Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

Menemukan Keluarga

Dewasa ini, aku mulai sering mencari tempat di mana pun yang kalau aku di sana, aku bisa merasakan feeling nyaman. Feel at home, sejenis itulah. Dulu, ABBS adalah keluarga kedua selama aku di Surakarta. Nyaman banget ngumpul bareng guru-guru dan teman-teman dulu itu.  Gimana dengan di universitas? Masih belum menemukan? Masih mencari? Aku bersyukur aku menemukannya lebih cepat daripada yang kuprediksi. Bahkan sebelum tengah semester. Sumpah aku bersyukur banget. Kumpul sama orang-orang itu, aku inget Allah. Kumpul sama orang-orang itu, aku inget dakwah. Fiuh. Di mana sih? That feeling aku dapatkan ketika resmi bergabung dengan Komisariat KAMMI FISIP Undip. Hari ini aku ikut rapat pertama dan feelingnya susah dijelaskan. Seneng pokoknya. Aku satu-satunya anggota komisariat dari angkatan 2016 (Mbak Bilbil bilang aku pelopornya, jiaahh...), tapi pas bareng mereka, aku langsung merasa udah lama banget barengnya. Tertawa. Aku nggak tahu udah lama kayaknya aku nggak ketawa s...

First Meeting of Rumah Pintar FISIP

Jumat kemarin aku punya cerita seru, lho! Jadi, Jumat malam kemarin adalah pertemuan pertama Rumah Pintar FISIP di Desa Rowosari. Desa ini memang sudah jadi desa binaannya FISIP. Rumah Pintar FISIP tempatnya gabung sama PAUD gitu dan bangunan itu berdiri di belakang rumahnya Bu Tutik, salah seorang warga desa di sana.  Hm, well...it is the most amazing story in life. Kalau Mr. Dimas cerita ngajar pertama beliau ke Papua, pelosok-pelosok gitu, kali ini aku juga ke pelosok. Aku, Mbak Devi, Mbak Bilbil, Mbak Risma, Syahri, dan Mbak Bela bareng-bareng berangkat rombongan gitu naik motor. Di jalan, kita shalawat bisa sampai dua kali. Pertama, pas kita lewat jalan sepi. Bayangin aja, udah jalan sepi nggak ada lampu. Ini kalo dibegal gimanaaa...ini. Ya Allah, aku masih terlalu mudaaaa....belum lulus sarjana juga, mana baru masuk, kalau mati sekarang kayaknya nggak lucu (halah). Kedua, pas lewatin jalanan rusak. Oke, jalanan rusak itu tuh bukan sekedar yang aspalnya berlubang. Ini...

Persiapan: Legislation Class

Aku baru nyadar satu hal saat ngobrol sama Mas Jadug via chat. Ternyata aku cukup sibuk.  Jumat ini seharusnya ada dua agenda yang harusnya aku ikuti. Pertama, upgrading HMHI di Bandungan. Karena tabrakan dengan pertemuan pertama Rumah Pintar FISIP, aku terpaksa ijin sama His Excellency Kepala Departemen DKA Mas Kevin Ali Sesarianto (biar seneng kalo katanya Mas Oddie, wkwk). Aku kemarin udah nggak ikut pembukaan Rumpin gara-gara DM KAMMI, masa' mau nggak datang lagi. Kebetulan, hari Sabtu malah kosong. Bukannya tiduran di rumah, aku malah mendaftar legislation class yang diadakan oleh Senat FISIP. Oke, ini sebenarnya bukan karena aku kurang kerjaan. Aku saat itu udah bilang mau datang di acara LC tersebut sama Mas Jadug. Masih dibayarin pula sama orangnya (rejeki anak shalihah ini, wkwk, makasih banyak).  Ketua komisi I DPD RI akan datang di acara ini, jadi...insya Allah bermanfaat. Oh, dan aku baru tahu ternyata syarat gabung di senat di semester 3 adalah mengik...

Bertahan, Menguatkan

Dua bulan berlalu. Perkuliahan berjalan seperti biasanya, tetapi rasa-rasanya tidak terlalu menyenangkan juga ketika sudah mulai ada masalah, terutama masalah keyakinan.  "Ini Indonesia, kalau seandainya kamu di Amerika yang liberal, kamu juga harus begitu biar beradaptasi," Hh...lucu. Lucu banget. Itu pernyataan yang seumur hidup tidak ada di dalam kamusku. Bahkan, itu pernyataan yang bagiku tabu. Sebelum aku mengenal Islam lebih jauh, aku sendiri nggak mau jadi ikut-ikutan begini begitu hanya supaya diterima orang lain. Konyol sekali. Aku punya identitasku sendiri, kenapa aku harus menyertakan identitas orang lain dalam diriku hanya supaya bisa diterima ? Lucu nggak sih? Lucu banget. Oke, katakanlah aku sama seperti yang Awkarin katakan dalam MV-nya dengan Young lex. Gue mau jadi apa adanya. Apa adanya aku bukan mabuk-mabukkan, pesta di bar, pamer harta, pamer kekayaan, dan lain sejenisnya. Apa adanya aku juga bukan berarti apatis. Lucu kan tiba-tiba aku dimint...

