Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Kelas, Kelas, Kelas

To be honest, jika aku ditanya masalah kuliah dari perspektif akademiknya, aku suka banget kuliah. Aku sudah melihat-lihat mata kuliah apa yang akan diberikan di HI dari kelas XII dulu, that is why aku menikmati setiap kelas dan tugas yang diberikan. Iya, capek sih, tapi capek buat sesuatu yang aku suka itu something tersendiri buatku. Capek yang seru, yang lillah. Beberapa dosen berbeda-beda, ada yang strict, killer, seru, dan lain sebagainya. Dosen-dosen yang muda biasanya lebih suka diskusi ketimbang yang tua. But, semuanya open-minded, itu yang terpenting. Mata kuliah favoritku adalah sosiologi dan pengantar ilmu politik (PIP). Yaa meski yang PIP dosennya...membuatku setengah sadar. Iya, penjelasannya bikin ngantuk yang dengerin, hahahaha. Di rumah, ortu lebih maklum kalau hari Minggu habis subuh aku bakal molor sampai siang. Capek banget. Bayangin aja seminggu mondar-mandir gitu, berangkat pagi pulang malem, gimana ga capek? Kadang aku masih begadang mengerjakan tugas, pag...

First Public Discussion

Ada satu hal yang bagiku istimewa banget di kampusku sekarang. Rasanya aku jadi nggak gila sendirian gitu, lho! Ada banyak orang gila di FISIP yang siap jadi teman diskusi. Seru banget. Haha. Salah satu bukti...um, kakak-kakak yang tergabung dalam Aufklarung. Di pintu mereka aja terpasang tulisan, ' Yang waras dilarang masuk '. Ya Allah, akhirnya ada tempat untuk orang gila sepertiku. Hahahahahaha. Senang rasanya aku nggak gila sendirian. Untuk hari ini sih, umm...aku ngapain aja? Oh, ya. Hari ini mata kuliahnya pengantar ilmu sosiologi. Dosennya udah ngasih tugas aja ke grupku dan minggu depan harus presentasi tentang kebudayaan, padahal dosen cuma ngasih pengantar sosiologi doang di pertemuan kali ini. Ya Allah, tabahkan hamba-Mu ini. Eh, tapi dosennya nggak killer, cuma emang tegas banget masalah kedisiplinan. Setelah mata kuliah selesai, aku melarikan diri dari kampus. Selain emang karena udah nggak ada kuliah, aku butuh menghindari seseorang. Yep, the crazy one wh...

Edisi Curhat: Kuliah (Kesimpulan)

Hijab bukanlah penghias kepala belaka, melainkan juga kewajiban. Tidak berhenti hanya di kewajiban, hijab juga identitas. Hanya identitas? Tidak juga, hijab adalah pemisah antara kita dan mereka. Pembeda kita dengan dunia. Karena itulah setelah curhat kemarin, aku makin mantap untuk melangkah dengan apa yang mereka sebut hijab syar'i. Yep, aku ingin semakin mempertegas posisiku tanpa harus berkata-kata lebih jauh kepada orang lain. Dakwah bil hal. Berdakwah dengan perbuatan dan contoh. Cukup itu yang aku ingin lakukan selama beberapa tahun ke depan. Semalam ketika curhat dengan Miss Intan, selain kembalinya perasaan lega, aku kembali menyusun strategi belajar, organisasi, dan bagaimana harus bergerak. Karena sebelumnya aku ingin dekat sama semua orang, mengenal semuanya, maka sekarang yang ingin kulakukan adalah 70% defensif. Tidak semua orang bisa menerima apa yang sudah kutegaskan dari awal, jadi sekarang adalah waktunya strategi utama: talk less do more.  This is my...

Edisi Curhat: Kuliah

What do you think about university life? Duh, susah menjelaskannya. Lebih banyak mana ya antara enak dan nggak? Dua-duanya imbang. Ada enaknya, ada nggaknya.  Karena udah dua hari ini aku kuliah, aku cerita aja. Firstly, terutama buat yang jilbabnya besar, be careful. Sangat hati-hati. Aku nggak bermaksud gimana, but sejak kejadian di event di mana aku ditembak di depan orang banyak, aku lebih memilih buat bergaul dengan orang yang udah jelas bener. Dulunya aku pingin dan berusaha gimana caranya biar bisa kenal semua, membaur semua, but sometimes you have to know that world is not always as we want, right? Aku memilih hati-hati kalau ada anak laki-laki yang tiba-tiba aja dekat padahal sebelumnya nggak (kecuali beberapa yang aku udah lumayan tahu kalau mereka bener dan emang mereka kuliah bukan buat hal-hal lain selain belajar), kan aku nggak tahu apa mereka ada maksud tertentu atau nggak. Itu tentang cowok. The first thing you have to know. Cowok-cowok di sana bukan ya...

Edisi Kangen

Hari ini sebenarnya kuliah pertama dengan mata kuliah bahasa Indonesia dan Perancis, tetapi ga tahu kenapa tuh pulangnya aku tiba-tiba kangen Surakarta. Pingin rasanya cepetan balik ke sana, tapi kapan? Duh, presentasi universitas dari Undip kapan sih? Sekolahku keren, serius. Aku berani taruhan semua anak prodiku akan terkesan jika aku cerita tentang sekolahku. Semi pondok? Dibatasi? Ah, itu cuma menjadi utopia buatku. Entah kenapa justru aku merasa enjoy dengan sekolahku yang katanya ketat dan dibatasi. Aku merasa seperti menemukan rumah kedua. Kalau dikira aku bilang gitu karena dulunya mantan anak boarding, sumpah salah besar. Asli aku cinta banget sama SMA-ku. Itulah mengapa aku benar-benar menjaga diriku selama kuliah. Selain karena aku sudah tahu dalil-dalil dan adab-adab bergaul, aku nggak mau nama almamater SMA tercemar karena sikapku.  Kenapa ya aku bisa cinta banget sama ABBS? Nggak tahu, serius. Aku suka semua detail yang ada di sana. Pemandangan, guru-guru, ka...

