I nearly lost my words to tell you a story about this incredible man. I am always thankful that God made me faith to meet him: my teacher, my master, my role model, and for me, even my father.
Akhir-akhir ini ketika aku kembali melihat ke belakang, rasa terima kasih itu selalu bertambah setiap harinya. Beliau benar-benar mempersiapkanku dengan baik untuk terjun dalam kehidupan yang sebenarnya di kampus. Well, rasanya masih seperti kemarin ketika beliau cerita ini dan itu tentang kampus, rumitnya hubungan interpersonal di sana, parahnya persaingan di dalam, dan lainnya. Ketika Tuhan menakdirkanku berhasil melaluinya, setelah bersyukur kepada-Nya, dalam hati aku selalu ingat seseorang pernah menceritakan hal itu sebelumnya dan aku berterima kasih sekali.
"Sebenarnya sih, kamu nggak usah SMA," kata beliau suatu hari di kantor guru. "Langsung kuliah aja, ngapain buang-buang waktu di SMA?".
"Hah? Langsung kuliah? Kok bisa?" tanyaku heran.
"Kamu yang sekarang sudah seperti anak kuliahan,".
"Nggak, lah! Aku selesaikan dulu sekolahnya! Belajarku di sini saja belum rampung, kok tahu-tahu udah kuliah?".
"Oh, iya ya,".
Dulu aku sempat berpikir, sudut pandang orang lain akan melihat kami begitu dekat dan aku murid favoritnya. Kejadian di kelas Pendidikan Kewarganegaraan dulu yang paling kuingat, ketika aku paling banyak menjawab pertanyaan beliau di kelas, terang-terangan beliau berkata kepada yang lain, "Makanya baca, dong!". Atau ketika di Jogja dulu ketika yang lainnya biasa saja, beliau dua kali menelponku, bertanya bagaimana lombanya, apa yang sulit, kira-kira juara berapa.
Hm, setelah kuingat baik-baik ternyata tidak juga. Beliau keras kepadaku, kerasnya lebih daripada ketika beliau memarahi anak laki-laki yang terlambat salat Zuhur berjama'ah di masjid. Aku dimarahi ketika menyerah menemukan jawaban dan menggantungkan semuanya ke beliau. Aku juga dimarahi ketika menyerah sebelum mencoba. Ketika mengeluh capek terus-terusan. Ketika terus bertanya, "Apa sih yang membuatku berbeda dari orang lain?". Reaksiku? Ah, aku kan juga keras. Aku marah dalam hati, tetapi sambil tahan tangis sih, hahahaha.
Beliau tahu kalau aku marah. Tahu, soalnya ekspresiku mudah dibaca. Nggak usah pas marah deh, aku lagi punya masalah aja beliau tahu sekali lihat. But, he let me with my anger. Literally. Ketika beliau marah dan bilang, "Kamu kalau belum paham lagunya Joey McEntyre yang Stay The Same, nggak usah ke sini!", I was angry that time and he knew although I didn't say a word. And he remained me like that.
Atau, yang paling jelas kuingat, waktu kelas XII ketika aku menyerah nggak mau belajar untuk UN. It was the time when I literally show my anger. Aku marah betulan di kantor guru saat itu dan beliau nggak ngapa-ngapain. Nggak bilang bahwa aku nggak sopan atau apalah itu. Bahkan, ketika beliau menghampiriku setelah pulang sekolah, terang-terangan aku berkata, "If you're here not to answer my question, I better go!", beliau bahkan tertawa.
Karena ketika aku marah, semua itu berakhir dengan nasihat.
He didn't even try to lecture me. Ketika kami bicara setelah aku marah, nasihat itu tidak pernah terdengar menggurui dan entah mengapa kesannya menenangkan. Lama-kelamaan akhirnya aku paham.
* * *
Ada dua waktu favorit ketika aku masih jadi anak SMA. Pertama, istirahat. Kedua, jam kosong. Oke, siapa anak SMA yang nggak suka kedua waktu itu? Aku suka sekali malahan. Karena pada kedua waktu itulah aku bisa curi-curi pandang ke ruang guru, melihat beliau ada atau tidak, lalu mengobrol. Kalau tidak ada jam kosong, aku terkadang keluar. Siapa tahu kan beliau sedang di sekitar kelas menunggu waktu mengajar?
Apa yang kuobrolkan dengan beliau sebenarnya pertanyaan-pertanyaan sederhana. Apa itu hidup? Bagaimana masa depan? Bahkan, rasanya pertanyaan ini benar-benar trivial. Namun, aku suka cara beliau membahasnya. Jawaban pertanyaan itu jadi lebih dalam daripada yang seharusnya dan aku seakan diajak melihat lebih luas.
Terkadang, aku tidak menanyakan pertanyaan simpel ketika mengobrol. Tidak. Aku mengeluh. Mencibir iri kepada temanku yang bisa matematika. Mencibir iri karena tidak didampingi dulu saat latihan lomba debat. Literally, yep, aku iri-irian seperti anak kecil.
"Enak jadi si A, bisa matematika. Susah banget aku belajar, Sir. Capek,".
"Enak sih ya sekarang latihan lomba aja didampingin. Dulu aku latihan aja ditinggal terus,".
