Langsung ke konten utama

Sakurai Sho, Arigato

Apa motivasi berangkat ke Jepang? Budayanya? Kulinernya? Harajuku style-nya? Tokyo Tower? Chiba? Universitasnya bagus? Atau apa?

Apa ya? Motivasiku berangkat ke Jepang dulu adalah karena aku merasa negeri bunga sakura itu buatku safe banget buat yang masih cari zona aman belajar di luar negeri. London masih terlalu cepat buatku, S3 mungkin ya? Atau kapan-kapan aja deh yang jelas aku tetap akan ke sana. Jepang juga bagus universitasnya. Cita-citaku pingin banget kuliah di Ritsumeiken Asia Pacific University, Keio, atau Todai. Itu pertama. Kedua, aku emang dari dulu udah excited gitu sama Jepang. Aku dulu pas SMP rutin datang ke Japanese festival kalau emang lagi diadain di Semarang dan kalau lagi punya duit juga. Aku suka manga dan anime Naruto, makanannya enak-enak (padahal satu keluarga ga ada yang tahan disuruh makan ramen, sushi, dll. gitu), dan sekarang ditambah aku ngefans sama Arashi. 

Oh, Arashi? By the way, mereka jadi motivasi terbesar keduaku buat berangkat ke Jepang, terutama Sakurai Sho. Lucu sih, padahal aku jadi tahu dan suka Arashi gara-gara fenomena Jun-bait (fenomena di mana orang jadi suka Arashi gegara Matsumoto Jun). Oke, penjelasannya gini. Dulu, aku kenal Arashi dari SMP, pertama kali nonton Hana Yori Dango dan role actor di sana Matsumoto Jun dan Inoue Mao. Yep, aku suka mereka lebih ketimbang Lee Min Ho-Go Hye Sun di Boys Before Flowers karena chemistry-nya sebagai pasangan kuat banget di antara mereka ketimbang couple drama lainnya yang sama-sama terinspirasi dari manga Hana Yori Dango karangan Suzue Miuchi. 

Berawal dari Matsumoto Jun itu, aku mulai dengerin lagu soundtrack-nya Arashi di HYD season 2 yang Love So Sweet. Mulai tahu doang sih, belum suka. Sukanya itu mulai kelas XI SMA pas jelang akhir liburan semester satu. Pas itu suwung banget, terus iseng nyari info tentang Arashi. Eh, ada sih satu video yang jelasin biografi singkat mereka (ada di laptopku) dan akhirnya aku suka beneran, terutama sama Matsumoto Jun yang waktu itu udah aku kenal lewat HYD. Mulai deh ngoleksi video, single, lagu, gambar, pokoknya apa-apa yang berhubungan sama Arashi. Playlist di HP juga mulai ganti, Super Junior dan lainnya aku hapus semuanya diganti Arashi. Sampai sekarang. Kalau pun ada perubahan sih, mungkin itu tentang member favorit. Dulu terfavoritku Jun, setelah itu Nino, sekarang Sho. Sampai sekarang dan aku rasa seterusnya karena paling sreg aja.

Why Sakurai Sho?

Pertama, aku melihatnya itu...tipe future husband banget. Yep, bagiku future husband nggak sekedar shalih, tetapi juga kritis, pintar, pokoknya yang Sho banget. Di sebuah survei, aku baru tahu kalo ternyata Sho juga nomor satu kategori future husband (banyak juga yang pemikirannya sama denganku). Kalau mau tahu kayak gimana tipe future husband versiku, lirik aja Minato Namikaze (Naruto) dan Sakurai Sho. Pasti ngeh. Aku suka tipe cowok yang pintar, nggak cuma hobi gegayaan doang dengan hartanya. Emang sih gen kecerdasan anak menurun dari ibunya, tetapi buatku seorang ayah yang cerdas berperan penting dalam pendidikan anak-anaknya. Seorang ayah yang berpemikiran maju dan cerdas adalah kunci sukses anak-anaknya juga. Kalau cuma ibunya kan percuma, iya nggak? 

Kedua, Sakurai Sho itu...inspiratif. Rap-nya keren. Dia membuktikan satu hal, bahwa nge-rap itu bisa tanpa bahasa kasar (ga kayak si Younglex dan sejenisnya itu). Selain itu, perjuangannya meyakinkan keluarganya untuk tetap bertahan di Arashi juga keren. 