Andreas

Keajaiban datang. Aku mulai betah pake banget di FISIP, terutama di HI. Aku bisa menikmati alur kegiatannya. Semua menyenangkan. Oktober ada dua event yang insya Allah udah aku rencanakan buat ikutan. Pertama, IRDU Model United Nations, kedua, International Relations Visit (kunjungan ke Kedubes Amerika dan WWF nih, ga bisa disia-siain). Gimana dengan lingkungan agamanya? Alhamdulillah, ada banyak kakak tingkat yang mengarahkan, sehingga lama-lama aku save dari nilai-nilai yang nggak sepaham. Selain itu, dengan bergabungnya aku ke KAMMI, aku lebih mudah dikontrol. Motivasiku ikut kajian bertambah, tetapi uniknya motivasi ini bertambah karena seorang teman dekat non-muslim. Ya, namanya Andreas. Andreas Brian. Andreas Brian, aku biasa memanggilnya Andreas. Koordinator mata kuliah bahasa Perancis yang berbaik hati turun tangan membantu kesulitan teman-temannya dalam matkul tersebut (elah, serius susah, tulisannya apa bacanya apa). Sehari-harinya aku selalu menemukannya di perp...

Dauroh Marhalah I Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

Aku inget banget ketika barusan dilantik sebagai pengurus Luminous (organisasi alumninya ABBS). Mr. Iyad dan Mr. Ajung saat pembekalan udah wanti-wanti lebih baik nggak usah ikutan organisasi ekstra kampus. Kalau nanti dibai'at terus diculik? Kalau nanti diancam dibunuh kalau keluar? Kalau ternyata yang kamu masukin basisnya komunis? Gitu-gitu deh alasannya. Namun, realita yang terjadi berbeda. Setelah aku capek nggak ada teman, frustasi nggak ada yang ngingetin buat ini itu, akhirnya aku terima tawaran Mas Jadug buat masuk KAMMI. Pas dikasih tahu sih, aku sepenuhnya sadar itu organisasi ekstra, tapi aku mantap aja setelah melihat Mas Jadug dan Mas Luthfi Rahman (wakil BEM Undip) yang anak-anak KAMMI orangnya nggak aneh-aneh. Oke, aku ikut. Aku mengikuti feeling-ku dan harapannya semoga feeling itu bener. FYI, aku sebelumnya ditawari ikutan HMI, tapi aku sendiri agak takut juga. Kalau aku liat sih ya, yang pas banget sama apa yang udah aku dapat 3 tahun di SMA semuanya ada di ...

Jodoh

Males sebenarnya bikin tulisan ini lagi, tetapi apa daya. Lagi-lagi aku diribetkan masalah yang sama. Cowok. Huh. Sebel nggak sih? Iyaaaaa....pake banget. Oke, karena aku diributkan masalah ini lagi dan karena aku terganggu juga dengan gosip (ampun, ikutan FKMM digosipin pacaran itu rasanya nggak banget) jadi aku akan klarifikasi lagi. Antania single, oke? Anissa Antania Hanjani akhwat single. Nggak pacaran dan nggak akan mau diajak pacaran. Kalau ada gosip aku mau ditembak siapa lah, ini lah, itu lah, apalagi kalau sampai bilang aku pacaran, itu nggak bener. Anissa Antania Hanjani nggak mempan rayuan gombal, perbuatan romantis, meski kalau nonton drama bakalan ngomong, "Cie,". Kenyataannya? Aku cariin sandal buat aku lempar ke muka orang itu kalau berani-beraninya godain aku. Nope.  FYI, aku punya beberapa kriteria untuk seseorang yang akan kupilih. Boleh dong jodoh punya kriteria. Kata siapa nggak boleh? Yang ada tanya jawab gitu saat ta'aruf, salat istikharah,...

