucu nggak sih, dari satu topik ini saja aku jadi pusing sendiri dan akhirnya memutuskan jalan kaki ke sungai dekat rumah sore ini biar dapat pencerahan (ahahaha...berasa orang bertapa nggak sih?). Waktu-waktu senggang sore di luar rumah membawa pikiranku ke banyak tempat. Teringat kemarin aku memutuskan untuk unfollow Ustadz FS. Teringat instastory teman-teman tentang FS melawan AJ di sebuah stasiun TV kemarin. Banyak hal yang masuk ke dalam pikiranku sore ini dan itu membuatku tersadar, sekaligus menemukan pertanyaan baru. Aku tersadar, sebenarnya alasan mengapa aku menentang ide-ide khilafah dan ideologi transnasional ternyata sudah lama. Sejak melihat bendera hitam putih bertuliskan kalimat-kalimat Tuhan berkibar, me...

True Self

Minggu, 15 Oktober 2017 "...sebenarnya banyak sih yang ngomongin kamu di belakang waktu itu, tapi aku juga nggak suka kamu di-judge seenaknya gitu,". "...". "Waktu terakhir main ke sana sih guru-guru juga pada bilang, 'Antania sekarang berubah banget setelah masuk HI,',". "..." * * * Selasa, 5 Desember 2017 "Aku pergi dulu ya ke rumah Ayu!" sahutku dari pintu belakang. "Aku ambil sendiri uang sakunya,". Ini adalah minggu-minggu ujian semester. Aku dan Ayu memutuskan untuk sering belajar bareng. Aku bukan tipikal orang yang biasa belajar di rumah, sih. Beuh, yang ada malah tidur aku kalau di rumah. Meja belajar sama kasur jaraknya cuma dua langkah. Aku menatap kontak WhatsApp-ku sebelum berangkat dan tertegun melihat beberapa kontak yang hilang dari daftar, lalu memutuskan kembali ke kamar sebentar untuk mengecek nomor yang perlu ditambahkan. Ah, aku baru saja ganti HP dan nomornya y...

Pursuing So-Called Career

Tanggal 2 Desember kemarin ada keseruan tersendiri di Semarang, to be exact di Hotel Ibis Simpang Lima. Mata kuliah Diplomasi melangsungkan proyek kelas yang menurutku asyik setengah mati. Kami melakukan Model United Nation (MUN), sidang ala-ala PBB, dengan chamber UNHCR dan topik pengungsi Rohingya. Well, aku pertamanya nggak se- excited itu dan dari awal berpikir MUN ini istilahnya yaa...main diplomat-diplomatan. Istilah sosiologinya play stage (kalau tidak salah), di mana anak akan belajar dengan bermain peran. Karena aku tahu payah banget kemarin diriku di IRDUMUN tahun lalu, kali ini aku nggak berharap lebih. Namun, melihat teman-temanku sekelompok yang udah solid sejak pertama kali kita janjian buat position paper, rasanya hal ini menjanjikan juga. Oh, sampai lupa. Aku, Alvin, Satya, Ugro, dan Maul mewakili negara Laos. Seiring berjalannya waktu, ternyata aku menemukan sesuatu di sana. Sesuatu yang buat aku menggebu-gebu setengah mati. Aku menemukan semangat yang rasany...

Gekkou

Unch, yang sebentar lagi 20 tahun. Aku jujur aja deg-degan sih memikirkannya. Ya ampun, cepat banget sih waktu berlalu. Nggak kerasa banget udah masuk zona dewasa muda. Sebentar lagi berkarir lalu...menikah. Menikah ya? Dua hari lalu teman-temanku mencurahkan perasaan mereka tentang laki-laki yang mereka suka. Mengejutkannya, meski sudah punya pacar, mereka pun tetap bisa suka dengan orang lain. Haha, apalah aku ya yang pacarannya sama buku dan jurnal. Eh, tapi kurasa mereka sudah di tahap menentukan perasaan, deh. Mereka ada di tahap mencari dan menemukan sosok laki-laki ideal di mata mereka. Ternyata, bahkan pacar mereka sekali pun tidak masuk kategori ideal untuk mereka. Yah, meski pacar mereka beneran sayang dan setia. Hari ini aku menatap langit lagi seusai ujian dan bertanya-tanya apakah diriku sendiri sudah menetapkan laki-laki seperti apa yang ingin kunikahi...mungkin dalam beberapa tahun lagi. Kurasa belum, sih. Namun, aku selalu tahu seperti apa laki-laki yan...