FYI, ayahnya Sakurai Sho itu seorang politisi terkenal dan beliau baru saja mengundurkan diri sebagai wakil menteri komunikasi dan urusan dalam negeri, sementara ibunya seorang dosen (tuh, tuh, bayangin aja dia pinternya kayak apa). Awalnya dia masukin form ke Johnny and Associates itu karena ajakan teman-temannya di sekolah khusus cowok, akhirnya dia lolos dan jadi trainee, sampai akhirnya debut jadi member Arashi. Dia pertamanya juga ngirain kalau kegiatannya di Johnny and Associates cuma bersifat kayak ekskul habis pulang sekolah doang dan Arashi akan dibubarkan setelah selesai 1999 Volleyball World Cup di Jepang, makanya dia meyakinkan keluarganya buat tetap ikutan. Eh, ternyata kesuksesan Arashi terus berlanjut. Orangtua Sho yang mengharapkan dia jadi diplomat kecewa tentunya, terutama ayahnya. Namun, dia membuktikan bahwa menjadi member idol group pun bisa sambil mengejar pendidikan. Yes, tahun 2004 dia menyelesaikan pendidikannya di Keio University, salah satu universitas terbaik di Jepang, dengan gelar sarjana ekonomi sekaligus menjadi member Johnny and Associates pertama yang meraih gelar sarjana, sehingga memberi inspirasi bagi junior-juniornya untuk tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas meski sudah jadi member idol group. Keren, kan? Pada akhirnya ayahnya pun setuju dengan keputusannya tetap bertahan di Arashi, bahkan menyempatkan waktu untuk datang ke konser.

Well done, Sho! Nanti aku aja ya yang jadi diplomat. Kamu di Arashi aja, terusin karyamu yang inspiratif, hahaha.

Selain perjuangannya, Sho bisa dinilai inspiratif dari segi pekerjaan juga. Aku baru ngeh lho ada anggota boyband, idol group, dan sejenisnya yang jadi newscaster di salah satu stasiun televisi. Yep, Sho selain menjadi aktor dan rapper, dia juga newscaster tetap di program berita News Zero di NTV. Cool abis, kan? Di tempat lain dia berdandan keren, di tempat lainnya juga dia bisa berdandan elegan dan classy. Agustus ini, dia ditetapkan sebagai newscaster utamanya NTV untuk program berita Olimpiade Rio de Janeiro 2016 di NTV, setelah tahun 2012 lalu dia ditetapkan sebagai newscaster utama untuk program berita Olimpiade London. Keren? So pasti! Keren oke, tapi tetap berpendidikan juga. 

Well, tetapi menjadi newscaster tidak selamanya mudah bagi Sho. Isu yang baru kudengar ini, ayahnya Sho mengumumkan pemberhentiannya sebagai wakil menteri. Isunya sih, ini supaya ayahnya bisa masuk ke dunia politik. Jika hal itu terjadi, maka ketertarikan para politisi selanjutnya adalah Sho karena dia sebagai newscaster tentunya tanggap dalam isu-isu politik dan ekonomi terkini. Yaa...ada beberapa orang yang berbisik, "Memang selamanya dia akan menjadi member idol group sementara dia mewarisi bakat ayahnya?"

Ketiga, Sho itu open-minded banget. Seperti yang udah dijelaskan, dia pastinya tanggap dengan isu-isu terkini karena pekerjaannya sebagai newscaster dan dia sudah sering ditugaskan di luar, misal ke Filipina ketika negara itu habis diterjang badai, mewawancarai CR7 (wow!), mewawancarai perdana menteri (yang tentunya terkesan dengan kecerdasannya), dan lain sebagainya. Pantas aja sih dia jadi juru bicaranya Arashi.

Well, kalau iya suatu saat aku bisa ke Jepang, of course aku pingin banget ketemu dengan Sakurai Sho. Pingin banget menyampaikan terima kasih buat inspirasinya yang tiada henti. Pingin banget nanya, "Kok bisa sih kamu jadi public figure yang stay positive sementara di luar sana banyak banget yang ngasih contoh negatif?" (sejenis Awkarin dan Younglex misalnya). Pingin banget foto bareng dan minta kenang-kenangan darinya, hahaha. 

Intinya, aku benar-benar berterima kasih sama Sakurai Sho. Thanks, berkatnya aku jadi percaya masih ada public figure yang bisa ngasih contoh positif, seperti dia dan teman-temannya yang tergabung dalam Arashi.



Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...