Keajaiban datang. Aku mulai betah pake banget di FISIP, terutama di HI. Aku bisa menikmati alur kegiatannya. Semua menyenangkan. Oktober ada dua event yang insya Allah udah aku rencanakan buat ikutan. Pertama, IRDU Model United Nations, kedua, International Relations Visit (kunjungan ke Kedubes Amerika dan WWF nih, ga bisa disia-siain).
Gimana dengan lingkungan agamanya? Alhamdulillah, ada banyak kakak tingkat yang mengarahkan, sehingga lama-lama aku save dari nilai-nilai yang nggak sepaham. Selain itu, dengan bergabungnya aku ke KAMMI, aku lebih mudah dikontrol. Motivasiku ikut kajian bertambah, tetapi uniknya motivasi ini bertambah karena seorang teman dekat non-muslim.
Ya, namanya Andreas. Andreas Brian.
Andreas Brian, aku biasa memanggilnya Andreas. Koordinator mata kuliah bahasa Perancis yang berbaik hati turun tangan membantu kesulitan teman-temannya dalam matkul tersebut (elah, serius susah, tulisannya apa bacanya apa). Sehari-harinya aku selalu menemukannya di perpustakaan fakultas. Dulu awal-awal kuliah aku selalu memperhatikannya baca novel Sherlock Holmes. Sekarang jadi motivasi buat rajin ngerjain tugas, sesibuk apapun. Well, karena kebiasaanku ke perpustakaan fakultas, aku jadi sering ngobrol dengannya. Haha. FYI, aku lebih sering dekat ke anak-anak yang aku sering ketemu di perpus buat motivasi belajar. Biasanya selain Andreas, ada juga Gressy, Amalia, Satya, dan Dimas.
Oke, mengapa dia menjadi motivasiku buat ikut kajian, belajar agama lebih dalam lagi, dan lain-lain? Ini bermula dari pertanyaan-pertanyaannya. Jadi, suatu hari di perpus fakultas, aku duduk di sebelahnya dan tilawah. Dia tiba-tiba bertanya padaku tentang jilbab yang kupakai. Sebenarnya pertamanya aku menganggap pertanyaan ini biasa karena bahkan teman-temanku yang sesama muslim pun bertanya tentang jilbab yang kupakai. Setelah kujawab, aku kembali tilawah. Lagi-lagi dia nyeletuk, "Kamu lagi belajar bahasa Arab ya? Aku juga bisa bahasa Arab,"
Aku menghentikan tilawah, tertarik dengan ucapannya. "Oh ya?" ujarku heran.
Andreas lalu menulis huruf-huruf hijaiyah dengan benar dan menulis kata-kata dalam bahasa Arab Melayu.
"Wow," Aku kagum, iya kali bisa ya sekolah non-islam ternyata belajar bahasa Arab juga meski bukan yang asli. "Kalau di sekolahku sih, aku belajar yang Arab asli dari sana. Sekolahmu belajar bahasa Arab juga?"
"Iya, belajar Arab Melayu," jawabnya.
Well, itulah awal dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan Andreas berikutnya. Namun, saat itu aku masih menganggap itu biasa.
Kedua kalinya dia mulai bertanya adalah pada suatu hari ketika tiba waktu salat Zuhur. Saat itu aku sedang ngumpul dengan dia, Satria, Ilham, Faris, dan Farah.
"Salat yuk, Nis," ajak Farah.
"Aku lagi nggak salat," jawabku.
"Gimana sih kok nggak salat," canda Farah.
Akhirnya, Farah pergi dengan Satria, Ilham, dan Faris. Aku menyusul Andreas ke kantin.
"Kamu nggak ikutan salat?" tanya Andreas.
"Kan aku lagi nggak salat," jawabku agak menyahut.
"Sori, aku kan nggak tahu,"
Duh, oh iya. Andreas kan non-muslim. "Maaf ya, aku lupa kamu nggak tahu," ucapku. "Jadi, kalau perempuan sedang datang bulan, dia nggak boleh salat,"
"Oh gitu,"
"Selain itu, perempuan yang sedang nifas juga nggak boleh salat,"
"Nifas?"
"Keluar darah setelah melahirkan. Lamanya sekitar 40 hari," jawabku. "Selain nggak boleh salat, perempuan dalam kondisi haid dan nifas tidak boleh puasa,"
Dari obrolan soal itu, entah mengapa akhirnya obrolan kami menyentuh masalah Al Qur'an. Dia mengajakku duduk di kantin.