Where Is The Love?

"Mbak Devi, suratnya udah aku siapin! Besok ya aku bawa!" sahutku siang ini di kampus usai kuliah. Mbak Devi hanya melambaikan tangannya, sekilas aku melihatnya mengangguk sebelum kami pergi berlawanan arah. "Dia...sama seperti aku juga," kisahku kepada temanku. "Mbak Devi juga diintimidasi teman-temannya. Bayangin deh, jilbabnya lebih panjang dari aku. Pokoknya the best lah. Namun, yaa...gitu. Dia banyak dijauhi teman-temannya juga karena memilih Ahok. Malah dia jadi sukarelawan juga lho di Rumah Lembang selama masa kampanye,". Rasa sakit dan kecewa itu tertinggal jauh di dalam ulu hati, terus terasa sampai sekarang. Aku bertanya-tanya apakah Mbak Devi merasakan rasa sakit dan kecewa itu. Mulai dijauhi setelah memilih masuk GMNI ketimbang KAMMI, terus berlanjut ketika dia memilih Ahok di Pilkada Jakarta. Coba kalau itu aku yang super baperan ini di posisinya Mbak Devi, nggak tahu deh udah jadi apa. She's great .  Namun, tetap saja aku...

Di Balik Layar

Pernah nggak sih kamu membayangkan di pagi hari ketika kamu bangun dari tidurmu sudah ada pertanyaan menggantung di kepala? Siang ketika kamu di kampus pertanyaan itu belum hilang juga. Malam ketika kamu berkumpul dengan keluarga pertanyaan itu masih ada. Lagi, lagi, dan lagi. Kamu terus mengulang hari- hari seperti itu. Pernahkah? Siang itu aku berdiri di koridor depan kelas di kampus. Dosenku ada di sana kala itu, sedang berdiri di luar juga. "Mas, saya boleh bertanya?" Aku meminta ijin. "Nggak boleh," canda beliau. "Kamu mau tanya apa?". "Pandangan Mas tentang politik dan agama seperti apa?" tanyaku. "Kok tiba-tiba kamu tanya begitu?". "Hidup saya berubah," Aku menghela napas. "Setelah aksi 411 dan 212,". "Hah? Memangnya kamu ikutan?". "Nggak, Mas,". Dosenku sepertinya masih penasaran dengan kisahku, tetapi pembicaraan kami terpotong oleh dosen mata kuliahku...

A Letter For My Future 20s Self

Greetings from your 19-years-old self! I can't wish everything besides your great health and life to be better and better again, so that you can do everything well. That's the greatest bless from God, isn't that? Make sure to do a good deed and smile, that's how to reduce your stress and pressure. Don't forget to call your best friend too, it can help you a lot to pass your day. I really hope that you're doing a good job so that you can make people smile. You don't have to rush to get married. Even it's okay if you haven't married yet in your last 20s. You know, marriage is something that (I wish) can only be done once in a lifetime so you don't have to hurry. It is difficult to find someone who truly loves you for who you are, what your choices are, and what you believe in. Enjoy your trip to find someone like that and I hope you can make it. I do wish that you have found your answer for every questions that once stuck in your mind....

Yameru(?)

Hidup itu seperti menyusuri jalan raya dengan kendaraan. Ada banyak rambu di sana, entah itu berupa lampu lalu lintas, rambu parkir, berhenti, jalan terus, dilarang berhenti, dan lain sebagainya. Entah mengapa, sepertinya tiba masaku untuk mematuhi salah satu rambu di sana. Banyak orang mengatakan kepadaku bahwa aku berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya, meski aku tidak tahu apapun yang membedakanku. Aku memiliki identitas dan persepsi, tetapi aku menganggap diriku sama dengan orang lain pada umumnya. Bahwa aku tidak memiliki sesuatu yang mereka sebut "unik" dan "spesial". Aku adalah perwujudan bagaimana keluarga dan lingkungan membentukku sedemikian rupa, inilah yang membuatku beranggapan bahwa aku sama. Maksudku, bukankah setiap orang dibesarkan lewat interaksinya? Bukankah aku juga tumbuh dan berkembang dari interaksi itu? Namun, ternyata aku salah dan mereka benar. Aku (sedikit) berbeda. Ketika aku menyadarinya, entah mengapa rasanya itu membua...

