Hari ketiga OSPEK...hm, mungkin akan menjadi hari yang beneran agak gimana gitu. Gimana ya...duh, bingung ceritainnya.
Jadi, di hari ketiga ini kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku di kelompok A1 yang dibimbing Mas Abon (kakak ini nih yang biasanya memandu kita yel-yel). Hm, terus ngapain lagi? Oh iya! Inget! Hari ketiga, MC membagikan empat kertas, dua pink dan dua biru. Dua pink itu kertas gossip box, diisi gosip apa aja yang beredar di angkatan 2016 atau di kakak tingkat. Dua biru itu kertas must do box, diisi apa yang harus dilakukan seseorang gitu, boleh ditujukan ke siapa aja. Nah, masalahnya adalah must do box ini. Jadi, gossip box itu diisi kebanyakan maba dengan gosip, si ini sama si itu, si ini naksir si itu, dan lain sebagainya. Sialnya, aku dipacokin sama seseorang, tetapi mendingan sih kalau gossip box itu nanti kita bisa klarifikasi. Kalau di must do box? What the hell (maaf kasar, but this must do box lah yang memancing masalah di hari-hari berikutnya), yang benar saja.
Oke, singkatnya namaku tertulis di must do box sama si A (cowok) dan di must do box, si A itu harus nembak aku. Refleks aku lari ke pintu dan bilang, "What the hell,". Yes, si A tanpa malu-malu beneran melakukannya dan begonya aku malah jawab asal, "Gimana kalau jadi suamiku aja? Aku nggak suka pacaran,"
Oke, cuma bercanda? Aku nggak peduli itu cuma bercanda atau seriusan, yang jelas si A emang perhatiannya ke aku over. Seriously. Aku padahal baru kenal dia di hari kedua OSPEK dan dia udah melakukan macam-macam. I mean, kalau misalnya di tempat keramaian gitu yang lagi gaduh, kamu baru ngeluarin sampah dari kantong baju dan mau buang, eh, tiba-tiba ada cowok yang nawarin buangin, apa reaksimu? Atau kalau kamu makan apa langsung dibayarin? Atau kamu mau ke mana ditawarin anter? Atau ketika nggak ada angin nggak ada hujan maunya duduk sebelahmu terus? Atau (ini yang parah) kamu tahu posisinya cuma temenan tiba-tiba kamu dikirim Line dari itu cowok dipanggilnya, 'Beb'? Amit-amit!
Masalah tembak-menembak inilah yang membuatku ramai dipacokkin seangkatan. Yep, ini masalah besar (karena aku dari dulu nggak pernah tahu cara menangani cowok macam ini). Aku harus segera klarifikasi. If I didn't do it, I would get more troubles.
Oh ya, di hari ketiga ini juga ada diskusi tentang Pancasila dan manusia sebagai makhluk Tuhan. Yep, aku sadar ternyata banyak ya yang baru jadi maba udah ngerti ateis-ateis gitu, bahkan beberapa mungkin ada yang udah beneran ga percaya sama Tuhan. HI memang tantangan besar. Di sebuah diskusi, aku kalah oleh maba yang udah baca bukunya Karen Amstrong (Ya Allah, padahal selama SMA yang aku baca baru tesis doktoral S3, itu pun minjem Mr. Izz) tentang ketuhanan.
Well, di hari keempat, apa yang aku rindukan baru datang. Pas Jumatan ada mentoring! Yeay! Tahu nggak sih betapa senengnya aku waktu itu? Aku terharu melihat lingkaran mentoring (which makes me miss Surakarta much more) dan mbak-mbak pengisi materinya yang kebetulan sudah kukenal saat aku mampir ke stand Insani Undip (Indahnya Persaudaraan Islam Undip). Aku langsung curhat sama mbak-mbaknya tentang cowok, adaptasi yang sulit di lingkungan FISIP yang cenderung hedonis, dan lain sebagainya. Curhatnya aku lakukan di luar mentoring, sih. Haha. Pas mentoring cuma bahas yang awal-awal aja, sih. Soalnya nggak semuanya pernah ikut mentoring.
Jumat ini juga materinya dari dosen kebayakan sejarah dan wah, pas sekali jadinya alhamdulillah bisa jawab banyak. Ada satu pertanyaan menarik yang diajukan, sih. Nggak banyak lho orang yang bertanya seperti ini di luar pelajaran sejarah.
Jadi, dosen itu mengajukan pertanyaan begini, "Mengapa seharusnya tonggak kebangkitan adalah lahirnya Indische Partij? Yang bisa jawab maju,"
Aku mengacungkan tangan.
"Karena, Budi Utomo itu masih bersifat Jawa," jawabku. "Indische Partij kan nggak semuanya Jawa. Pendiri partainya, Douwes Dekker, dia bukan orang Jawa. Dia orang Indies campuran. Makanya seharusnya tonggak kebangkitan nasional seharusnya adalah ketika Indische Partij berdiri, bukan ketika Budi Utomo dengan ke-Jawa-annya didirikan,"
"Applause! Jawabannya tepat sekali,"
Oh ya, di hari Jumat ini juga aku menemukan solusi untuk permasalahanku dengan cowok yang menembakku. Caranya? Aku meminta Sarah dan Junita buat selalu duduk di sebelahku, so dia nggak punya kesempatan buat deketin. Aku juga cuek aja pasang tampang poker face terbaikku, hahaha. Teman-teman yang perempuan mulai mengerti permasalahanku ketika akhirnya aku memutuskan untuk cerita, jadi mereka melindungiku. Baik banget.
