Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

Arashi Rules!

Postingan ini terinspirasi oleh tulisan salah seorang wartawan yang benar-benar sangat beruntung bisa mewawancarai Arashi saat mereka mengadakan konser Dream A Live di beberapa negara di Asia. Ini tentang bagaimana Arashi (bisa-bisanya) "menghancurkan" seluruh idol lain yang pernah kusukai dan membuatku dengan mudahnya move on dari K-Pop tanpa beban sedikit pun. Yeah, once they get your soul, soul, you'll never come back, I guarantee it . Ini terjadi kepadaku dan banyak orang yang dulunya nggak suka boyband dan idol group . First thing first, aku tipikal orang yang inkonsisten ketika menyangkut musik. Adikku suka ini, aku ikut-ikutan. Teman lagi suka ini, aku ikut-ikutan. Namun, begitu mengenal Arashi pada 2014 ( to be exact, ketika liburan SMA), aku menandai mereka dan mengatakan, "Ah, ini lho! Musikku banget! Ini musikku!". Sejak saat itu, aku yang inkonsisten ini berubah 180 derajat. Dulu, aku rajin mengganti-ganti playlist yang ada di ponsel karena bosa...

Childhood (2)

Satu hal yang paling menyedihkan dari masa sekarang adalah bagaimana bisa hal itu menghapus masa lalu begitu mudahnya, perlahan-lahan, tanpa kita sadari. Ketika ingin bernostalgia ria, tersadar bahwa jejak-jejak itu telah hilang, tidak ada lagi yang bisa dilakukan.  Kugeber motorku pagi ini berjalan-jalan di sekitar kota kelahiranku. Banyak sekali hal yang berubah dan entah mengapa aku merindukannya. Lapangan tempatku bermain telah menjadi masjid besar di depan rumah dinas bupati. Ah, dulu di sana aku kadang-kadang mengayuh sepeda. Puas rasanya kalau bisa mengayuh satu putaran. Menjadi anak-anak menyenangkan memang. Aku melewati daerah rumah sepupuku di Sidomulyo. Rumah-rumah besar telah berdiri di sepanjang jalan. Dulu, dengan sepeda, skuter, dan sepatu roda, aku, sepupuku, dan adikku biasa bermain di sana sampai lelah. Ketika melewati jalan itu, rasanya aku masih bisa mendengar suara tangisku ketika jatuh dari sepeda hingga lututku lecet-lecet. Aku masih bisa mendeng...

Kudet? Shiranai

"Kyaaa...Arashi jadi nomor 1 di Oricon chart minggu ini!" seruku seraya berlari kecil ke ruang keluarga. Mama yang sedang bersiap-siap pergi sebenarnya sudah biasa dengan kehebohanku. Ini bukan pertama kalinya aku begini. Sudah sering. "Anak stres," kata Mama dari kamar. "Kenapa, sih?". "Tsunagu jadi nomor 1 di Oricon chart minggu ini, Ma!" jawabku. "Tsunagu tuh apaan?". Aku dengan sok tahu menyanyikan nadanya.  "Nggak tahu, ah!" Mama menyerah. "Ih, Mama! Itu single Arashi terbaru, Ma!" kataku sebal. Mama hanya geleng-geleng kepala sembari melihatku yang menyalakan TV dan mencari channel Waku Waku Japan untuk menonton acara J-Pop Countdown. Siapa tahu ada di sana kan, pikirku. "Kamu tuh dengerin lagu Jepang terus. Pop Indonesia kan banyak yang bagus," ujar Mama. "Nggak ada yang inspiring, Ma," dalihku. "Banyak kok yang inspiring ,". "...

Taisetsuna Hito

Matahari baru naik sepenggalah, tetapi orangtuaku sudah sangat sibuk karena membantu hajatan tetangga. Mama sudah berangkat sejak pagi untuk membantu ibu-ibu lain membungkus snack. Papa dan aku baru saja pulang dari jogging (lebih tepatnya Papa yang jogging dan aku malah putar-putar keliling kota dengan motor), selanjutnya Papa akan membantu bapak-bapak di sana. Dan di saat itulah aku membaca komentar yang mengejutkan. "I plan to visit Semarang next weekend! Wish you be able to accompany me explore over cool places over there!" . Uh, tentu saja aku akrab dengan user yang baru saja komentar itu. Itu dari Rifai! Oke, ini hebat. Rifai akan ke Semarang dan dia mengajakku main, apa yang lebih hebat dari itu? Aku bergembira tentunya, tetapi itu tidak lama ketika menatap cermin. Ah, bukan, ini justru malah bencana! Aku langsung menghubungi sahabatku, Faifda, yang kemungkinan saat ini sedang sibuk di pemancingannya untuk membantu orangtuanya.  "Daa...kam...

