Langsung ke konten utama

Organisasi dan Senior

Fiuh, ini sebulan yang melelahkan. Notulen ICISPE telat karena Kamis ada tugas review, malem Jumat aku ngerjain tugas juga. Hal yang paling menyebalkan adalah aku sulit mengajak diriku sendiri untuk begadang, padahal emang biasanya begadang adalah bagian dari aktivitas mahasiswa. Mr. Dimas dan Mas Mantas benar, sehari 24 jam (dan seminggu 7 hari, ini ditambahin Mas Jadug) itu nggak cukup sama sekali. Lelah Hayati, Ya Allah.

Well, untuk ukuran mahasiswa baru aku sudah termasuk dalam kategori sibuk (meski ICISPE sudah selesai). Aku menjadi salah satu dari enam volunteer pengajar muda dalam program kerja BEM FISIP Bidang Pengabdian Masyarakat, yakni FISIP Mengajar. Oke, jadi ceritanya nanti kami akan membimbing anak SD yang ada di sebuah desa di Kec. Rowosari. Hari gini di Semarang masih ada desa? Yaa...bisa dibilang itu satu-satunya desa yang ada di Semarang dan termiskin pula, tetapi entah kenapa salah satu ketua RW di sana malah bangga akan hal itu (aku baru tahu ada orang yang bangga jadi miskin), mungkin karena jadi identitas juga kali ya. Jadi, kalau raskin cuma dikasihin ke beberapa orang di desa tersebut, tentunya yang lain bakal marah-marah. Hm, menarik.

Selain itu, saat ini aku memulai magang sebagai atase muda di Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HMHI). Aku bergabung dengan Departemen Keilmuan dan Analisis (DKA) yang diketuai Mas Kevin. Aku udah cerita sebelumnya siapa Mas Kevin, bukan yang Mas Kevin Raffif, tetapi Mas Kevin Ali Sesarianto. Well, kemarin malam kami kumpul untuk yang pertama kalinya. Mencengangkan sih ternyata atase muda yang cewek cuma aku, sisanya cowok semua. Ada Satya, Hifzan, Dimas, dan Adrian. Meski awalnya aku takut tiap kali lihat Mas Kevin (kok aku rada serem gitu sama dia, abis pinter banget, kalo mengajukan pertanyaan tajemnya ngalahin pisau), lama-lama mencair juga. Pokoknya semua fungsionaris DKA receh, seru banget.

Guru-guruku di ABBS benar, mengikuti kegiatan ini itu dan organisasi membuatku kenal banyak kakak tingkat yang banyak membantuku mengerjakan macam-macam hal. Menyenangkan sekali. Aku nggak canggung lagi ketika say hi dengan kakak tingkat. Kata Mas Joel, asal manner-nya baik, semua oke. 

Ada beberapa kakak tingkat yang menurutku memberi kesan sendiri, sih. Yang jelas, itu kesan positif semua. Aku merasa cara pandangku sedikit banyak berubah setelah ngobrol dengan mereka atau ketika ngobrol, aku merasa wow, mereka dewasa banget.

Pertama, Mbak Hana. Dia kakak tingkat angkatan 2015, salah satu anak HI yang lolos Pimnas di IPB kemarin. Kami pertama bertemu di kepanitiaan ICISPE. Aku kagum sama risetnya tentang terorisme yang dilombakan buat Pimnas, sampai-sampai aku usul ke kelompok PKM buat meneruskannya (dan ditolak, kelompok PKM-ku akhirnya bikin riset tentang prostitusi gay, hahaha). 

Mbak Hana sedikit banyak memberiku tips belajar, menyarankanku untuk lebih strict sama mata kuliah supaya IPK-ku semester ini bagus ("Kalau masih baru mendingan kamu struggle buat naikin IPK-mu semester ini, Dek,"), memberitahuku referensi apa yang sebaiknya dipakai semester ini, dan memberitahuku beberapa tips menghadapi dosen-dosen yang mengajar di kelasku. Semua yang dia share benar-benar bermanfaat buatku, apalagi tentang referensi apa yang harus kupakai. Aku jadi nggak ragu mau beli buku apa buat semester ini. Karena Mbak Hana, aku jadi terdorong untuk semangat belajar dan menyiapkan materi sebelum dosen masuk.