OSPEK! Yeay! (2)

Hari ketiga OSPEK...hm, mungkin akan menjadi hari yang beneran agak gimana gitu. Gimana ya...duh, bingung ceritainnya. Jadi, di hari ketiga ini kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku di kelompok A1 yang dibimbing Mas Abon (kakak ini nih yang biasanya memandu kita yel-yel). Hm, terus ngapain lagi? Oh iya! Inget! Hari ketiga, MC membagikan empat kertas, dua pink dan dua biru. Dua pink itu kertas gossip box, diisi gosip apa aja yang beredar di angkatan 2016 atau di kakak tingkat. Dua biru itu kertas must do box, diisi apa yang harus dilakukan seseorang gitu, boleh ditujukan ke siapa aja. Nah, masalahnya adalah must do box ini. Jadi, gossip box itu diisi kebanyakan maba dengan gosip, si ini sama si itu, si ini naksir si itu, dan lain sebagainya. Sialnya, aku dipacokin sama seseorang, tetapi mendingan sih kalau gossip box itu nanti kita bisa klarifikasi. Kalau di must do box? What the hell (maaf kasar, but this must do box lah yang memancing masalah di hari-hari berikutnya), yang b...

OSPEK! Yeay!

Gimana rasanya OSPEK perkuliahan? Nggak seserem yang aku baca di novel-novel, nggak juga disuruh aneh-aneh. Kakak tingkatnya baik-baik. Ada Bang Vladimir Bagas yang biasanya meluangkan waktunya nemenin kami, pun begitu Bang Fahmi Hawari. Keren, euy! Hari pertama tuh, isinya upacara penerimaan di fakultas dan ceramah-ceramah dari dosen. Ada yang seru, ada yang bikin ngantuk, macem-macem. Masih ditambah jargon ini itu yang super duper renyah dan seru. Eh, bentar. Pulangnya kita masih dikasih tugas macem-macem. Biodata anak seangkatan plus tanda tangan anak-anaknya dikumpulin besok plus bawa tahu bakso! Beuh, anak HI seangkatan ada 74. Untung banget, coba kalo macem ilmu komunikasi atau adminstrasi, udah ada seratusan anak! Akhirnya kita duduk melingkar gitu dan tanda tangan, biodatanya nyalin dari grup. Kakak tingkat pada geleng-geleng lihat angkatan bawah mereka. Keren, gitu kata mereka. Tahun lalu mereka nggak kepikiran buat gitu, tanda tangannya pada dipalsukan, hahahaha. HI 2016...

Sakurai Sho, Arigato

Apa motivasi berangkat ke Jepang? Budayanya? Kulinernya? Harajuku style-nya? Tokyo Tower? Chiba? Universitasnya bagus? Atau apa? Apa ya? Motivasiku berangkat ke Jepang dulu adalah karena aku merasa negeri bunga sakura itu buatku safe banget buat yang masih cari zona aman belajar di luar negeri. London masih terlalu cepat buatku, S3 mungkin ya? Atau kapan-kapan aja deh yang jelas aku tetap akan ke sana. Jepang juga bagus universitasnya. Cita-citaku pingin banget kuliah di Ritsumeiken Asia Pacific University, Keio, atau Todai. Itu pertama. Kedua, aku emang dari dulu udah excited gitu sama Jepang. Aku dulu pas SMP rutin datang ke Japanese festival kalau emang lagi diadain di Semarang dan kalau lagi punya duit juga. Aku suka manga dan anime Naruto, makanannya enak-enak (padahal satu keluarga ga ada yang tahan disuruh makan ramen, sushi, dll. gitu), dan sekarang ditambah aku ngefans sama Arashi.  Oh, Arashi? By the way, mereka jadi motivasi terbesar keduaku buat berangkat ke Je...

Aozora no Shita, Kimi no Tonari (And That Blue Sky, Next To You)

Bersamamu, tak ada langit yang tak bisa kujangkau. Tak ada mimpi yang tak bisa kulihat dan kutangkap. Ansambel ini adalah hidupku, waktuku yang tak tergantikan. Tetaplah di sampingku. Selalu dan selamanya. Wiew, Aozora no Shita, Kimi no Tonari by Arashi. Lagu ini kerap menemaniku ber-jogging ria di pagi hari ketika langit masih biru bersih. Awan terkadang menyelimutinya, terkadang hilang tanpa bekas. Bayangin aja, lagu ini menggunakan majas tentang langit dan di saat yang sama kau juga melihat langit biru membentang aaa...mat luas di mana pun pandanganmu beredar. Keren banget nggak, tuh? Dan di saat yang sama, ketika melihat langit, aku juga mengingat semua kenangan pahit dan manis. Wajah-wajah yang melewati hidupku. Wajah-wajah yang menjadi alasan kenapa aku seperti sekarang. Wajah-wajah yang untuk merekalah lagu ini kusenandungkan. Lagu ini, ketika sedang aku dengarkan lewat headset pas jogging, membuatku ingin terbang ke langit biru itu. Mengapung jauuhh...banget. Pasti a...