A Talk About Being Single

"Ma, temanku ada yang pacaran," kataku bersungut ketika kami berkumpul di ruang keluarga. "Memang kenapa? Ya sudah, kan? Pacaran kan nggak boleh," ujar Mama. "Err...nggak sih, Ma, aku berasa makin jomblo aja," Aku menghela napas. Juli ini memang membuat status single yang kusandang semakin terasa. Bulan ini sudah datang ke resepsi pernikahan, dengar kabar pernikahan seseorang, dan sekarang ditambah ini. "Ya, nggak apa-apa kan? Nikmati aja hidupmu. Tunjukkan dong kalau kamu bahagia,". "Aku juga nggak nganggep cowok itu penting sih sekarang. Saat ini cuma sepersepuluh aja porsi cowok dalam kehidupanku. Lagi asyik tanpa cowok," Aku merekatkan ibu jari dan telunjukku untuk menunjukkan seberapa kecilnya. "Cuma yah...bisa nggak ya aku menemukan Mr. Right suatu saat nanti?". Terkadang aku geli sendiri memikirkan masa depan, terutama jika itu menyangkut calon teman hidup kelak. Sudah setahun ini aku tidak lagi mer...

Aktivis Menye-Menye yang Baperan

"Kalau aktivis dakwah jaman sekarang kerjaannya melulu baca buku tentang nikah, baper-baperan kalau ada yang nikah, gimana bisa mendakwahi mahasiswa kritis yang lekat sama buku-bukunya Marx?". Aku pernah membaca kalimat ini di sebuah artikel di LINE dari sebuah akun random. Aku setuju dengan hal itu dengan sedikit koreksi yang akan kutulis dalam artikel ini. Selama di kampus, aku banyak bergaul dengan teman-teman dari lintas agama, ideologi, dan kepercayaan. Sering ada yang mengajakku berdiskusi tentang agama dan kaitannya dengan filsafat maupun ideologi. Karena tertarik, aku membaca buku-buku tentang sosiologi dan filsafat Barat yang menjadi bahan diskusi. Ada banyak hal yang menarik selama tukar pendapat dan transfer ilmu yang kami lakukan. Aku mendapat tambahan ilmu seputar politik, filsafat, hukum, dan sosiologi. Mereka juga mendapat tambahan pengetahuan agama dariku. Inilah yang kurang dari aktivis dakwah kampus sekarang. Gimana ya aku harus mengatakannya, m...

A Talk About Marriage (2)

"Kayaknya nggak bisa ngadain resepsi di sini kalau aku nikah nanti, deh," ujar seorang gadis pagi ini ketika pandangannya melayang ke arah luar jendela kamar orangtuanya. "Halaman kita terlalu kecil, masa' mau bikin tenda hajatan di jalanan? Kayaknya harus sewa gedung, deh,". Mama yang sedang bersiap-siap pergi tersenyum dan berkata, "Sewa gedung nanti itu urusanmu ya. Kita sih gampang kalau mau buat hajatan kecil-kecilan mengundang warga kampung, tapi kalau mau sewa gedung nanti pakai uangmu sendiri,". "Aku tahu kok," ujarnya. "Aku tinggal menabung untuk sewa gedung,". "Itu belum sama kateringnya lho," tambah Mama. "Kalau kamu mau nikah, hal yang kamu pikirkan terlebih dahulu itu beli rumah." Papa yang sedang tiduran di kasur menimbrung obrolan mereka.  "Bukannya itu urusan laki-laki?" tanyanya heran. "Jangan tergantung sama laki-laki. Paling nggak kamu harus punya rumah d...

A Day In Library

Liburan ini benar-benar membosankan karena lebih panjang dari semester sebelumnya. Setelah berputar-putar keliling kota sendirian dengan motor sembari menunggu Papa jogging , aku memutuskan pergi ke perpustakaan. Definitely , itu jauh lebih baik daripada mengisi evaluasi dosen di SIMAWEB. Meccha meccha malas aku melakukannya. Perpustakaan hari ini cukup ramai. Yah, mungkin karena ini hari Sabtu. Orang yang cepat bosan seperti aku pasti ingin sekali keluar rumah mencari hawa segar dan perpustakaan salah satu tempat ideal. Koleksi novel berak-rak yang membuatku ingin ke sana.  Belum terlalu lama sebenarnya aku membaca novel. Baru-baru ini aku membaca seri pertama Sherlock Holmes karena penasaran dengan sosok detektif cerdas ini. Well, novelnya keren sekali ternyata. Sasuga desu ne , batinku dalam hati. Begitu tiba di perpustakaan, mataku terarah kepada rak-rak novel dan sejarah yang berjejer. Entah mengapa tanganku malah teracung untuk memilih buku tentang sejarah Kab. ...

Another Holiday's Whereabout Thought

Dilema liburan mulai melandaku. Kangen ikut kuliah. Kangen pergi ke kampus ( at least ). Eh, tapi nanti kalau udah sibuk-sibuknya ngampus, tahu-tahu kangen liburan dan ketenangan. Ah, dasar manusia! Well, ini sudah lewat tanggal yudisium, tetapi malas sekali rasanya mau buka website kemahasiswaan. Tahu kenapa? Soalnya, aku tidak akan bisa membuka hasil yudisum sampai aku mengisi evaluasi dosen. Kesal sekali evaluasi dosen harus ada di dunia ini. Dulu jamannya sekolah, terutama waktu SMA, aku malas sekali waktu guru minta ditulis kritik-saran gitu. Pertama, karena aku typically orang yang menilai bahwa ya setiap manusia emang ada kelemahan dan kelebihan dan karena itu aku menerimanya, terutama kalau itu menyangkut guru ( I mean, mereka udah memberiku lebih banyak hal, masa' aku harus mengkritik mereka?). Kedua, aku malas memikirkan kekurangan seseorang unless hal itu memberikan kesan mendalam sampai aku nggak bisa lupa. Yah, kurang-lebih itulah yang juga membuatku malas mengis...

[Review] Salah Asuhan (Abdoel Moeis)

Kisah Malin Kundang abad 20, demikian sebuah review menuturkan tentang novel ini di awal halamannya. Ketika membacanya, aku sedikit tidak setuju dengan titel 'Malin Kundang Abad 20' karena kisahnya tidak melulu berpusat di kedurhakaan seorang anak kepada ibunya, even buatku novel ini memberikan lebih banyak kritik yang sampai sekarang pun masih sangat relevan daripada sebuah kisah tentang anak durhaka.  Berlatar tempat di Solok, sebuah kota kecil yang berada di Sumatera Barat, dikisahkan ada seorang pemuda bernama Hanafi yang tinggal bersama ibunya. Hanafi telah menamatkan pendidikannya di Betawi dan memiliki banyak sahabat Eropa, salah satunya adalah teman masa kecilnya, Corrie du Bussee. Meski Hanafi seorang Minang, dia merasa inferior dengan sukunya, terlebih ketika Corrie menyinggung dirinya yang seorang Bumiputera dalam diskusi mereka mengenai adat dan budaya. Hanafi merasa budaya Eropa jauh lebih superior ketimbang budaya Minang yang dia miliki. Hanafi yang sudah...

Still...

"Suatu hari nanti," aku ingat kata yang kau ucapkan itu, yang sepertinya mudah sekali dilupakan Di sebuah jalan, di mana hembusan angin dapat menghentikan musim itu Lalu, aku kembali kepada kesadaranku berkat suaramu dan melanjutkan kehidupanku Betapa bersinar semuanya semenjak hari itu " Itsuka . Suatu hari nanti," Pada hari itu, kita berdiri berhadapan. Tidak ada kata yang terucap di antara kita, tetapi masing-masing sudah tahu inilah saatnya. Aku hanya bisa melihat matamu yang mengucapkannya. " Itsuka ," katanya. "Suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi,". Aku tersenyum. Ah, sudah saatnya. Bukankah begitu? Kakiku terasa semakin ringan untuk melangkah ketika mengingatmu, meski jarak terasa semakin jauh. Kenangan-kenangan itu menghangatkanku dan terus memberiku semangat untuk berjalan seperti biasanya. Rasanya aku tiada bisa mengelak, betapa bersinarnya semua hal yang kujalani semenjak hari di mana aku bertemu denganmu...

[Cerpen] Memento: Seorang Pria, Seorang Gadis, dan Seorang Pemuda

Sret...sret... Ruang kantor besar itu sangat lengang hingga suara goresan pena terdengar di mana-mana. Seorang gadis bertudung hitam tampak sibuk mencorat-coret setumpuk berkas yang sudah seminggu meninggi di mejanya dengan kesal. Sepertinya sekretaris baru itu harus lebih banyak belajar lagi tentang ejaan bahasa Indonesia, keluhnya dalam hati ketika goresannya berhenti dan berganti dengan ketukan pena yang amat cepat.  Ketidaksabaran begitu cepat menguasainya sehingga akhirnya ia memutuskan untuk memasukkan kembali berkas tersebut ke dalam map. Dia melempar pelan map tersebut ke atas meja dengan helaan napas berat. Amat menyebalkan baginya melihat kesalahan sekretaris yang tampaknya masih sama seperti sebelumnya: ejaan. Mata cokelat gadis itu menerawang ke arah laci meja kerjanya. Diulurkanlah tangan kanan untuk menariknya. Sebuah buku bersampul cokelat dari kulit tersembul keluar. Gadis itu sedikit tersentak sesaat, seperti menemukan sesuatu yang sudah beberapa hari ...