Organisasi dan Senior

Fiuh, ini sebulan yang melelahkan. Notulen ICISPE telat karena Kamis ada tugas review, malem Jumat aku ngerjain tugas juga. Hal yang paling menyebalkan adalah aku sulit mengajak diriku sendiri untuk begadang, padahal emang biasanya begadang adalah bagian dari aktivitas mahasiswa. Mr. Dimas dan Mas Mantas benar, sehari 24 jam (dan seminggu 7 hari, ini ditambahin Mas Jadug) itu nggak cukup sama sekali. Lelah Hayati, Ya Allah. Well, untuk ukuran mahasiswa baru aku sudah termasuk dalam kategori sibuk (meski ICISPE sudah selesai). Aku menjadi salah satu dari enam volunteer pengajar muda dalam program kerja BEM FISIP Bidang Pengabdian Masyarakat, yakni FISIP Mengajar. Oke, jadi ceritanya nanti kami akan membimbing anak SD yang ada di sebuah desa di Kec. Rowosari. Hari gini di Semarang masih ada desa? Yaa...bisa dibilang itu satu-satunya desa yang ada di Semarang dan termiskin pula, tetapi entah kenapa salah satu ketua RW di sana malah bangga akan hal itu (aku baru tahu ada orang yang ba...

Hello, From The World You've Ever Lived

Aku nggak tahu harus mulai dari mana ketika suatu hari bisa bertemu denganmu lagi. Namun, aku tahu satu hal. Ketika kelak aku bisa bertemu denganmu, aku akan menangis. Menangis keras dan terus-terusan bilang, "Maaf, maaf, maaf," berulang-ulang. Aku akan terguncang. Aku tidak bisa berkata-kata.  Aku merindukanmu. Hai, aku di sini meneruskanmu. Mungkin, insya Allah, dan entahlah, tetapi aku berusaha sebaik mungkin menjadi penerusmu. Aku sekarang berada di jurusan impianku, jurusan yang sejak SMA ingin aku masuki dan...inilah aku sekarang. Tetap sama dengan yang kau tahu dulu.  Hey, apa kabar? Adakah sedikit saja, dari duniamu yang sekarang, kau merindukanku? Mungkin lebih banyak tidaknya, tetapi aku ingin kau tahu aku sangat merindukanmu. Aku ingin kau di sini bersamaku. Aku ingin melakukan banyak hal denganmu. Kelak, suatu saat jika aku menyusulmu. Kau tahu? Jika mesin waktu itu benar-benar ada, aku ingin kembali ke waktu itu, maghrib itu, rumah sakit itu. Har...

ICISPE 2016

Yuhuuu...hari ini ICISPE 2016 di Gedung A Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro!! International Conference on Indonesian Social and Political Enquiries (ICISPE) 2016 adalah agenda internasional pertama yang diadakan FISIP tahun ini dengan mengangkat tema Localizing Globalization. Tamu undangan yang menjadi pembicara keren-keren, lho. Wiew, yang jelas hari ini FISIP benar-benar sibuk. Hari ini karena tugasku sebagai PJ perkap dan ruangan masih tidak terlalu banyak, aku didaulat menjadi dirigen lagu Indonesia Raya. Kalau tanya gimana perasaanku, well, aku amat berbahagia. It is such an honor for me untuk memimpin menyanyikan lagu kebangsaan di event besar apalagi di depan para pembicara yang aku kagumi, terutama rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan ketua HIPIIS, Prof. Ravik Karsidi dan guru besar RSIS NTU Singapura, Assoc. Prof. Leonard C. Sebastian.  Menjadi panitia event besar benar-benar beda dengan lainnya. Semua harus dikondisi...

Akhirnya

Sebulan kuliah ada banyak yang mengubah pemikiranku. Tentang hidup, misalnya (dan ini satu dari sekian banyak hal). Dulu ketika di SMA, aku selalu berpikir hidup adalah poin-poin yang kita ambil sebagai balasan atas apa yang kita lakukan. Di sini, aku berpikir hidup ya ala kadarnya. Hidup adalah sesuatu yang akan terjadi bahkan ketika kita tidak melakukan apa-apa, yang terpenting syarat kehidupan sudah terpenuhi. Aku masih tetap sama meski pemikiranku sedikit-banyak bergeser. Masih Antania yang lebih suka melihat langit ketika tidak melakukan apa-apa. Masih Antania yang memilih menjadi penonton segala macam pertunjukan drama kehidupan kompleks ketimbang terlibat di dalamnya. Masih Antania yang begini dan begitu. Kurang lebih, masih sama seperti yang Bunda Lukluk bilang tentangku, cerewet tapi aneh. Sekali dua kali aku menghabiskan untuk kumpul dengan orang-orang yang tidak sefrekuensi denganku. Aku tahu itu sama sekali tidak menyenangkan karena...aku tahu apa sih? Aku terlalu ...