Hari ini sebenarnya kuliah pertama dengan mata kuliah bahasa Indonesia dan Perancis, tetapi ga tahu kenapa tuh pulangnya aku tiba-tiba kangen Surakarta. Pingin rasanya cepetan balik ke sana, tapi kapan? Duh, presentasi universitas dari Undip kapan sih?
Sekolahku keren, serius. Aku berani taruhan semua anak prodiku akan terkesan jika aku cerita tentang sekolahku. Semi pondok? Dibatasi? Ah, itu cuma menjadi utopia buatku. Entah kenapa justru aku merasa enjoy dengan sekolahku yang katanya ketat dan dibatasi. Aku merasa seperti menemukan rumah kedua. Kalau dikira aku bilang gitu karena dulunya mantan anak boarding, sumpah salah besar. Asli aku cinta banget sama SMA-ku. Itulah mengapa aku benar-benar menjaga diriku selama kuliah. Selain karena aku sudah tahu dalil-dalil dan adab-adab bergaul, aku nggak mau nama almamater SMA tercemar karena sikapku.
Kenapa ya aku bisa cinta banget sama ABBS? Nggak tahu, serius. Aku suka semua detail yang ada di sana. Pemandangan, guru-guru, karyawan, dan teman-teman. Aku suka semuanya. Kalau dibilang guru-guru SMA itu tua-tua dan menyebalkan, ABBS justru sebaliknya. Well, aku dekat dengan hampir semua guruku. Wali kelasku aja saking dekatnya aku panggil 'Bunda'. Eh, nggak. Wali kelasku dan wali kelas sebelah dua-duanya kupanggil 'Bunda'. Wali kelasku Bunda Lukluk, wali kelas sebelah Bunda Wochy.
Namun, dari semua itu yang paling amazing of course 'Trio Crazy'. Anggotanya teman-teman sebaya? Salah. Trio Crazy beranggotakan aku, Mr. Izz, dan Mr. Dimas. Awalnya sih cuma aku dan Mr. Izz doang yang biasanya saling menyalurkan kegilaan-kegilaan dalam diskusi, tapi akhirnya ditambah Mr. Dimas yang masuk jadi guru ABBS waktu aku kelas XII. Mr. Izz asyik banget kalau diajak diskusi ketuhanan, ideologi, tata bahasa, dan lain-lain, meanwhile Mr. Dimas paling seru kalau diajak ngobrol tentang dunia, beasiswa ke luar negeri, dan travelling. Kalau udah ngumpul bertiga, beuh, serunya nggak kebayang. Hampir jarang aku bicara dalam bahasa formal saat dengan beliau-beliau ini. Udah biasa sih, selain itu tegurannya Mr. Dimas juga nggak mempan. Hahaha.
Mr. Izz? Udah, nggak usah dijelasin lagi. Udah sering cerita di postingan-postingan lalu. Beliau adalah ayah buatku, so if you dare to make him angry, you will face me. Beliau adalah teman diskusi, teman curhat, teman ngobrol, pelatih lomba kalau aku ikutan lomba bahasa Inggris, crazy friend, guru terfavorit pake banget, dan lain-lain. Di antara teman seangkatan aku yang paling dekat dengan beliau, jadi biasanya kalau teman ada urusan apa-apa dengan beliau, mereka minta aku temenin. Gegara beliau juga yang biasanya bawain durian kalau pulkam, aku jadi suka durian. Hahaha. Aku belajar banyak banget dari beliau, kalau aku tulis di sini nggak bakal muat. Kalau secara garis besarnya aja, aku belajar tentang kesederhanaan, be open-minded, kegilaan-kegilaan, dan lain sebagainya.
Mr. Dimas? Well, ini lucu. Sama seperti Mr. Izz, hanya aku dari seangkatan yang paling dekat dengan Mr. Dimas. Kebayang nggak ada guru-murid yang main kancing-kancingan pintu? Kebayang nggak ada guru-murid WA-nan kalau marah dan berantem frontal? Kebayang nggak ada guru-murid yang dekatnya kayak kakak-adik? Ya, kalian hanya bisa menemukannya di ABBS ketika aku lagi barengan beliau. Sama-sama suka iseng, sama-sama melakukan hal-hal aneh, itu yang bikin aku dan Mr. Dimas nyambung, meski awalnya aku rada jaga jarak. Mr. Dimas mulai dekat denganku ketika Mr. Izz menyebut namaku dalam obrolan mereka sebagai murid tergila di sekolah.
Ah, satu hal unik kalau barengan Mr. Dimas...hm, aku biasanya dapat oleh-oleh kalau beliau pergi ke mana gitu. Pertama kali aku minta oleh-oleh ke Mr. Dimas itu...waktu beliau nemenin siswa kelas X lomba ke Malang. Aku dioleh-olehin keripik apel. Eh, ternyata kebiasaan itu keterusan. Waktu aku ke Tangerang dan beliau muncak ke Gunung Merbabu, aku dioleh-olehin foto dari puncak gunung dan aku bawain beliau dan Mr. Izz emblem dan gantungan kunci. Waktu beliau study tour bareng anak kelas XI ke Jakarta-Bandung, aku dibawain tas. Waktu beliau ke Pontianak buat ngajar, aku dibawain dodol lidah buaya. Waktu beliau ke Pasar Beringharjo, aku dibawain kapal dalam botol.
The other thing, apa lagi ya? Oh ya, aku dan Mr. Dimas itu partner kalau lagi nyari beasiswa ke luar negeri. Dulu aku idealis banget, pokoknya lulus SMA kuliah di luar. Aku sempat lolos seleksi beasiswa ke Malaysia oleh Ancora Foundation sampai tahap II, terus ngirim aplikasi ke Turki, ambil TOEFL, itu semua aku lakuin berkat sarannya Mr. Dimas yang emang udah pernah ke Aussie buat ngajar. Saking baiknya, beliau peka banget kalau aku minta tethering buat nyari info beasiswa. Cukup bilang, "Sir, tethering dong!"
Dari kesemua hal itu, aku paling kangen sama aktivitas-aktivitas yang kulakukan di sana. Bangun jam 3, mandi, salat tahajud, salat subuh jama'ah, al ma'tsurat, siap-siap ke sekolah, beli susu cokelat buat sarapan, ketemu Mr. Dimas dan jailin beliau, melihat langit biru, tidur pas pelajaran, lomba-lomba, ngobrol sama guru-guru, dan masih banyak lagi. Ngobrol sama Pak Win dan Pak Marwan juga seru.
Dan...aku kangen diusilin si dia. Sayang banget udah pergi jauh. Dearest Yusuf Habibi, serius aku kangen banget sama kamu. You're the first person I want to meet if I can catch you.
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar