Langsung ke konten utama

Aozora no Shita, Kimi no Tonari (And That Blue Sky, Next To You)

Bersamamu, tak ada langit yang tak bisa kujangkau. Tak ada mimpi yang tak bisa kulihat dan kutangkap. Ansambel ini adalah hidupku, waktuku yang tak tergantikan. Tetaplah di sampingku. Selalu dan selamanya.
Wiew, Aozora no Shita, Kimi no Tonari by Arashi. Lagu ini kerap menemaniku ber-jogging ria di pagi hari ketika langit masih biru bersih. Awan terkadang menyelimutinya, terkadang hilang tanpa bekas. Bayangin aja, lagu ini menggunakan majas tentang langit dan di saat yang sama kau juga melihat langit biru membentang aaa...mat luas di mana pun pandanganmu beredar. Keren banget nggak, tuh?

Dan di saat yang sama, ketika melihat langit, aku juga mengingat semua kenangan pahit dan manis. Wajah-wajah yang melewati hidupku. Wajah-wajah yang menjadi alasan kenapa aku seperti sekarang. Wajah-wajah yang untuk merekalah lagu ini kusenandungkan.

Lagu ini, ketika sedang aku dengarkan lewat headset pas jogging, membuatku ingin terbang ke langit biru itu. Mengapung jauuhh...banget. Pasti asyik banget ya. Jadi inget kebiasaanku manjat atap boarding buat lihat langit.

Apa yang kubayangkan ketika melihat langit biru? Macam-macam, sih. Masa depan (termasuk future husband, wuahahaha), masa lalu, dan masa sekarang. ABBS yang dulu ketika aku sering manjat atap itu masih masa sekarangku sekarang sudah menjadi masa lalu yang paling manis ketika melihat langit biru. Masa depan? Wuah, semoga Undip yang jadi almamaterku sekarang ini adalah masa depan paling menjanjikan. Aamiin.

By the way, sekarang ketika mendengarkan lagu ini, aku tidak sedang melihat langit biru. Sudah malam, sih. Lagipula seharian tadi verifikasi terus lupa deh bawa headset-nya. But, everything is alright. Aku menemukan passion-ku sesungguhnya, itu bagus. Aku menemukan jalan yang insya Allah akan membentangkan cahaya untukku. Daann...teman baru? Well, aku nggak sejones yang Mr. Izz kira, kok.

Omong-omong Mr. Izz, ah, hari ini kami teleponan. Sebelum berangkat ke Undip ketika kami teleponan, Mr. Izz sepertinya bertaruh aku akan foto sendirian dengan jas almamaterku, sementara aku berkeras aku akan bisa bertemu Joseph (teman baru) lagi dan berfoto dengannya. "Aku punya teman!" ujarku sungguh-sungguh. Namun, yes, aku cuma papasan biasa sama Joseph dan aku foto sendirian. S-e-n-d-i-r-i-a-n. Eh, nggak masalah sih. Tadi ketemu kakak tingkat yang baik, gara-gara dia aku jadi insaf beneran nggak jadi masuk UKM marching band dan memilih masuk Insani (kalau di UNS itu kayak SKI). Ternyata pilihan tepat, jackpot banget mereka ngadain mentoring.

Ah, pas lihat langit biru di sana, aku berterima kasih banget sama Mr. Izz hari itu. Aozora no shita, kimi no tonari. Langit biru itu ada di sebelah beliau. Ketika hari ini aku diskusi macam-macam dengan kakak tingkat, aku bersyukur banget nggak kaget dengan keadaan perkuliahan karena beliau. 

Ada banyak banget yang pingin aku ceritain pas verifikasi, cuman...oke, bagian nyebelinnya adalah Mr. Dimas (lagi, lagi, dan lagi). Pas siangnya aku telepon Mr. Izz ketika udah sampai di rumah (di jalan aku udah janji telepon lagi kalau udah sampai rumah), aku kaget yang terima suaranya beda. "Salah sambung," bilangnya gitu. Hell-o, padahal dari tadi aku teleponan pake nomor ini, lucu nggak sih kalau tiba-tiba salah sambung padahal kontaknya aja bener? Ternyataa...what the hell demi apa ternyata Mr. Dimas yang terima. 

Ish, padahal aku lagi males pake banget ngobrol sama beliau. Males banget. Salah siapa nggak ditanggepin.

Oke, akhirnya nggak jadi telepon. Udah terlanjur sebel, kesel sendiri, malesnya kalau ntar telepon jangan-jangan yang terima Mr. Dimas lagi, trus aku mutung lagi, akhirnya tidur siang. Hahahaha.

Aozora no shita, kimi no tonari. Di mana pun aku melihat langit biru, di sanalah aku selalu menyenandungkan lagu ini, dan mengingat semua orang yang membuatku di sini. 

Hey, langit! Aku tidak akan menantangmu, kok! Aku hanya ingin mengapung di atasmu, lalu melihat betapa kecilnya manusia di hadapan Tuhan pemilik alam semesta.



Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...