Langsung ke konten utama

First Public Discussion

Ada satu hal yang bagiku istimewa banget di kampusku sekarang. Rasanya aku jadi nggak gila sendirian gitu, lho! Ada banyak orang gila di FISIP yang siap jadi teman diskusi. Seru banget. Haha. Salah satu bukti...um, kakak-kakak yang tergabung dalam Aufklarung. Di pintu mereka aja terpasang tulisan, 'Yang waras dilarang masuk'. Ya Allah, akhirnya ada tempat untuk orang gila sepertiku. Hahahahahaha. Senang rasanya aku nggak gila sendirian.

Untuk hari ini sih, umm...aku ngapain aja? Oh, ya. Hari ini mata kuliahnya pengantar ilmu sosiologi. Dosennya udah ngasih tugas aja ke grupku dan minggu depan harus presentasi tentang kebudayaan, padahal dosen cuma ngasih pengantar sosiologi doang di pertemuan kali ini. Ya Allah, tabahkan hamba-Mu ini. Eh, tapi dosennya nggak killer, cuma emang tegas banget masalah kedisiplinan.

Setelah mata kuliah selesai, aku melarikan diri dari kampus. Selain emang karena udah nggak ada kuliah, aku butuh menghindari seseorang. Yep, the crazy one who shot me in front of all people. Semalam di grup heboh gara-gara dia ngomong sesuatu yang freak tentangku, salam buatku, kind of that. Ada yang ngomong, "Tembaknya kurang greget kalau nggak di lapangan FISIP," (bocah edan). Karena sekelas sejak aku datang udah pada heboh like, "Ayo, ditembak kapan nih?", jadi satu hal yang kupikirkan ya udah lari aja. Hindarin orangnya. Sekalian print KRS buat perwalian bareng Mbak Nadia, hahahahaha.

Jam 10 aku jadwal perwalian bareng dosen waliku, Mbak Nadia. Masih muda dan cantik. Cerita juga kenapa bisa di HI Undip. But, well...dunno, kok rasanya latar belakangku masuk HI terlalu kompleks ketimbang yang lain, tetapi aku nggak cerita apa ambisiku masuk HI. Bukan tipe orang yang akan cerita masalah ambisi pribadi, hehe. Lagian bagiku cukup bahaya kalau ambisi pribadiku aku ceritain ke orang-orang.

Siangnya, aku, Alfiandia, Widya, Dela, and Amalia ke rumah Ayu buat kerja kelompok bahasa Inggris (Dela and Amalia cuma mau main, yang asli kerja kelompok cuma bertiga, hahaha). Kami berangkat pake mobilnya Alfiandia. Well, she is...classy. Okay. Dia bawa mobil sendiri kalau ke kampus selama ini, begitu juga Widya. Aku mah bukan kasta mereka, orang tiap hari pulang-pergi naik kendaraan umum, hahaha. But, yang jelas mereka baik banget. 

Kali ini aku menyesuaikan aja posisiku sama mereka. Mereka tipe orang yang nggak akan mempermasalahkan 100 ribu buat beli sesuatu yang berkaitan dengan penampilan, tahu para selebgram, dan lain-lain. I guess aku cukup mengetahui topik obrolan mereka. Untungnya aku lumayan tahu soal selebgram macam Awkarin, Raven, Sarah Gibson, dan lain-lain plus tentang Djakarta Warehouse Project gegara Febryan sama Rifai. Jadi aku bisa sesekali nimbrung. Aku ingin mengetahui perlahan tentang dunianya mereka dulu, supaya kelak aku jadi tahu mana yang bisa diluruskan.

Sore sampai maghrib aku ikutan diskusi yang diadakan HMHI tentang LGBT. Topik ini kontroversial memang, karena kalau dibahas nggak akan ada habisnya. Kesimpulan akhirnya aja belum dapat dipastikan. Namun, senang rasanya beberapa kating ternyata sudah mengenalku sehingga aku nggak canggung bertanya kepada mereka. Malam ini aku melanjutkan diskusiku dengan Mas Kevin and...yeah, besok masih berlanjut. Topik ini cukup kontroversial. Aku dan Mas Kevin sendiri bersilangan pendapat. Mas Kevin menganggap secara subjektif itu kebebasan, sementara aku sendiri bukan tipe orang yang percaya akan adanya kebebasan mutlak, sehingga aku menganggap LGBT sendiri sebuah penyimpangan.

Oke, that's all my stories today! Mata ashita!


Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...