Dan dua keluhan di atas dijawab sebagai berikut:
"Kamu lupa dulu saya suruh pahami Stay The Same? I told you not to compare yourself to others like that, right?".
"Ada dua perbandingan mendasar antara kamu dan dia. Ibarat Messi dan Ronaldo. Dia sudah asli bisa dari sananya, sementara kamu perlu banyak kerja keras dan belajar. Namun, saya lebih suka yang bekerja keras,".
It made me smile.
Terkadang pula, aku tidak juga mengeluh atau bertanya. Aku curhat. Literally, setiap pertanyaan yang kutanyakan sebenarnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan aku melanjutkannya dengan curhat. Tentang apa yang disampaikan dalam mentoring boarding. Tentang masalahku dengan teman. Tentang apa yang kupikirkan.
Apa yang kusuka ketika aku bercerita dengan beliau adalah beliau benar-benar mendengarkan. He would stop his activity right after I started. Kalau ada yang belum jelas, beliau akan bertanya, "Maksudnya begini?", "Ulangi, gimana?", "Begini?", dan sebagainya. Baru setelah itu beliau menyampaikan pandangannya, lagi-lagi caranya tidak mengguruiku.
* * *
Aku tidak mengerti, bahkan hingga sekarang.
Thanks to him, aku tahu bahwa cara pikirku berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya. Tahu, bukan mengerti. Aku tahu ketika beberapa guru dari Pare menyuratiku dan berkata aku berbeda. Aku tahu ketika beliau bilang bahwa aku sedikit berbeda.
Tahu, bukan mengerti.
Karena kalau aku mengerti, tentunya pertanyaan-pertanyaan di kepalaku sudah terjawab. Aku hanya tahu bahwa aku berbeda dan ketika memutuskan mengakhiri pencarian jati diri, aku hanya menerima kondisi itu. Bukannya mengerti. Penjelasan logis yang masuk ke kepalaku hanya satu: sejak awal Tuhan memang sudah menciptakanku seperti ini.
Dulu ketika menyerahkan surat-surat itu ke beliau, aku pun sempat bertanya, "Mereka bilang aku berbeda dari teman-temanku yang lain. Memang iya ya?".
"Itu betulan kok, kamu memang beda dari anak-anak yang lain," jawab beliau.
"Memang apa sih yang bikin aku beda?".
"It's a secret," jawab beliau dengan tawa. "Even if I die, I will never tell you that!".
"Ih, apaan sih! Kasih tahu!".
"Kill me first, then I'll tell you!".
Itu awal mula ketika kepalaku mulai terisi pertanyaan-pertanyaan itu. Apa yang membuatku berbeda? Apa yang dilakukan orang lain, tetapi tidak kulakukan? Apa yang kulakukan, tetapi tidak dilakukan orang lain? Apa yang dipikirkan orang lain ketika mengalami masalahku? Apa yang kupikirkan ketika mengalami masalah orang lain?
Sudah 3 tahun berlalu ketika aku mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi sampai sekarang jawabannya masih tidak ketemu. Interaksiku dengan teman-teman selama kuliah juga tidak membuatku paham. Aku hanya melihat bahwa aku sama. Aku manusia. Aku tidak mengerti mengapa beliau dulu bilang aku siap masuk perkuliahan, aku berbeda, dan aku lebih dewasa ketimbang teman-teman sebayaku.
Padahal, aku selalu ingat selama 3 tahun teman-temanku bilang aku seperti anak-anak. Childish.
Pada akhirnya, itulah yang membuatku bingung ketika siang ini tiba-tiba beliau berucap di chat, "I am so proud of you,".
"Why?" tanyaku.
"I'm just proud,".
"I even don't know why. I grow up to be a messy person,".
"Messy?".
"I guess so, yeah, have neither guidance nor answer,".
"I think we'll never get any answer. All our life is a quest, a never ending journey. Remember Al Fatihah verse 6?".
"I do," Aku berhenti sejenak. "Ah, I understand. But still, you have no reason to be proud,".
"I do have reason. I just can't find the right words to say,".
"Even to explain the surface?".
"Even the surface,".
"Strange for you actually. You always have good words to say," kataku akhirnya.
"Not today,".
"It's an exception then,".
"Yes,".
"But all this time what I understand is you proud of me because I make a hard work. That's what I can explain. Oh, also because I am a survival,".
"Beyond that,".
"What do you mean?".
"You are more than a survival and a hard-working person,".
"More?".
"More,".
Aku menggeleng tidak mengerti.
* * *
Dulu aku mendeskripsikan kami berdua dengan banyak kata.
Aku hanya akan mendeskripsikan kami dengan perumpamaan ini saja sekarang. Karena aku melihat banyak kemiripan kami dengan hubungan yang sebelumnya pernah tercipta.
Hubungan kami bagaikan Helen Keller dan Annie Sullivan. Aku adalah Helen Keller yang buta, bisu, dan tuli. Tidak tahu apa-apa tentang dunia. Naif. Orang yang bisa mengajarkan hal dasar kepada Helen hanyalah Annie Sullivan sang guru.
Dan ya, beliaulah Annie Sullivan-ku.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar