Langsung ke konten utama

OSPEK! Yeay!

Gimana rasanya OSPEK perkuliahan? Nggak seserem yang aku baca di novel-novel, nggak juga disuruh aneh-aneh. Kakak tingkatnya baik-baik. Ada Bang Vladimir Bagas yang biasanya meluangkan waktunya nemenin kami, pun begitu Bang Fahmi Hawari. Keren, euy!

Hari pertama tuh, isinya upacara penerimaan di fakultas dan ceramah-ceramah dari dosen. Ada yang seru, ada yang bikin ngantuk, macem-macem. Masih ditambah jargon ini itu yang super duper renyah dan seru. Eh, bentar. Pulangnya kita masih dikasih tugas macem-macem. Biodata anak seangkatan plus tanda tangan anak-anaknya dikumpulin besok plus bawa tahu bakso! Beuh, anak HI seangkatan ada 74. Untung banget, coba kalo macem ilmu komunikasi atau adminstrasi, udah ada seratusan anak! Akhirnya kita duduk melingkar gitu dan tanda tangan, biodatanya nyalin dari grup. Kakak tingkat pada geleng-geleng lihat angkatan bawah mereka. Keren, gitu kata mereka. Tahun lalu mereka nggak kepikiran buat gitu, tanda tangannya pada dipalsukan, hahahaha. HI 2016 kan emang sangar! Besoknya ide tanda tangan melingkar ini dicontek jurusan lainnya. Hahaha...gitu, deh.

Cerita lucu hari pertama, pas aku mau rangkulan buat yel-yel. Si Amalia ngajak aku ke daerah yang agak dekat sama cowok kan, terus aku bilang, "Jangan yang deketan cowok, dong! Duh, bukan mahram," gitu aja tanpa beban. Refleks. Haha. Eh ya, waktu upacara aku mewakili prodiku maju menerima jas almamater fakultas. So amazing!

Hm, ada lagi.

Pas sore semua ngumpul buat tanda tangan biodata, aku yang baru aja telepon Papa tiba-tiba dihampiri Gege, "Eh, 74 kali 5 berapa? 370, kan?"

"Hah? Iya, kenapa?"

"Gue mau traktir seangkatan cincau," jawab Gege.

"Beuh, emang kenapa lo?" tanyaku heran (cara ngomong 'gue-lo' ini khusus aku pakai kalo lagi ngomong sama anak Jakarta kayak Gege dan Rozzaq).

"Gue lagi seneng aja," jawabnya santai.

Malamnya, aku baru tahu kenapa. Gege ternyata ulang tahun! Wuah, grup ramai ucapan selamat ulang tahun, nggak cuma buat Gege, tapi buat Rachmat juga yang ulang tahunnya kebetulan barengan Gege. Lucunya, ada yang ngirim message 'Hbd Gege! Jangan lupa putusin Awkarin!'

Iseng, aku coba aja kirim ke Gege pesan kayak gitu. Dia bales, 'Waah iyaa gue baru nyadar Gaga mutusin Awkarin pas dia lagi ultah! Haha,'

Oke, yes. Panggilannya memang sebelas dua belas sama mantannya Awkarin. Mantannya Awkarin terbaru namanya Gaga, yang ini panggilannya Gege. Nama aslinya Gerald Damping, hahahaha.

Hari kedua? Well, ini juga receh abis! Hari ini adalah presentasi UPK. Aku menemukan beberapa yang cocok, sih. Pertama, FKMM (Rohisnya Fisip, tuh!). Aku udah setengah mati kangen sama akhwat-akhwat jilbab besar (ntar aku jelasin alesannya). Kedua, Species (English Club-nya Fisip). Aku malah udah mengumpulkan formulir keanggotaan. Sumpah itu seru banget UPK-nya, sampai abis lho formulirnya diborong anak HI semua. Ketiga, Auflarung (dalam bahasa Jerman, artinya sang pencerah). UPK ini adalah forum diskusi sejarah dan pengetahuan umum. Bayangin aja, prokernya aja isinya kepenulisan, bahas film, dan jelajah museum. Gimana aku nggak mupeng coba, hahahaha. Keempat, senat mahasiswa. Daripada masuk BEM, aku lebih suka bagian legislatifnya. Kelima, HMHI (Himpunan Mahasiswa HI). Mau dong tentunya mengabdi untuk fakultas sendiri.

Eh tapi, itu ntar masih aku pertimbangkan semua. Nggak mungkin deh mengambil sebanyak itu langsung dalam satu semester. Gila aja kali, ya?