"Kenapa orang yang hafal 30 juz itu keren?" tanya Andreas.
"Karena itu jaraaangg...banget," jawabku. "Susah tahu hafal 30 juz. Temanku yang hafidzah perlu bertahun-tahun buat hafalan segitu banyak. Dan lagi, hafalan itu gampang hilangnya. Makanya beberapa universitas negeri memberi beasiswa bagi para penghafal Al Qur'an. Anggapannya kan, jika hafalan Al Qur'an bagus, berarti daya ingatnya sangat baik,"
"Wow, gitu. Keren ya. Rahasianya gimana sih kok bisa hafalan gitu?"
"Biasanya faktor keluarga yang berperan besar. Ada beberapa orangtua yang sejak anaknya masih bayi sudah diperdengarkan ayat-ayat Al Qur'an, lalu di usia yang masih dini sudah mulai menghafal. Namun, ada juga orangtua yang bukan penghafal, tetapi anaknya bisa jadi penghafal Al Qur'an. Faktor lingkungannya yang berperan besar," jelasku.
Obrolan seputar Al Qur'an itu benar-benar mengasyikan sampai akhirnya aku ingat satu hal. Bukannya aku bawa Al Qur'an ya?
Akhirnya aku membuka tas dan mengambil kitab suciku itu.
"Kamu mau coba baca?" tawarku.
Andreas mengambilnya dengan antusias. "Aku boleh pegang, nih?" tanyanya.
Aku tertawa dalam hati, mengingat kejadian di perpus. Aku saat itu tilawah, dia mengira aku belajar bahasa Arab. Yaa...iya, haha. Aku sambil belajar dikit.
"Kalau aslinya, yang cuma tulisan Arab, nggak boleh. Kamu harus bersuci dulu sebelum pegang, mandi dulu. Yang itu ada terjemahnya. Lagian kamu ntar nggak mudeng kan kalau yang asli Arab? Plus, kalau asli Arab, hari ini aku juga nggak bisa pegang," jawabku.
"Selama 18 tahun, baru kali ini pertama kalinya pegang Al Qur'an," ucapnya.
Aku tersenyum. "Padahal aku udah pernah baca Injil," ujarku.
Ketika akhirnya dia pulang, dia sempat bertanya padaku, "Kamu nggak marah kan aku tanya-tanya gini?"
Aku tertawa. "Kenapa aku harus marah, sih? Aku seneng malah kamu tanya,"
"Soalnya dulu aku pernah tanya gitu juga ke temanku yang muslim, dia malah marah," jelasnya.
Manusia macam apa sih temannya Andreas itu, batinku kesal.
Sejak kejadian kedua, pertanyaan-pertanyaan darinya terus berlanjut, sampai akhirnya kejadian ketiga hari Senin kemarin.
Hari itu aku ke perpustakaan membawa buku bahasa Perancis dan Al Qur'an. Ada Yomi, Gressy, dan Andreas yang sedang mengerjakan tugas. Aku menyapa mereka dan duduk di samping Yomi, lalu mulai membuka buku bahasa Perancis. Selang beberapa waktu, Andreas berkata, "Aku pinjam Al Qur'an mu ya,"
Aku mengangguk.
Di Al Qur'an yang kubawa hari itu kebetulan terselip buku kecil Hadits Arba'in Nawawi yang dulu aku hafalkan selama kelas 3 SMA. Andreas hari itu sepertinya menemukan sesuatu yang baru baginya, lalu mengambil buku itu.
"Ini apa?" tanyanya.
"Hadits," jawabku. "Dasar hukum kedua dalam Islam,"
"Hadits itu apa?"
"Segala perkataan dan perbuatan Nabi, baik yang diucapkan langsung maupun disaksikan oleh para sahabat," jawabku. "Aku lagi muraja'ah hafalanku (dia udah mudeng lho maksudnya muraja'ah apa),"
"Oke, kalau gitu tes ya," katanya. "Hadits ke-19?"
"Eh, hadits 1-10 dulu aja, aku belum hafalan lagi soalnya," ujarku.
Ya. Hari itu, Andreas dibantu Yomi yang muslim, mengecek hafalan haditsku sekaligus dengan terjemahnya. Hafalanku dicek oleh temanku yang non-muslim. Buatku ini sesuatu yang mungkin nggak akan terjadi dua kali dalam hidupku. Unik. Seru.
"Wow, keren ya," pujinya.
"Aku masih muraja'ah,"
"Hadits itu ada 30 juga?"
