Langsung ke konten utama

Akhirnya

Sebulan kuliah ada banyak yang mengubah pemikiranku. Tentang hidup, misalnya (dan ini satu dari sekian banyak hal). Dulu ketika di SMA, aku selalu berpikir hidup adalah poin-poin yang kita ambil sebagai balasan atas apa yang kita lakukan. Di sini, aku berpikir hidup ya ala kadarnya. Hidup adalah sesuatu yang akan terjadi bahkan ketika kita tidak melakukan apa-apa, yang terpenting syarat kehidupan sudah terpenuhi.

Aku masih tetap sama meski pemikiranku sedikit-banyak bergeser. Masih Antania yang lebih suka melihat langit ketika tidak melakukan apa-apa. Masih Antania yang memilih menjadi penonton segala macam pertunjukan drama kehidupan kompleks ketimbang terlibat di dalamnya. Masih Antania yang begini dan begitu. Kurang lebih, masih sama seperti yang Bunda Lukluk bilang tentangku, cerewet tapi aneh.

Sekali dua kali aku menghabiskan untuk kumpul dengan orang-orang yang tidak sefrekuensi denganku. Aku tahu itu sama sekali tidak menyenangkan karena...aku tahu apa sih? Aku terlalu lelah mengikuti obrolan di grup LINE angkatan (maaf ya, emang anak ngelaju gini sih), terlalu diam ketika yang lain banyak bersuara (semua ideku aku simpan), dan masih banyak lainnya. Namun, aku percaya ketidaknyamanan ini akan terganti, toh aku hanya belum bisa menemukan sebuah titik di mana aku bisa nyaman.

Sisanya, aku menghabiskan waktu untuk kumpul dengan yang sefrekuensi. Cukup bahagia ketika aku mendengar banyak dari teman-teman SMA belum bisa nyaman dengan lingkungan mereka. Itu berarti aku tidak sendiri, kan? Ketika aku cukup lelah kuliah, saat bersama mereka, aku seperti baterai ponsel yang baru selesai di-charge. Lebih bersemangat. 

Semua menyenangkan, meski banyak orang secara tidak langsung memberiku pertanyaan-pertanyaan ekstra dalam pikiranku. Mas Kevin misalnya, aku jadi bertanya-tanya apakah filsafat akan membuat tulisan seseorang menjadi sedemikian rupa. Mas Ajie, aku jadi ingin tahu ketika melihatnya kenapa orang bisa sesantai itu menikmati hidup (karena aku tipe orang yang menganggap sedari awal hidup harus terencana).

Jika ada satu dua hal yang selalu membuatku bertanya, mungkin hal itu tentang rumah. Mengapa akhir-akhir ini aku selalu mendesah ketika harus pulang? Entahlah.



Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...