Tadi juga ada kakak-kakak tingkat yang promosi konser Fisiphoria (ini salah satu alasan aku nggak pingin masuk BEM, kalau aku harus dapet bagian buat ngurusin proker itu, please, sori-sori aja). Konser gitu lah acaranya, ngundang DJ. Hell-o. Tempatku bukan di konser musik dan hura-hura di sana, sori-sori aja. Dipikir aku demen apa sama musik-musik begituan. Oh, lagian mana mungkin ikutan nonton konser di mana aku harus campur baur sama cowok gitu. Maaf-maaf saja, aku nggak bakalan datang meski anak FISIP. 

Lucunya hari ini...eh, nggak ada. Biasa aja, serunya biasa. Cuma hari ini ada kejadian unik aja, sih.

Ceritanya pas isoma aku diajak Rozzaq salat di musala. Dia kan cowok, jadi cekeran gitu nggak masalah. Sementara aku...well, nggak bisa. Terus dia bilang, "Cekeran aja, ngapain lo pakai sepatu?"

"Hey," ujarku pelan. "Mata kaki perempuan termasuk aurat juga, lho,"

"Oh iya ya, gue lupa,"

Padahal pas ngomong gitu, di depanku ada teman-teman cewek yang melenggang kangkung ke musala tanpa kaos kaki. Duh, mereka dengar nggak ya? 

Ada juga cerita pas tadi ada UPK pers presentasi. Naufal ngajak aku tos tinju, cuma lucunya aku refleks aja balesinnya dengan caraku menolak cowok salaman. Hahaha untung aja suasana ngumpulnya nggak canggung. Tetap receh dan seru.

Untuk dua hari ini, aku gonta-ganti teman ngumpul. Kadang sama Joseph. Kadang sama Amalia, Ayu, Isna, dan Della. Kadang bareng Irene, Sarai, Felis, dan Lisa. Yang tadi sore...sama Rozzaq, Naufal, dan Gege. 

Gimana kesannya OSPEK? Seru, kok. Seru abis. Sensasi harus ngelembur ngerjain tugas, patungan ini itu seangkatan, dan lain-lain. Anak-anak yang asalnya dari Jakarta pada baik-baik. Misal, tadi Razzaq nalangin kita buat beli wingko babad, tugas besok Kamis. Tahu bakso yang dibeli hari Selasa buat tugas hari ini pun juga ada yang nalangin, kayaknya dari Jakarta semua.

Dukanya, itu cuma satu. Aku beneran mengulang semua dari nol. Aku harus membiasakan diri. Kan beberapa cowok kalau belum kenal banget sama aku main tepuk pundak gitu, padahal jelas aku udah bilang aku nggak bisa salaman sama cowok. 

Lalu, ada lagi. Ketika aku bilang, "Insya Allah," hampir semua mungkin mengira aku nggak beneran janji. Ya Allah, salah tangkap sepertinya. Arti insya Allah sendiri padahal adalah aku tetap berusaha, tapi Allah yang menentukan kehendak apakah janjiku terlaksana atau tidak. Aku mengusahakan 99%, sisanya Allah. 

Well, melihat keadaan mereka, aku jadi nggak bisa langsung ngomong, "Maaf aku begini,", "Maaf aku begitu,", dan sejenisnya. Harus pelan-pelan. Aku nggak mau mereka melihatku sebagai ekstrimis. Ya ampun, tenang, aku bergaulnya juga membaur, insya Allah. Hey teman-temanku yang cowok, nggak semua ccwek yang menolak kalian salaman itu ekstrim ya! Anak HI masa' jadi ekstrimis?

Di sisi lain, seriusan aku kangen suasananya ABBS yang pas ibadah kondusif. Sekali semua jama'ah ya bakal jama'ah semua. Di sini yang cowok jama'ah, ceweknya sendiri-sendiri. Aduh, sedih. Tadi mau nangis, cuma aku sabar-sabarin beneran. Aku nggak terlalu kaget dengan lingkungannya, cuma suasananya itu lho malah bikin aku jadi homesick beneran sama Surakarta tercinta. Gagal move on, deh.

Oke, di sini aku butuh motivasi beneran dari guru-guru ABBS.

Oh, sebagai kabar tambahan, aku resmi terdaftar sebagai delegasi Undip dalam IRDU MUN 2016 bulan Oktober mendatang. Jadi, mahasiswa HI mengadakan semacam diskusi MUN, singkatan dari Model United Nations. Diskusi model sidang PBB. Temanya tentang kejahatan transnasional, berhubungan dengan NATO dan IORA gitu.  Pesertanya nggak cuma dari Undip, setahuku mungkin ada yang dari luar juga. Info lebih lanjut akan dikabari tanggal 14 Oktober mendatang, termasuk bahan belajar dan bagaimana MUN itu nantinya. Wow, jadi nggak sabar!

Semangat mahasiswa baru hubungan internasional 2016! Hidup mahasiswa!!




Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...