Kedua, Mas Jadug. Lucu banget karena aku kenal dia bukan dari teman sejurusan atau sefakultas, tetapi dari Dewi yang cerita-cerita pas aku main di kosnya di Pedalangan kalau Mas Jadug ngisi di fakultasnya dan...meninggalkan histeria. Ini salahku karena nggak terlalu pay attention pas upacara penerimaan mahasiswa baru dulu, padahal dia dipanggil karena jadi mawapres dan ketua senat FISIP periode ini. Tuh kan, aku rada banget. Ke mana aja ya aku selama ini sampai ketua senat FISIP aku kenalnya lewat anak fakultas lain? Haha.

Mas Jadug agak mirip dengan Mas Mantas, lulusan teknik UNS yang IPK-nya 4 bulet itu. Dia aktif di organisasi sebagai ketua senat FISIP dan sibuk menjadi pembicara ketika libur kuliah. Dia juga ketua delegasi Indonesia ketika berkunjung ke Vietnam untuk mengikuti Asia-Europe Meeting (ASEM) 2015. Jumat lalu, aku menghabiskan waktu dua jam mengobrol dengannya sambil menunggu pertemuan HMHI dan seriously, aku semakin menganggap dia itu wow. Sambil mengobrol denganku kemarin, dia melobi ketua DPD RI untuk mengisi event senat FISIP dan successfully done! Kemarin sampai Mas Jadug selebrasi gitu, hahaha. "Besok kamu dateng makanya di event-nya senat. Nih, udah berhasil aku lobi ketua DPD RI buat ke sini," katanya.

Motivasi Mas Jadug hanya satu, bermanfaat bagi umat. Karena itu dia masuk senat dan menjadi pembicara di banyak tempat. "Selama ibadahmu bagus, semua lancar," katanya. He is a very easy-going person. Meski sibuk dan dicurhatin ini itu, dia mampu mengatur waktunya dengan baik. Sebagai ketua senat, dia menjalankan amanah dengan baik. Sambil ngobrol aja dia masih sempet benerin proposal-proposal UPK. Duh Mas, sibuk banget. Dia juga cerita jadwalnya mau ngisi di mana aja dan yang paling bikin iri, dia mau ke Solo bulan ini! Yah Mas, aku mah kapan ke Solo?

Yang paling aku kagumi, ketika mengisi, entah kenapa atraktif banget dan menarik. Kemarin pas ngisi di HI buat LKMMPD (meski kata Mas Jadug sendiri nggak maksimal), aku tertarik banget dengan apa yang dia sampaikan tentang motivasi berprestasi. Aku nggak ngerti kenapa Mas Jadug bilang pas di HI itu nggak maksimal, padahal menurutku itu sangat menarik. "Kayaknya kapan-kapan kamu harus ikutan aku ngisi, deh," candanya. 

Ketiga, oke, it will be Mas Kevin Sesarianto. Semenakutkan apapun dia, setelah kumpul DKA Jumat malam kemarin, semua cair dan it is fine. Orangnya cerdas. Kemarin aku kaget pas dia masuk ke kelas pengantar ilmu sosial (yang Mas Jadug yakini dia masuk kelas itu buat ngulang karena nilainya B, hahaha). Kelompok Gege yang presentasi hari itu sampai deg-degan, takut Mas Kevin nanya macam-macam. Dia kalau nanya emang gitu sih, tajemnya ngalahin pisau.

Aku pertama kali ngobrol dengan Mas Kevin pasca diskusi umum HMHI tentang LGBT. Kami diskusi lagi setelah itu dan pemikirannya menarik. Sepertinya dia tipe pemimpin yang santai dan kalem. Abis kemarin pas dia memimpin pertemuan DKA bisa sambil ketawa-ketawa dengan fungsionaris lainnya.

Well, kira-kira begitu sih yang kualami sebulan ini.




Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...