Anissa's View: Nothing Good Comes Out from The Fight of Power

Memperingati Hari Kesaktian Pancasila, aku merayakannya dengan hal yang anti-mainstream . Nonton Pengkhianatan G 30 S / PKI terlalu biasa dan aku paling benci film propaganda (yang sampai sekarang masih kunilai bodoh dan pemutarannya adalah pembodohan massal). Lagipula, dua kali kusia-siakan waktuku menonton film itu. Jadi, aku memutuskan menonton film dokumenter Jagal (The Act of Killing) dan Senyap (The Act of Silence) karya Joshua Oppenheimer yang menceritakan pembantaian pasca G 30 S / PKI dari 1965-1966. Selain itu aku juga menonton beberapa dokumenter sejarah seperti Mass Grave. Siang ini, aku terduduk diam di sofa hitam. Mama yang sedang bekerja saat itu menjadi teman bercakap-cakap. "Nggak pernah ada yang baik dari perebutan kekuasaan," Aku menghela napas. "Kenapa sih orang-orang rela saling membunuh untuk kekuasaan?". "Ya memang itu kejamnya politik," jawab Mama. "Tidak pernah ada yang tahu bagaimana sebenarnya kejadian G 30 S / ...

Natsu no Namae

Once, I ever found myself fell in love with someone. That overwhelming feeling filled me and made butterflies flew on my belly. It was such a long memory, but I remembered it clearly. I smiled like crazy when he smiled and threw some silly jokes. We laughed at our embarrassing common things. I knew him well, so did he. But, I never knew his feeling towards me. The thing that I was sure about it was I...was kind of sad when he was sad, I was happy when he was.   It has been almost 4 years ago, but I remembered it clearly. The feeling when I felt that this friendship zone would be long last. It was much more better than the risk I should face if he knew, I thought. I never got any brave to say it, aside from my religion dogma, because it was already better this way. I thought he never knew it.   Well, I did many things to make him saw me. Even the most silly things. I made my best effort, inside and outside, so that he would say, "I knew it! I never doubt you! You are t...

Exorcism: Believe It For Real

Oke, ini mungkin akan jadi salah satu posting terhoror di blog ini, but this is from my own experience and it just happened this evening. Percaya atau nggak, terserah aja. Logis atau tidak, aku sendiri juga nggak tahu. But, I believe it for real, because it is happened to me . Sore ini aku ruqyah. Honestly, I have a problem with my unstable emotion, so that we, my parents and I, agree that we have to do something. Ruqyah adalah alternatifnya. Well, aku pertamanya bukan nggak percaya. Hanya skeptis. Aku belum pernah mengalami ini soalnya , jadi sore itu waktu datang ke ruqyah center ya aku biasa aja. A bit angry, to be exact, because this afternoon I just felt uneasy with my parents due to our argument . Aku jujur aja skeptis masalah ruqyah ini. Kalau emang aku diganggu jin, well, nggak ada perasaan aneh kok waktu dengerin atau pas lagi ngaji. Biasa aja. Pokoknya semua biasa. Jadi, gimana reaksiku kalau aku yang biasa-biasa aja, yang cuma punya masalah dengan energi negatif dan...

Straight Things Out

Satu bulan di semester ketiga berjalan lancar. Beberapa mata kuliah lancar, meski beberapa juga aku menemui kesulitan. Uh, terutama Hukum Internasional dan Hukum Pidana Internasional, aku nggak ngerti lagi itu kenapa bisa susah banget (kecuali pas HPI belajar tentang ekstradisi sih, itu favorit banget). Um...sisanya lancar, bisa dibilang begitu, meski aku butuh banyak bantuan di Studi Eropa. Studi Keamanan, seperti yang diduga, menjadi mata kuliah favoritku. Tugasnya susah sih, disuruh mengkritik tesis dan esai di jurnal internasional gitu, tetapi berkat bacaan-bacaan itu wawasanku bertambah. Aku berusaha mengerjakannya dengan baik juga meski harus begadang karena ingin membuat dosenku, Mas Rosyid, terkesan dengan tulisan dan analisisku. Alhamdulillah, response paper-ku minggu lalu menjadi favorit beliau dan salah satu yang terbaik. Organisasiku lancar. Aku dan Satya bertanggung jawab untuk mentoring PKM. Satya itu partner kerja paling menyenangkan. Selain ngobrolin masalah mentor...