Langsung ke konten utama

Edisi Curhat: Kuliah (Kesimpulan)

Hijab bukanlah penghias kepala belaka, melainkan juga kewajiban. Tidak berhenti hanya di kewajiban, hijab juga identitas. Hanya identitas? Tidak juga, hijab adalah pemisah antara kita dan mereka. Pembeda kita dengan dunia.

Karena itulah setelah curhat kemarin, aku makin mantap untuk melangkah dengan apa yang mereka sebut hijab syar'i. Yep, aku ingin semakin mempertegas posisiku tanpa harus berkata-kata lebih jauh kepada orang lain. Dakwah bil hal. Berdakwah dengan perbuatan dan contoh. Cukup itu yang aku ingin lakukan selama beberapa tahun ke depan.

Semalam ketika curhat dengan Miss Intan, selain kembalinya perasaan lega, aku kembali menyusun strategi belajar, organisasi, dan bagaimana harus bergerak. Karena sebelumnya aku ingin dekat sama semua orang, mengenal semuanya, maka sekarang yang ingin kulakukan adalah 70% defensif. Tidak semua orang bisa menerima apa yang sudah kutegaskan dari awal, jadi sekarang adalah waktunya strategi utama: talk less do more. 

This is my dream, what I want to be. Menjadi seorang diplomat nggak harus berjabat tangan dengan orang lain, kan? Nggak ada syarat khusus menjadi diplomat harus mau berjabat tangan. Toh, menunjukkan sesuatu secara simbolis masih ada banyak cara selain jabat tangan. Aku ingin menjadi diplomat pertama yang menunjukkannya. 

Semangat! Semangat! Sejatinya aku tidak ingin menyerah dan kalah sama keadaan. Aku tidak ingin diam dan statis dengan keadaan yang ada. Aku ingin terus bergerak. Aku sudah melupakan hampir semua masa laluku dan bergerak. Aku ingin menawarkan masa depan. 

Aku ingin menjadi bagian dari masyarakat global dan memberi warna baru!




Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani



Notes:
Aku sudah menemukan kembali semangatku yang sempat terkikis oleh rasa takut dan lelah.

Pada hakikatnya, siap atau tidak, aku sudah ditakdirkan. Pasti ada alasan mengapa Allah mengabulkan impianku masuk di HI, tetapi menunda keberangkatanku kuliah di luar negeri. 

Sepertinya aku cukup menjalaninya saja, bukan? Toh, semua peristiwa memiliki hikmah terindah.

Insya Allah akan mulai sibuk lagi. Siang ini Kak Joel menawariku kesempatan untuk jadi volunteer di acara International Conference on Indonesian Social and Political Inquiries (Icispe). Doakan semua yang terbaik! Insya Allah ini akan jadi madrasah ilmu baru buatku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...