Langsung ke konten utama

ICISPE 2016

Yuhuuu...hari ini ICISPE 2016 di Gedung A Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro!!

International Conference on Indonesian Social and Political Enquiries (ICISPE) 2016 adalah agenda internasional pertama yang diadakan FISIP tahun ini dengan mengangkat tema Localizing Globalization. Tamu undangan yang menjadi pembicara keren-keren, lho. Wiew, yang jelas hari ini FISIP benar-benar sibuk.

Hari ini karena tugasku sebagai PJ perkap dan ruangan masih tidak terlalu banyak, aku didaulat menjadi dirigen lagu Indonesia Raya. Kalau tanya gimana perasaanku, well, aku amat berbahagia. It is such an honor for me untuk memimpin menyanyikan lagu kebangsaan di event besar apalagi di depan para pembicara yang aku kagumi, terutama rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan ketua HIPIIS, Prof. Ravik Karsidi dan guru besar RSIS NTU Singapura, Assoc. Prof. Leonard C. Sebastian. 

Menjadi panitia event besar benar-benar beda dengan lainnya. Semua harus dikondisikan sesempurna mungkin. Namun, ilmu yang aku dapatkan benar-benar sebanding. Aku menyukai semua panel diskusi yang diadakan hari ini. Aku belum pernah melihat sebuah forum di mana isinya para pakar, profesor, dan dosen berkumpul jadi satu. This is the first time for me to see that kind of forum, so I am very excited.

Ada dua panel diskusi hari ini. Panel pertama diisi presentasi Assoc. Prof. Leonard C. Sebastian dan Prof. Ravik Karsidi. Aku benar-benar terkesan dengan presentasi yang mereka bawakan, meski aku sempat ketiduran sih ketika Prof. Leonard menjelaskan, hahahahaha (kurang tidur soalnya). Paling mengesankan tuh, presentasinya Prof. Ravik Karsidi. Beliau menjelaskan bahwa seharusnya nilai lokal menjadi global (glokalisasi). Panel kedua diisi Ir. Dwi Putriyanti (Associated Director Marketing and Corporate Development PT Mustika Ratu Tbk) dan Erry Panggabean (dari PT Pelindo III). Lewat beliau berdua aku melihat contoh nyata bagaimana produk lokal bisa menjadi virus global. Keren.

Aku sempat bertanya ketika diskusi panel kedua. Haha, Bu Putri masih mengenaliku sepertinya karena ketika akan menjawab pertanyaanku tentang hambatan riset yang dialami PT Mustika Ratu, beliau berkata, "Jadi, mari kita jawab pertanyaan dari dirigen kita hari ini,"

Lucu banget karena setelah itu dosenku, Mas Satya, bilang, "Senang kamu di-notice sama Bu Putri?"

Aku senyum salah tingkah. Abisnya aku kudu ngapain coba. Aku juga nggak nyangka ada yang inget aku dirigen hari ini.

Mayoritas belum tahu aku angkatan 2016 (mungkin setelah aku tanya di panel diskusi kedua pada tahu). Soalnya, jujur aja, aku sempat kaget dengan beberapa reaksi kakak tingkat begitu aku bilang aku masih angkatan 2016 alias mahasiswa baru. "Wow,", "Eh, masa' sih?", "Eh, kamu angkatan 2016? Kok bisa jadi panitia?", dan lain sebagainya. Aku baru tahu dari jurusan lain memang mayoritas kakak tingkat yang terlibat di event ini.

Di hari ini juga, aku menerima kabar bahwa aku diterima menjadi pengajar muda di Rumah Pintar FISIP. Wah, aku akan mengajar di SD. Ketemu anak-anak lagi. Hahahaha...nggak sabar deh ngajar IPS di SD. Bisa buat latihan kelak aku jadi guru, nih! Selain itu (well, ini yang agak menyebalkan karena pas wawancara kemarin aku ingat persis betapa takutnya aku sama yang mewawancarai), aku diterima menjadi atase muda Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HMHI) 2016 di Departemen Keilmuan dan Analisis. Aku sejujurnya nggak nyangka bakal keterima, mengingat wawancara kemarin rasanya aku udah takut gimana gitu sama Mas Kevin (percaya nggak percaya, dia mantannya Fatin Sidqia Lubis yang penyanyi jebolan X Factor itu, tapi mendingan percaya aja deh, soalnya ini beneran, asli, nggak hoax). 

Besok hari kedua. Semangat!!




Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...