"Ribuan malah, Andreas," Aku tertawa. "Ada Shahih Bukhari dan Muslim, itu ada ribuan tuh di sana,"
"Ada nggak orang yang hafal hadits sampai ribuan gitu?"
"Tambah jarang," Aku tertawa. "Lebih jarang dari yang hafal Al Qur'an 30 juz. Hafalanku masih 42 hadits ini, temanku udah ada yang hafal ratusan,"
Hari itu, akhirnya, Andreas mulai menghafal Hadits Arba'in Nawawi. Dengar? Menghafal. Meski baru nomor hadits dan judulnya, dia sudah paham apa yang dimaksudkan di dalam hadits itu. Dia tahu hadits ke-9 tentang larangan banyak bertanya, hadits ke-12 tentang meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat, hadits ke-16 tentang larangan marah, dan hadits ke-17 tentang menyayangi hewan. Wow. Bayangin. Pada akhirnya, sesekali dia mengingatkan kami (dengan canda) menggunakan hadits itu. "Hey, jangan marah. Ingat hadits ke-16,", "Ingat hadits ke-12, tinggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat,". Wow. Wow. Wow. Aku nggak pernah menyangka tanya jawab itu berakhir seperti ini. Sesekali aku menggoda Amalia, "Kalah kamu sama Andreas. Dia udah hafalan hadits,"
Keesokan harinya, hari Selasa ini, aku kembali duduk di sebelahnya. Seusai mata kuliah PAI, aku ke perpustakaan dan entah mengapa rasanya lega di sana ada Andreas dan Gressy. Aku segera ambil Al Qur'an dan duduk di sebelah Andreas.
"Kamu mau hafalan hadits lagi?" tanyanya.
"Iya," jawabku.
Aku mulai muraja'ah. Andreas melepas headset-nya. Ketika aku berhenti, dia mengodeku untuk meneruskan hafalan. Karena hari ini dia ingin mendengarkan, aku menyesuaikan dengan membaca terjemahannya juga.
"Boleh pinjam kan?" tanyanya.
Aku mengangguk.
Andreas membuka-buka buku hadits itu dan sampailah dia di hadits ke-40 tentang kesempurnaan iman dengan mengikuti Nabi.
"Di sini disebutkan bahwa iman kita baru sempurna ketika mengikuti Nabi ya? Berarti agama lain, jika belum mengikuti Nabi, imannya belum dikatakan sempurna?" tanyanya.
"Menurut keyakinanku begitu," jawabku.
"Oh, oke,"
Hari itu berlanjut dengan berbagai pembahasan lainnya. Aku membacakan hadits ke-37 tentang motivasi mengerjakan kebaikan dan potongan hadits ke-36 yang membahas tentang menuntut ilmu.
"Wow, keren, keren. Di Alkitab dikatakan bahwa iman kepada Tuhan adalah sumber dari ilmu pengetahuan," katanya.
Ketika Andreas mulai membuka-buka Al Qur'an yang kuletakkan di atas meja, dia menggumam, "Ar Rum,"
"Ada cerita keren di baliknya, lho," kataku. Lalu aku membacakan Surah Ar Rum ayat 1-5 beserta terjemahnya.
"Mengapa Islam saat itu mendukung Kerajaan Romawi? Bukannya itu kerajaan Nasrani ya?"
"Nasrani sebenarnya banyak mengambil andil juga dalam perjalanan Islam. Hijrah pertama dalam Islam itu dilindungi kerajaan Nasrani, Kerajaan Habasyah," jawabku. Aku kembali membuka Al Qur'an dan membacakan Surah Al Maidah ayat 82.
Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani,". Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.
Andreas mulai menemukan kesamaan-kesamaan yang dia ketahui dalam agamanya. Ketika tak sengaja membuka Surah Taha, dia berkata, "Kisah Musa ya? Di Perjanjian Lama ini juga ada,"
"Kisah Musa paling banyak disebutkan dalam Al Qur'an juga," timpalku.
Obrolan terus berlanjut ketika kami beranjak pulang. Dalam hati, aku bertanya-tanya sejauh apa yang ingin dia tahu? Sejauh mana yang sudah dia ketahui? Kami terus bicara mengenai seperti apa wajah Nabi Muhammad (aku menjawab ada beberapa hadits yang memberikan gambaran fisik beliau), kisah bulan terbelah, dan lainnya. Semakin diteruskan, aku semakin penasaran. Apa yang membawanya untuk akhirnya bertanya?
Hari itu aku tersenyum. Aku mengerti sekarang bagaimana mekanisme hidayah itu berjalan.
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar