Langsung ke konten utama

Dauroh Marhalah I Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

Aku inget banget ketika barusan dilantik sebagai pengurus Luminous (organisasi alumninya ABBS). Mr. Iyad dan Mr. Ajung saat pembekalan udah wanti-wanti lebih baik nggak usah ikutan organisasi ekstra kampus. Kalau nanti dibai'at terus diculik? Kalau nanti diancam dibunuh kalau keluar? Kalau ternyata yang kamu masukin basisnya komunis? Gitu-gitu deh alasannya.

Namun, realita yang terjadi berbeda. Setelah aku capek nggak ada teman, frustasi nggak ada yang ngingetin buat ini itu, akhirnya aku terima tawaran Mas Jadug buat masuk KAMMI. Pas dikasih tahu sih, aku sepenuhnya sadar itu organisasi ekstra, tapi aku mantap aja setelah melihat Mas Jadug dan Mas Luthfi Rahman (wakil BEM Undip) yang anak-anak KAMMI orangnya nggak aneh-aneh. Oke, aku ikut. Aku mengikuti feeling-ku dan harapannya semoga feeling itu bener. FYI, aku sebelumnya ditawari ikutan HMI, tapi aku sendiri agak takut juga. Kalau aku liat sih ya, yang pas banget sama apa yang udah aku dapat 3 tahun di SMA semuanya ada di KAMMI. Makanya aku join.

Nah, karena itu akhirnya aku ikut Dauroh Marhalah I FSM (FISIP soalnya ga ngadain sendiri, haha) yang dilaksanakan di Balai Transmigrasi Semarang tanggal 16-18 September. Meski awalnya agak takut-takut gitu (karena well, tetap aja ini organisasi ekstra kampus), aku akhirnya memantapkan diri untuk ikut setelah tanya-tanya Miss Intan. "Ikut aja. KAMMI bagus, kok," kata Miss Intan via WA.

Gimana acara daurohnya? Haha, seru banget. Aku beberapa kali ikutan mabit, kurasa ini yang paling seru. Materinya disampaikan secara interaktif. Semua peserta aktif. Ini agak mirip-mirip lah sama training centre OSN dulu pas SMP, sampai hampir larut malam gitu materi terus. Asik, seriously. Terlebih aku bisa tukar cerita dengan teman-teman FSM. FYI, FSM tuh kayak ponpesnya Undip. Tiap jurusan ada rohisnya. Mereka aja pertamanya heran kok FISIP nggak ada, haha, akhirnya mereka nyadar, "Oh ya, nggak mungkin,". FH, FEB, dan FISIP terkenal sebagai fakultas-fakultas yang "hedonis" kalau di Undip. Aku akhirnya pede aja bilangnya, "Aku pingin banget nunjukin ke semua orang nggak semua anak HI itu hedon. Aku buktinya,"

Apa ya yang paling seru? Oh ya, simulasi aksi demonstrasi! Yey, ini nih yang mahasiswa banget. Kita belajar demo! Meski aku nggak bisa bayangin reaksinya Mama Papa kalau aku suatu saat beneran ikutan demo, tapi seru aja. Aku diminta berorasi dan jadi koordinator aksi, ketemu buat ngelobi polisi gitu deh biar bisa ketemu pejabat. Haha. Sumpah seru banget.

Pasca pelatihan, yang lolos diberi pilihan mau lanjut masuk beneran jadi anggota KAMMI atau tidak. Aku kembali memantapkan hati untuk ikutan. Aku ingin berubah dan mengubah keadaan, kurasa KAMMI adalah wadah yang tepat. Setelah dilantik, ada perasaan lega tersendiri gitu. Fiuh, semua akan baik-baik saja. 

Aku senang keputusanku masuk KAMMI didukung oleh Mr. Sam (yang alhamdulillah sampai sekarang masih jadi kepseknya ABBS) dan Miss Nunung. Setidaknya, aku bisa melihat pilihanku tepat sampai detik ini. Feeling-ku jadi tambah kuat juga. Ya Allah, aku seneng banget dituntun begini, aku jadi nggak aneh-aneh. Semoga seterusnya begini.



Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...