Oke, berikutnya hari terakhir. Sabtu. Akhirnya aku mulai ngerti apa yang harus kulakukan untuk menghindari cowok itu. Aku pura-pura aja cuekin, sok-sok lupa, gitu-gitu deh. Irene dan Amalia yang tahu masalahku juga bantuin. Supaya aku nggak banyak ketemu dia pas apalah itu, Amalia selalu menggandengku biar kelihatan aku udah ada yang gandeng, so dia nggak deketin. Sometimes Irene juga ngasih kode gaje sih pas ada orangnya, hahaha.
Sabtu ini kami ada pentas seni. Aku jadi supporter dan nantinya ikutan flashmob, yeay! Selain itu, kami sefakultas dikumpulkan untuk membuat mozaik. Capek beut yang itu, ahaha, apalagi nggak bawa minum. Duh! Kebayang ngangkat kertas asturo lama gitu nggak sih? Capek, serius.
Sabtu ini juga kami ada materi. Hm, paling menarik ketika ada kakak tingkat yang menjelaskan pengalamannya ikutan London International Model United States (LIMUN) tahun 2016 dan presentasi essay di Cina. Wuah, seru abis! Apa yang masuk ke kepalaku saat itu adalah, hey, it will be me next year, as soon as possible! Tahu-tahu aja aku ingin melampaui pencapaiannya Mr. Dimas saat pertukaran pelajar dulu. Soon aku pingin banget gantian aku gitu yang mengirim foto perjalanan pertamaku ke luar negeri. Pasti seru!
Nah, karena Sabtu ini hari terakhir, fakultas menutupnya dengan pentas seni. Seru banget pensinya! Well, HI menurutku penampil terbaik. Setelah menyanyi, anak HI seangkatan flashmob bareng-bareng, padahal jurusan lain nggak semuanya ikutan flashmob. Lucunya, teman-teman langsung heran melihatku ternyata asli rame banget kalau lagi nonton pensi. Haha, duh dikira kalem, padahal kapan ya Antania kalem? Bentar, aku inget kapan terakhir kali kalem. Hahahahaha.
Tradisi HI ketika PMB berakhir adalah memilih Mas dan Mbak PMB 2016. Alhamdulillah, nggak nyangka aku yang terpilih untuk Mbak PMB 2016, sementara Mas PMB 2016 adalah Wira. Pas foto bareng, ada lucunya sih. Vanka teriak, "Oy, Wira dirangkul dong, Nis!". Ealah, aku nggak bisa kali. Massa angkatan 2016 yang sebelumnya teriak, "Jadian! Jadian!" tiba-tiba berubah jadi, "Ta'aruf! Ta'aruf!". Hahahaha...akhirnya mereka bisa mengerti juga prinsip yang aku pegang.
Pas tadi juga kita seangkatan rangkulan buat yel-yel, Tito yang udah tahu ketika ternyata harus rangkulan sama aku langsung bilang ke katingnya, "Aku nggak masalah kalau rangkulan sama siapa aja, tapi sama dia nggak. Bukan mahram. Dia sendiri juga nolak,". Akhirnya Irene-lah yang menengahi kami. Haha, makasih banyak, Irene!
Catatan akhirnya...fiuh, akhirnya bisa mempertahankan apa yang harusnya dipertahankan. Dengan cowok utamanya. Memang pertamanya susahnya luar biasa, mana banyak banget cewek pada pukul-pukulan gitu sama cowok, jadi keinget pas masih jahiliyyah di SMP dulu. But, itu tergantung mana yang dipilih, mau bertahan atau kalah. Mau jadi warna atau tembok yang diwarnai. The thing I choose is to become different, kalau kata Bunda Lukluk pas aku curhat abis ditembak itu jadi Antania yang cerewet dan aneh kayak biasanya, jadi aku punya identitas. I did it. Aku memilih jalan itu. Aku tetap menyapa semuanya, hanya saja no touching, no giving water, dan masih banyak lagi. Aku tetap bisa jadi seseorang yang komunikatif, tetapi masih punya harga diri. Well, I choose to be different. Pada akhirnya alhamdulillah sukses dan semua mulai mengerti prinsip yang kupegang.
Overall semua luar biasa. Aku menghargai kating-kating HI 2015 yang sumpah baik banget. Kalau ada yang melanggar nggak ada yang dihukum, yang ada kating-kating malah bantuin agar gimana caranya nggak ketahuan senat mahasiswa. Pernah suatu hari, Bang Vlad sebagai ketua PMB bilang, "Dek, yang sepatunya bukan pantofel, sepatunya taruh di tempatnya panitia ya biar dikira sepatunya panitia. Biar nggak ketahuan senat,". Beberapa kating juga akrab banget sama maba. Bang Vlad, Bang Fahmi, dan Mas Abon yang biasanya menemani kita semua selama seminggu ini. Ada juga Kak Dorothea yang cantik, Mas Kevin yang keren dan kalem, Mas Mustofa, dan lain-lain.
International Relations Diponegoro University memang luar biasa!!
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Some Memories...
Cowok yang di tengah ini lho yang namanya Gerald Damping (Gege)
Anak Bekasi ini rada aneh, haha. Cappuccino cincau harga 6000-8000 dibilang mahal, emang di Bekasi murah?
Foto bareng teman ngumpul pas pensi inaugurasi tadi sore
Kanan ke kiri: Ayu (temen SD, ga nyangka ketemu lagi), Irene, Amalia
Aku sama Amalia sama cerewet dan gajenya, nyambung deh
Jangan pernah percaya sama muka polosnya, hahaha
Paling kanan ada Epu, tuh. The only one yang bisa aku ajak diskusi keislaman
Lega banget bisa ketemu yang jilbabnya gede juga
Alhamdulillah, first time dapet beginian. Chosen to be Mbak PMB HI 2016





Komentar
Posting Komentar