Sret...sret...
Ruang kantor besar itu sangat lengang hingga suara goresan pena terdengar di mana-mana. Seorang gadis bertudung hitam tampak sibuk mencorat-coret setumpuk berkas yang sudah seminggu meninggi di mejanya dengan kesal. Sepertinya sekretaris baru itu harus lebih banyak belajar lagi tentang ejaan bahasa Indonesia, keluhnya dalam hati ketika goresannya berhenti dan berganti dengan ketukan pena yang amat cepat.
Ketidaksabaran begitu cepat menguasainya sehingga akhirnya ia memutuskan untuk memasukkan kembali berkas tersebut ke dalam map. Dia melempar pelan map tersebut ke atas meja dengan helaan napas berat. Amat menyebalkan baginya melihat kesalahan sekretaris yang tampaknya masih sama seperti sebelumnya: ejaan.
Mata cokelat gadis itu menerawang ke arah laci meja kerjanya. Diulurkanlah tangan kanan untuk menariknya. Sebuah buku bersampul cokelat dari kulit tersembul keluar. Gadis itu sedikit tersentak sesaat, seperti menemukan sesuatu yang sudah beberapa hari ini dicarinya, lalu mengambil buku tersebut keluar dari persembunyiannya.
Memento
"Ingatan," gumamnya pelan.
Jam dinding masih menunjukkan pukul 2.15 pm. Gadis itu tersenyum sekilas. Agenda berikutnya masih sekitar dua jam lagi. Dia akan punya waktu untuk tenggelam dalam buku cokelat itu.
* * *
Jumat, 3 Juli 2015
Aula begitu ramai dengan barisan siswa-siswi yang sedang duduk dalam sebuah pengajian bulan suci. Seorang gadis duduk sila menopang dagu, mencoba menahan dirinya agar tetap fokus mendengarkan meski sedikit sulit. Suara mikrofon yang terus-menerus bermasalah mengganggu konsentrasinya untuk mendengarkan.
Gadis itu menatap teman-temannya yang begitu ramai dan asyik dengan obrolan mereka masing-masing. Mikrofon sial itu pastilah penyebab semua orang enggan mendengarkan, batinnya dalam kereta pikirannya. Gadis itu menarik napas pelan. Itu bukan masalah. Semua orang juga akan teralihkan konsentrasinya jika kesalahan itu terjadi, pikirnya.
Ketika gadis itu menoleh ke kanan, tampak seorang pria sedang berusaha membenahi sound system bermasalah tersebut. Gadis itu tersenyum riang seolah-olah sudah lama tidak bertemu dengannya. Matanya mulai asyik mengamati pria yang membenahi sound system itu. Tampaknya dia berhasil memecahkan penyebab masalah.
"You really have a good hand! Anda punya tangan yang hebat, Sir!" puji gadis itu. Sudah sedari tadi orang-orang mencoba membenahi pengeras suara itu, tetapi baru pria ini yang berhasil.
"Tergantung amal perbuatan," seloroh pria itu. Si gadis cekikikan mendengarnya. Stimulus humornya peka akan candaan pria itu.
* * *
'Hari itu adalah kali pertama sepertinya aku bertemu lagi dengannya, dikenalkan oleh guru favoritku secara langsung...'
Suara gesekan pena kembali terdengar di atas sebuah buku cokelat bersampul kulit. Gadis itu berhenti sejenak, memutar-mutar penanya, lalu melanjutkan kembali.
'...dan jika ada keajaiban terjadi dalam hidupku, mungkin adalah ketika Tuhan mempertemukanku dengan mereka. Aku bertemu dengan Tuan Bunglon terlebih dahulu, baru setelah itu Tuan Beruang Grizzly. Masing-masing mereka menghasilkan kesan pertama yang sama-sama membuatku tidak menyukai mereka pada awalnya, tetapi...sebuah keajaiban ketika akhirnya kami bertiga cocok satu sama lain.'.
Gadis itu tersenyum sekilas ketika penanya menyentuh garis berikutnya.
'Jumat, 3 Juli 2015. Hari itu adalah hari terakhir pendaftaran peserta untuk peresmian sebuah observatorium pada tanggal 5-7 Juli di sebuah sekolah. Aku meminjam laptop Bunda setelah pesantren Ramadhan untuk mendaftarkan diri sepulang sekolah di kantor TU, sepertinya itu akan jadi agenda yang asyik sekali. Aku suka melihat bintang. Gemerlapnya di langit membuatku lega dan merasa kecil sekali sebagai manusia...'
* * *
"Laptopnya sudah selesai?"
Gadis itu membuat suara 'klik-klik' dan 'tik-tik' dengan cepat. Pemilik laptop sudah menunggunya, dia tidak bisa membuat orang lain menunggu, sebagaimana dia juga benci dibuat menunggu.
"Hampir, Bunda," jawab gadis itu.
Dia berpikir sepertinya perempuan yang dipanggilnya 'Bunda' tersebut sedang sibuk sehingga tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Bunda sebenarnya tidak terlalu dibuat menunggu. Seorang pria sedang mengajaknya mengobrol tentang buku setelah sebelumnya gadis itu dengan antusias berkata ingin membaca buku karangan Emha Ainun Nadjib milik pria tersebut. Bunda awalnya terlihat heran dengan antusiasme si gadis karena menyukai buku-buku seperti itu.
"Hanya ada dua orang yang 'gila' di sekolah ini," Pria itu terkekeh. "Saya dan dia," lanjutnya seraya menatap si gadis yang sedang asyik di depan laptop.
Si gadis yang mendengarnya hanya tersenyum. Seakan tahu bahwa dialah yang dimaksud pria itu 'si gila'.
"Ah, sepertinya kamu harus ngobrol dengan seorang guru baru di sekolah kita," ujar pria tersebut kepada si gadis. "Sepertinya dia gila juga,".
Segera setelah gadis itu selesai, ia menghampiri Bunda yang duduk di dekat pintu masuk kantor TU.
"Kamu ngapain sih, Nduk?" tanya Bunda.
"Ada kegiatan peresmian observatorium oleh Menteri Agama, Bun," jawabnya lugas. "Aku pingin ikutan. Aku suka lihat bintang,".
Matahari semakin meninggi ketika gadis itu menyelesaikan pendaftarannya. Dia lalu menyusul pria itu keluar dari kantor TU, bergegas melangkah pulang meninggalkan sekolahnya dengan semangat. Sepertinya ini bulan suci yang amat spesial baginya.
"Aku sudah naik kelas 3," katanya semangat.
"Oh ya? Lalu?" ujar si pria menanggapi.
"Sebentar lagi aku lulus, dong! Lalu kuliah!" tambah gadis itu. Terlihat jelas alasan mengapa dia amat senang ketika mengatakannya. Ini akan jadi Ramadhan terakhirnya di masa sekolah.
"Oh begitu," Pria itu mengangguk senang.
"Tapi..." Gadis itu tampak sedikit kecewa di antara jedanya. "Aku belum bisa bawa motor,".
"Wah, mengerikan sekali sudah mau kuliah belum bisa naik motor," ejek pria itu.
"Sangat mengerikan," Dia malah tertawa santai menanggapi ejekan tersebut.
Ketika gadis dan pria itu tiba di parkir motor guru, terlihat seorang pemuda memasuki area dan mendekati motornya. Dia tersenyum menyapa pria tersebut. Si gadis tampak tersenyum kikuk ketika pemuda itu juga sekilas tersenyum menyapanya.
Guru baru yang tadi dibicarakan ya, batin gadis itu.
"Ini murid yang tadi kita bicarakan," kata si pria antusias. "Ini guru barumu," lanjutnya, memperkenalkan si gadis dengan pemuda tersebut.
* * *
Ketukan pena si gadis di atas buku cokelat itu nyaris tidak terdengar, seakan dia lupa bagaimana caranya mengetuk. Sepertinya dia benar-benar larut dalam ingatan lamanya, hal yang membuatnya terus menulis.
'Sebenarnya,' tulis gadis itu. 'Aku sudah berkenalan dengannya bahkan sebelum 3 Juli 2015. Kalau ingatanku tidak salah, pertama kali perkenalan itu terjadi pada Kamis, 11 Juni 2015, hari terakhir ujian bahasa Inggris yang diajar Tuan Bunglon waktu aku masih kelas 2. Saat itu dia mengawasi ruang ujianku dan aku terus-terusan tidur. Dia sepertinya juga tidak bosan untuk terus mengetuk mejaku supaya aku bangun. Percuma saja, aku sudah selesai mengerjakan 15 menit setelah ujian dimulai, apalagi yang bisa kukerjakan selain tidur?'.
Dia tidak tahan untuk terkekeh geli ketika mengingatnya.
'Setelah ujian selesai, dia memperkenalkan dirinya di depan semua siswi, sementara aku merebahkan kepalaku di atas meja. Aku malaaass sekali mendengarkannya. Aku juga tidak menyukainya karena terus mengetuk mejaku selama ujian. Itu menyebalkan sekali. Sekarang dia malah sok memperkenalkan diri. Uh, menjengkelkan sekali.
'Dia menyebutkan namanya dan mata pelajaran apa yang akan diajarnya. Hal itu semakin menyebalkan setelah aku tahu dia juga akan mengajar bahasa Inggris. Aku berharap tidak perlu bertemu dengannya tahun depan. Setelah semua perkenalan itu, tiba-tiba dia berkata, "Saya dengar di ruangan ini ada siswi yang menang debat bahasa Inggris ya? Siapa ya?". Ah, sial! Tentu saja semua anak tahu akulah orangnya. Pada akhirnya, karena tidak mau semua anak menunjukku, aku mengacungkan jari dengan malas. Dengan kepala masih direbahkan di atas meja.
'Dia lalu mendekatiku dengan antusias dan berkata, "Jadi kamu ya orangnya?". Aku mencoba tersenyum dan mengangkat kepalaku. Dia lalu bertanya ini dan itu, sementara aku hanya berusaha menjawab sebisaku. Sebenarnya sih, aku berpikir, dia pasti tidak percaya anak yang menang lomba debat bahasa Inggris terus-terusan tidur selama ujian bahasa Inggris!'.
Tawa keras tiba-tiba pecah sesaat. Gadis itu pastilah merasa ingatan miliknya ini benar-benar lucu.
'Aku masih gadis yang naif pada saat itu. Ketika akhirnya kami diperkenalkan lagi, aku bertanya-tanya apakah dia masih mengingatku. Dari ekspresinya pada saat itu, aku berani bertaruh dia lupa. Karena guru favoritkulah yang memperkenalkanku dengannya, pada saat itu aku hanya mengenalnya sekilas. Hanya sebatas seseorang yang diperkenalkan oleh guru favoritku. Itu saja. Tidak kurang, tidak lebih.'.
* * *
Sabtu, 4 Juli 2015
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Gadis yang hari itu mengenakan seragam pramuka panjang menuruni tangga dengan lesu. Tadinya dia membuat janji dengan pria itu untuk membicarakan sesuatu, tetapi rapat guru menundanya. Pria itu akhirnya menjanjikan untuk bertemu seusai rapat.
Ah, ini akan sangat lama, batin gadis itu. Matanya menatap samar kantor guru di seberang tangga tempatnya berdiri.
Gadis itu turun dengan malas. Dia tahu sepertinya ini akan sangat lama dan akhirnya terlintaslah di pikirannya untuk pulang.
Belum lama gadis itu turun tangga dan berjalan melewati koridor, pemuda yang kemarin dikenalkan pria itu keluar dari kantor TU. Gadis itu tersenyum dan menyapanya dengan sopan, pemuda itu balas menyapanya dan berlalu. Entah mengapa, sesaat kemudian setelah sapa-menyapa, pemuda itu malah berbalik dengan cepat dan berdiri di depan gadis itu, yang tentu saja membuatnya kaget.
"Saya akan mengajar kelasmu pada hari Selasa ya?" tanyanya.
"Tidak, hari Rabu," jawab gadis itu bingung bercampur kaget. Tiba-tiba sekali orang ini bisa berdiri di depannya! Bisa-bisanya!
Pemuda itu sepertinya masih punya sesuatu untuk dikatakan dan si gadis yang peka membacanya. Dia benar-benar tidak pandai berbasa-basi, kata si gadis dalam hati. Dalam sekali tarikan napas, gadis ini berkata, "Is there anything else you want to say? Ada hal lain yang ingin Anda katakan?".
Ekspresi si pemuda malah semakin terbaca oleh gadis itu.
"Sir," kata si gadis yang mulai jengkel. "Jika Anda ingin saya membantu, saya akan membantu. Jika Anda ingin saya melakukan sesuatu, saya akan lakukan. Saya tidak punya sesuatu yang bisa dikerjakan siang ini,".
"Well," Si pemuda akhirnya mengatakan sesuatu. "Saya hanya ingin mendengar Inggris-mu,".
* * *
'...dan itu menjadi hal yang paling menyebalkan yang pernah dia lakukan. Mencegatku tiba-tiba waktu pulang sekolah hanya karena ingin mendengarku berbicara dalam bahasa Inggris! Maksudku, tentu saja bahkan aku mau melakukannya jika dia mengatakannya sejak awal tanpa perlu basa-basi menanyakan jadwal mengajar di kelasku. Basa-basinya payah. Satu hal lagi, langkah kakinya cepat sekali. Teman-temanku selalu bilang jalanku terlalu cepat ketika bersama mereka, tetapi orang ini jalannya lebih cepat lagi dariku. Baru beberapa detik siang itu setelah aku menyapanya, tiba-tiba sudah ada di depanku.
Gadis itu membuka halaman berikutnya dengan cepat setelah memastikan tulisannya sudah mencapai garis akhir, lalu melanjutkannya.
'Sepanjang siang itu kami mengobrol banyak hal, terutama tentang bahasa. Obrolannya menyenangkan, tetapi sekaligus menyebalkan. Kau tahu kenapa? Di tengah obrolan, tiba-tiba pintu ruang guru terbuka dan Tuan Bunglon telah selesai rapat. Dia melihat kami mengobrol dan akhirnya pulang karena tidak enak mengganggu. Uh, padahal kan aku punya janji dengannya.'.
'Sekitar sehari atau dua setelah hari itu, aku ngobrol dengan Tuan Bunglon di dekat kantin pada jam istirahat. Aku entah mengapa teringat perkenalan pertama kami karena dia memperkenalkanku sebagai 'murid yang tadi dibicarakan'. Aku merasa sepertinya ada sesuatu yang diceritakannya kepada pemuda itu sehingga dia sampai mencegatku saat pulang sekolah. Tuan Bunglon tertawa, lalu berkata bahwa dia menyebutku 'murid yang gila' kepada pemuda tersebut. Aku protes. Ah, pantas saja aku dicegat waktu pulang sekolah!
'Aku berkata kepadanya, "Anda merusak hubungan yang baru dimulai antara murid dan guru baru, Sir!". Beliau hanya tertawa.'.
* * *
Tidak ada lesatan yang dapat menyaingi kecepatan cahaya selain waktu.
Gadis itu memulai semester baru sebagai siswi tingkat akhir di sekolahnya setelah libur panjang lebaran. Ada banyak hal yang harus dikerjakan untuk mempersiapkan kelulusan. Selain itu, dia harus membantu adik kelas barunya menyesuaikan diri di lingkungan baru. Jumlah murid kelas dua satu angkatan jauh lebih sedikit ketimbang angkatannya, tentu saja akan kewalahan untuk menangani siswa baru yang jumlah satu angkatannya jauh lebih banyak.
Ada satu adik kelas yang begitu akrab dengan gadis itu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama-sama, baik di sekolah maupun tempat lainnya. Ketika suatu hari mereka pulang sekolah bersama, si pemuda yang kebetulan sedang berada di kantin lantai satu bertanya kepada adik kelasnya, "Kok kamu mau sih jadi adiknya?".
Adik kelasnya hanya tersenyum.
"Yee...nggak apa-apa, kan? Terserah kenapa," Gadis itu berseloroh usil.
"Hey," Pemuda itu tersenyum. "I can be your teacher, your friend, and your brother,".
Gadis itu menatapnya bingung, lalu mengangguk.
* * *
'Jujur saja,' kata si gadis terus terang dalam tulisannya. 'Aku terkesan saat dia mengatakannya. Hal itu terjadi pada awal-awal semester, tepatnya pada saat seminggu pertama masuk sekolah. Mungkin itu terjadi karena melihat keakrabanku dengan Tuan Bunglon.
'Di hari pertama masuk sekolah, aku yang sudah tidak sabar ingin menceritakan liburanku kepada Tuan Bunglon, tidak sengaja mendapatinya berada di ruang guru. Hari itu masih pagi sekali, jadi itu mungkin pertama kali setelah sekian lama aku melihatnya datang pagi. Ah, itu membuatku senang sekali. Aku menceritakan semua yang kualami semasa liburan dan tiba-tiba Tuan Beruang Grizzly masuk. Awalnya dia hanya diam saja, tetapi tahu-tahu bisa ikut ngobrol dengan kami. Mungkin itu pertama kalinya aku merasa kami cocok satu sama lain. Toh, sebelumnya di parkiran itu, tanggal 3 Juli 2015, Tuan Bunglon sudah menyebut kami Trio Gila.
'Oh ya, Tuan Beruang Grizzly ternyata tidak hanya mengajar bahasa Inggris, dia juga mengajar sejarah. Awal dia masuk kelas, rasanya kaku sekali. Aku bahkan tidak tahu harus bicara apa meski dia terus menunjukku. Entah mengapa hal itu sampai membuat banyak ketidakcocokkan sehingga suatu hari...'
* * *
Sains orang jaman dahulu mungkin sedikit benarnya. Cuaca dan suhu hari itu juga akan mempengaruhi perasaan seseorang.
Gadis itu menatap marah si pemuda. Pemuda itu juga sepertinya sudah habis kesabaran. Gadis itu sudah benar-benar seperti kereta uap semenjak awal kedatangannya ke kantor guru lantai dua siang itu. Mood-nya buruk, bahkan hingga membuatnya lupa sopan santun. Bicaranya sudah menyebalkan sejak awal dan memang sepertinya dia sengaja berniat memancing kejengkelan lawan bicaranya.
Siang hari yang panas mungkin sudah menyinari kepala mereka sampai pada suhu tertinggi.
Dan akhirnya pemuda itu pergi dengan marah, meninggalkan si gadis yang mulai terbangun dari kemarahannya.
* * *
Gadis itu tersenyum muram sambil terus menulis.
'Hari itu aku takut sekali. Aku belum pernah membuat masalah di sekolah dan sepertinya hari itu menjadi awalnya. Ketika dia meninggalkan ruang guru dengan marah dan nyaris membanting pintu, aku benar-benar tersadar dari kemarahanku dan rasanya takut sekali. Aku belum pernah membuat guruku semarah itu. Aku masih terduduk di dekat mejanya ketika itu, ketika melihatnya masih di sekitar rasanya merinding sekali. Aku belum pernah dimarahi sampai seperti itu, terutama ketika dia berkata, "Sampai kamu bisa berbicara dengan sopan, saya tidak akan menjawab," dan bangkit dari kursinya. As-ta-ga, apa yang sudah kulakukan?
'Sepanjang pelajaran pada jam berikutnya, aku tidak dapat konsentrasi,' Goresan penanya semakin pelan seakan memberitahu bahwa ingatannya pada hari itu tertancap kuat sehingga untuk menulisnya pun dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk menenangkan pikirannya. 'Bahkan ketika menulis ini pun, aku masih dapat merasakan perasaan itu bercampur aduk dalam hatiku, dengan rasa takut yang mendominasinya. Sampai pulang sekolah, ketika menatap kantor guru lantai dua, rasanya hatiku tak tenang. Rasanya seperti aku baru saja mencuri uang dalam jumlah besar dan dimarahi karenanya. Karena terus-menerus dihantui perasaan bersalah, pada akhirnya...'
* * *
"Dia di dalam kan?" tanya gadis itu resah.
"Ya, dia ada di dalam," Pria itu tersenyum. "Masuk dan bicaralah,".
Gadis itu membuka pintu perlahan seraya mengucap salam, lalu melangkah pelan. Pemuda itu terduduk di sofa kantor guru lantai dua, sibuk mengerjakan sesuatu.
"Sir," Gadis itu mencoba menyusun kata-kata. "Aku...minta maaf atas kejadian tadi. Nggak seharusnya aku seperti itu,".
Pemuda itu mulai mendongak.
"Kalau kamu bicara sopan begitu, tentu saya akan mendengarkan, kan?".
Gadis itu bergerak gelisah karena salah tingkah. Dia memilih diam. Suasana di ruangan itu kembali kepada kesenyapannya.
"Sudahlah," katanya memecah keheningan, lalu kembali mengerjakan pekerjaannya. "Paling tadi kamu lagi PMS,".
* * *
'Ah, akhirnya malah berakhir deh setelah dia bilang mungkin aku PMS. Sepertinya iya deh, aku sedang PMS waktu itu.
Tangannya berhenti. Gadis itu tersenyum lega setelah perasaan mencekam yang kembali menyergapnya hilang bersamaan dengan berakhirnya cerita itu.
'Yah, tetapi itu tidak membuat ketidakcocokkan kami terjembatani. Aku malah menemukan lebih banyak hal itu yang terkadang membuatku membandingkan keduanya. Dia selalu menegurku ketika aku mulai bicara dengannya menggunakan 'Aku', bukannya 'Saya', padahal sebelumnya oleh Tuan Bunglon dia membiarkanku seperti itu. Dia menegurku kalau aku berdiri ketika berbicara dengan lawan bicara yang lebih tua dariku. Dia begini, dia begitu. Lama-kelamaan aku kesal karena dia hanya menegurku ketika teman-temanku yang lain melakukannya.
'Dia juga tidak suka aku tidur saat pelajaran. Aku pernah memutuskan untuk tidur saat pelajarannya karena malas, dia menggeprekku dengan sebendel kertas dan menyuruhku menghapus papan tulis. Sebaliknya, dia tidak akan begitu dengan para siswi lainnya yang sekelas denganku. Aku yang naif saat itu menganggap dia pilih kasih. Namun, aku tahu sebenarnya dia peduli kepadaku.
'Aku membayarnya ketika UTS semester ganjil. Aku berhasil menjawab semua pertanyaan dalam pelajaran sejarah dan mendapat 100. Poin penuh. Aku bahkan membuatkan timeline dalam lembar jawabku, menuliskan tanggalnya, rela waktu tidurku di ujian terpotong agar nilai sejarahku 100. Aku ingin membuktikan kepadanya bahwa kemampuanku bagus meski saat pelajaran mungkin akulah siswi yang paling nggak niat saat mendengarkan penjelasannya di kelas.
'Dia mulai tahu banyak hal tentangku pada akhirnya ketika membaca buku cokelat yang kini tentu saja sudah tua. Tentangku yang suka travelling. Tentangku yang suka menulis. Tentangku yang punya mimpi. Ahaha, itu belum sedetail sekarang sih. Waktu itu tulisanku masih benar-benar abstrak, suka lompat-lompat, bahkan terkadang jumping conclusion.'.
Gadis itu kemudian bangkit dari kursinya. Dia membuka laci di rak buku pribadinya dan menemukan sebuah buku cokelat lusuh bergambar double-decker bus dengan tulisan England yang kertasnya mulai menua. Tangannya dengan cekatan menyapu lembar dari lembar buku itu. Dia tersenyum membaca tulisan lampaunya yang dianggapnya terlalu abstrak.
Jemarinya akhirnya berhenti di sebuah halaman yang tulisan tangannya jauh berbeda dengan lainnya. Sesaat dia tertawa ketika melihat betapa rapinya tulisan tangan di halaman itu dibandingkan dengan miliknya, lalu membacanya dengan suara pelan.
"Masa remaja saya penuh dengan ketidakpercayadirian," Terdengar getar di ujung suaranya. "Apalagi dulu, untuk merangkai huruf sarat makna seperti yang kau tulis, saya tak tahu harus memulai dari mana. Ingin sekali kunamai buku catatanmu ABSB, kepanjangannya Aku Bukan Siswi Biasa. Setiap orang butuh pembeda, menegaskan jati dirinya, dan mungkin itu salah satu penandamu. Sudah memiliki personal blog? Tulisanmu banyak yang mencerahkan, bisa menjadi ladang dakwah. Terutama buat teman-temanmu atau remaja seumurmu yang mesti siap menjawab pertanyaan, 'Siapa saya dan untuk apa saya ada?'. Jati diri mereka,".
Buku itu kembali ditutup dan dibawanya ke meja kerjanya yang besar. Dia kembali tenggelam dalam pikirannya.
'Oh, benarkah aku pada saat itu seperti yang dia tuliskan? Aku jauh lebih tidak percaya diri, kurasa. Aku takut menyatakan pendapatku ketika sekolah. Aku tidak pernah sungguh-sungguh ketika menyetujui pendapat orang lain ketika tulisan ini digoreskannya ke dalam buku catatanku. Aku baru berani bersuara ketika lulus sekolah, ketika didikan kampus mengajariku untuk senantiasa kritis dan cerdas dalam menanggapi keadaan, meski...aku tidak secerdas arti namaku.
'Sebenarnya tidak hanya pada saat berpendapat, sih. Bahkan ketika sesuatu yang baru datang menghampiriku, rasa takutku tidak juga hilang dan akhirnya aku sama sekali nggak percaya diri. Kapan? Ah, itu, saat Ancora Foundation mengumumkan namaku lolos ke tahap pertama seleksi beasiswa kuliah di Malaysia.
'Aku ditegur teman-temanku karena tidak menyiapkannya dengan serius. Aku memang sengaja, karena rasa takutku lebih besar daripada mimpiku saat itu. Ah, entah kenapa saat itu aku dihantui rasa takut yang membuatku terbayang betapa tidak mampunya aku memenuhi ekspektasi Ancora jika mereka bersedia memberiku beasiswa. Aku jadi merasa bersalah kepadanya yang bahkan menawariku bantuan dan pinjaman untuk membuat paspor. Kau tahu, kalau dia mungkin suatu saat membaca ini, kuharap dia memaafkanku karena itu. Karena saat itu aku meragukan kemampuanku. Karena terkadang aku berpikir orang berbohong atau memujiku secara berlebihan ketika mereka bilang seharusnya aku pergi kuliah ke luar negeri karena kemampuan yang kumiliki.
'Tidak ada lagi yang kutakutkan sekarang. Dia mengajariku banyak hal agar aku berani dan berjuang atas mimpi yang kumiliki. Bahkan, andaikata orang hanya berbasa-basi memujiku, aku tidak akan peduli. Bukankah aku berhak berjuang atas mimpi dan sumber daya yang kumiliki?
* * *
Maret 2016
"Good morning!"
Gadis itu melangkah keluar sekolah dengan riang pagi itu. Jalanan mulai ramai dipenuhi para aktivis pagi yang sibuk berkarya. Pemuda yang disapa hanya tersenyum.
"What are you doing? Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya pemuda itu.
"Beli susu cokelat," jawabku. "Meski aku tumbuh seperti ini," Gadis itu menunjukkan tinggi badannya. "Aku masih butuh susu,".
"Saya juga. Kamu sudah sarapan?".
"Sudah," jawabku. "Meski begitu, ketika aku stres, apa yang ingin kulakukan adalah makan sesuatu,".
"Kamu benar-benar...berbeda,".
Gadis itu tersenyum. Bukan kali pertama dia mendengarnya. "Begitulah apa yang orang bilang tentangku. Oh, omong-omong, malam minggu kemarin Anda ke sekolah? Temanku melihat motor Anda dan aku mengenali nomor polisinya. Apa yang Anda lakukan?".
"Teman perempuanmu?".
"Tentu saja,".
"Saya hanya browsing dan nonton video," jawabnya.
"Oh, jadi kabur dari asrama ya?".
"Bisa dibilang begitu,".
"Bad boy," komentarku.
"Bukan begitu! Kau tahu, saya bosan jika hanya diam di asrama dan tidak melakukan apa-apa. Jadi, saya harus pergi ke suatu tempat. Jiwa saya seorang traveller,".
"Aku juga begitu,".
"Jangan lakukan sekarang! Lakukan itu kalau sudah kerja!".
"Jangan khawatir, aku lebih kreatif dalam mencari tempat seperti itu di asrama,".
* * *
'Aku tidak bisa dibilang anak yang baik-baik saja sih ketika asrama,' Gadis itu tertawa mengingat kenakalan kecilnya dalam tulisannya. 'Aku jarang sekali pulang tepat waktu di hari Sabtu. Aku akan memutar ke jalan yang lebih lambat atau makan mie ayam dulu, baru pulang. Itu sengaja kulakukan ketika aku bosan sekali. Dulu kelas 1 dan 2 malah lebih parah, aku jarang pulang tepat waktu karena keasyikan ngobrol dengan Tuan Bunglon sampai jam 5 sore. Keren ya? Biasanya sih biar nggak ketahuan, aku akan masuk mengendap-endap dan membuka pintu gerbang pelan sekali. Musyrifah pada hari Sabtu biasanya tidur siang, aku tahu itu. Aku tinggal mengendap-endap masuk ke kamar, melepas atribut sekolah, lalu tidur siang.
'Ada juga sih yang kulakukan. Pada malam hari ketika nggak mau belajar atau bosan karena besok libur, aku akan mencari tempat untuk menyendiri. Aku menemukan tempat idealnya. Di mana? Lantai tiga yang digunakan untuk jemuran. Di sana gelap sekali. Aku akan ke sana, lalu memanjat atapnya dan tiduran di atas sana sambil menatap langit yang selalu saja membuatku tenang. Ya, aku tiduran di atap! Anak perempuan manjat-manjat genting, aku pernah melakukannya!'.
Gadis itu berhenti sejenak, lalu mengibaskan tangannya karena lelah seraya menggumam, "Sepertinya kapan-kapan aku harus melakukannya lagi. Aku akan mencari atap yang bisa kupanjat dan kutiduri sambil melihat langit. Pasti seru,".
Dia kembali menegakkan penanya.
'Dia semakin akrab denganku di semester dua kelas tiga. Aku tidak lagi melihatnya hanya sebagai orang yang dikenalkan oleh guru favoritku, dia seperti sosok kakak dan juga guru favoritku. Ketika aku dan Tuan Bunglon ngobrol, dia pasti ikut nimbrung. Sebaliknya, Tuan Bunglon tidak akan nimbrung ketika kami ngobrol, kecuali Tuan Beruang Grizzly memancingnya.
'Namun, untuk semua hal, aku tetap memercayakan rahasia-rahasiaku kepada Tuan Bunglon. Dia benar-benar guru yang paling aku percaya. Untuk beberapa hal, ada yang bisa dilakukan Tuan Bunglon di mana Tuan Beruang Grizzly kurasa tidak bisa atau tidak mau repot-repot melakukannya. Misalnya...
* * *
Rabu, 17 Februari 2016
Mendung dan hujan yang menerpa lingkungan sekolah sepertinya juga mempengaruhi suasana hati gadis yang saat itu tengah mati-matian menahan gelombang air matanya di kantin.
Hari ini adalah keseluruhan hari dalam seminggu yang membuatnya kesal bukan main. Seakan semua keburukan hari dalam seminggu jatuh pada hari Rabu itu. Belum pernah rasanya dia sekesal itu. Baru saja dua orang guru yang paling diharapkannya untuk memberi nasihat mencemoohnya karena pertanyaannya murahan, selama seminggu dia sudah stres karena kehilangan motivasi belajar, rasanya tidak ada yang bisa lebih buruk lagi.
Sosok pria tampak berdiri di dekat kantin yang gelap karena mati lampu itu. Matanya peka untuk mengenali sosok pria yang tubuhnya pendek untuk seusianya. Pria yang bersama seorang pemuda mencemoohnya barusan tadi siang karena pertanyaannya murahan dan sikapnya yang tiba-tiba cengeng.
"Hey you!" katanya riang seakan tidak terjadi apa-apa. "You look so dark there!".
Gadis itu semakin marah. Air matanya tetap tertahan mati-matian meski ketiadaan lampu melindunginya jikalau pada akhirnya dia menangis juga.
"If you are here not to answer what I feel, I better go! Jika Anda di sini bukan untuk menjawab apa yang kurasakan, lebih baik aku pergi!" marahnya.
Pria itu berjalan mendekati etalase kantin. Dengan perasaan enggan, gadis itu mengikutinya. Kita lihat apa yang akan dia katakan, batinnya, mencoba untuk rasional.
"Ada apa denganmu? Saya kira kamu cukup tangguh untuk menghadapi semua ini," Pria itu tetap bersuara dengan candanya.
"Ya, aku tahu itu, kurasa juga begitu," Gadis itu menanggapi dengan enggan.
"Benarkah? Ya atau tidak?" Pria itu kembali tertawa.
Gadis itu akhirnya menyerah kepada air matanya. Dia menggeleng lemah. Dia tahu inilah batasnya. Gadis itu sudah lelah.
"Tidak, justru kamu tangguh. Bahkan kamu adalah murid paling tangguh di sekolah ini. Murid lain mana ada yang sepertimu? Sebagai anak-anak dan sebagai murid, kamu tangguh,".
Gadis itu mencoba mengumpulkan keinginannya untuk mendengarkan.
"Kamu mau tahu? Hanya sama kamu saya bersikap seperti ini. Coba sama si A misalnya, saya bercandaan terus, nggak pernah serius. Ada beberapa siswa yang saya kerasi terus. Sama kamu saya beda. Kamu bisa diajak bercanda, bisa juga diajak serius. Kamu dibanting masih aja bisa berdiri. Kamu dijauhkan pada akhirnya tetap bisa dekat. Kalau sama kamu, saya bercanda bisa, serius bisa. Ini serius. Fakta. Buat apa saya memuji dan membesarkan hatimu?".
Perlahan, kepala gadis itu mendongak.
"Banyak murid yang pintar di sini. Yang baik juga banyak. Kamu berbeda, kamu kombinasinya. Selalu sendirian, entah kamu menikmati kesendirian itu karena suka atau kamu memang suka tidak diganggu siapa-siapa. Di kelas kamu vokal. Pas PKn tadi, kamu bisa menjawab banyak pertanyaan. Banyak yang iri kepadamu karena bisa menjawab pertanyaan tadi. Makanya tadi saya langsung keras kan bilang, 'Makanya, baca dong!',".
Gadis itu semakin terbenam dalam diamnya. PKn tadi sedikit berbeda, tentu saja, daripada mata pelajaran eksakta yang selalu mengganggunya akhir-akhir ini. Ketidakmampuannya dalam bidang itu membuatnya tertekan, sehingga melihat orang yang mempelajarinya pun bisa membuatnya stres. Mata pelajaran non-eksaktalah yang membuatnya keluar dari tekanannya ketika dia hampir muak karena terus-menerus belajar angka untuk ujian kelulusan.
Pikiran gadis itu menerawang pada pelajaran PKn tadi siang. Perkataan pria yang juga guru PKn-nya ini membuat tatapan matanya berubah keheranan, sebab sejauh ingatannya dia juga tidak pernah membaca buku BSE yang diwajibkan untuk mata pelajaran tersebut. Pun ketika pelajaran sejarah yang mengharuskannya membaca buku. Kewajibannya untuk lulus dalam eksakta menyita waktunya untuk membaca.
"Kamu tahu? Terkadang penderitaan memang membawa kita kepada keberhasilan. Untungnya, kamu sudah sering menderita di sini. Kamu tumbuh dewasa dengan semua hal itu. Mandiri, apa-apa bisa dilakukan sendiri. Besok ketika kamu kuliah, kamu akan menjalani hidup yang sesungguhnya. Temanmu sebangku tak hanya perempuan, laki-laki juga. Kelasmu nggak mungkin isinya hanya perempuan,".
Seandainya gadis itu mau merogoh pena di tasnya, dia ingin sekali menggarisbawahi kata 'menderita' yang diucapkan pria itu. Dia tahu sudah banyak hal yang tidak menyenangkan dia alami selama hampir tiga tahun ini, tetapi perkataan pria itu seakan-akan membuatnya terlihat seperti murid yang paling menderita.
"Adakalanya, semua memiliki kapasitas. Di usiamu sekarang, banyak hal yang mungkin tak bisa ditampung pikiran dan hatimu," Pria itu tersenyum. "Karena itu, menangis adalah obat terbaik,".
Ujung mata si gadis sudah berair. Dia tak dapat menahannya lebih lama lagi.
"Sudahlah, menangis saja! Seperti saya baru pertama kali melihatmu menangis! Saya sudah sering lihat kamu nangis!"
Gadis itu tertawa di sela tangisannya. "Apa sih? Nggak, ah!" racaunya tidak jelas. "Uh, untung aja dia nggak di sini," Dia teringat kepada si pemuda yang tadi siang juga mencemoohnya. "Bakalan tambah menyebalkan,".
"Tambah dibantai habis-habisan kamu nanti," tambah pria itu. "Kami sudah tahu kamu gimana, lho. Murid lain mana ada yang sepertimu, hari ini hancur, besoknya bilang, 'Finally, I'm happy!', besoknya hancur lagi. Hari ini kamu hancur, besok siapa tahu lebih hancur lagi,".
Pria itu sukses membuat si gadis tertawa untuk kedua kalinya.
* * *
'Hari itu aku pulang dengan hati yang amat lega. Dia benar, itu bukan pertama kalinya aku menangis di depannya. Berkali-kali. Ketika curhat, ketika takut mencoba hal baru, ketika kalah lomba, ah, sudah sangat sering sekali! Namun, hari itu adalah tangisan pertamaku karena marah dan...aku lega sekali sudah mendapatkan jawabannya.
'Kala itu, aku dibayang-bayangi ketakutan yang tumbuh dari rasa frustasi atas ketidakmampuanku belajar eksakta. Bagaimana jika aku tidak lulus? Itu akan sangat memalukan, apalagi aku penerima beasiswa prestasi di sekolah. Penerima beasiswa prestasi tidak lulus ujian nasional, wah, itu akan jadi petaka. Apalagi ditambah peringat uji cobaku yang selalu berada di kisaran 30-50 besar saja. Ah, saat itu aku benar-benar stres.
'Mungkin mereka benar. Aku jauh lebih tangguh daripada dugaanku. Oleh sebab itulah mereka mencemoohku, bahkan Tuan Beruang Grizzly berkata, "Ini beneran kamu, nih?" ketika aku tidak dapat lagi menahan air mataku. Namun, kejadian itu setidaknya membuatku bersyukur atas...ah, betapa manusiawinya diriku ini.'.
Tulisannya kali ini sudah mencapai pertengahan buku cokelatnya. Ingatan gadis itu sudah membawanya kembali kepada kursi dan meja kerjanya. Tangannya mengambil segelas air yang terletak di samping kanannya dan meminumnya sampai habis.
"Ck, cepat sekali sih habisnya," keluh gadis itu. Matanya tertuju kepada galon yang kosong, lalu segera dia merogoh ponsel di sakunya.
"Air minum di galon kantor utama habis, tolong bawakan yang baru,".
Gadis itu kembali melanjutkan aktivitasnya semula.
'Kurasa ini yang membuat lama-lama aku sering ngobrol dengan mereka berdua. Mereka punya cara dan tanggapan yang berbeda ketika aku melontarkan kekecewaan dan kekesalan. Namun, tetap saja aku menemukan sesuatu. Dari Tuan Bunglon yang santai, aku akan mendengarkan nasihat bagus. Dari Tuan Beruang Grizzly, aku akan belajar mengendalikan emosiku ketika bad mood. Mungkin ini terdengar lucu, tetapi aku teringat kejadian ketika pertama kali dia kubuat marah dan meski aku dipenuhi rasa takut dan bersalah, tetap saja kejadian itu terulang. Ya, dia akan marah juga kalau lama-kelamaan aku menjadi sangat mengesalkan, lalu kami akan saling diam sampai beberapa hari.
'Awalnya, aku sungguh tidak mengerti mengapa bisa begini...'
* * *
Rabu, 20 Januari 2016
Gadis itu baru saja mendengar bel pulang sekolah ketika langkahnya menuruni tangga terhenti melihat si pemuda yang biasa berjaga di dekat tangga untuk memastikan tidak ada satu pun siswi yang melewati gerbang keluar untuk siswa ketika pulang. Dahinya berkerut. Nasibku sial, batinnya. Dia tidak habis pikir betapa sering pemuda ini lewat ketika gadis itu berusaha menghindari amarahnya.
"Pass this way," kata pemuda itu singkat kepada si gadis.
Gadis itu tidak menjawab apa-apa. Dia hanya menunduk patuh.
Sebenarnya, hatinya masih enggan pulang ke asrama secepat ini. Setengah 4 terlampau cepat dan dia tidak mau sampai di sana sekarang. Ada sesuatu yang menghalanginya untuk pulang. Gadis itu akhirnya kembali menaiki tangga ke lantai dua untuk menemui guru favoritnya.
"Kurasa dia marah kepadaku," ujarnya kepada guru favoritnya. "Mungkin itu karena surat yang kutulis. Ah, padahal aku sudah menulisnya sesopan mungkin, mengingat dia adalah Tuan Sopan Santun," keluh gadis itu. "Aku menulis bahwa aku minta maaf,".
Pria itu hanya mendengarkannya dengan takzim.
"Mengapa sangat sulit bagiku untuk memahaminya?" Jemarinya membentuk sebuah pistol dan membidiknya ke arah meja si pemuda yang terletak di belakang meja kerja guru favoritnya.
"Dia berbeda dengan saya," jawab pria itu. "Satu hal yang perlu kau tahu adalah dia sangat spesial. Kau harus mendekatinya dengan cara yang berbeda,".
"Dan mengapa sangat mudah bagiku untuk memahami Anda?" tanya gadis itu belum puas.
"Karena kamu aneh," Pria itu tertawa. "Hanya orang aneh yang dapat memahami saya dengan baik,".
* * *
'...dan akhirnya itu pun membuatku menerapkan taktik yang berbeda untuk mendekatinya. Tidak semua yang dibahas bersama Tuan Bunglon harus kubahas dengannya juga. Aku harus memisahkan air yang begitu banyak ke dalam beberapa tong, bukan? Itulah yang kulakukan.
'Aku berusaha mengamati meja kerjanya lebih sering ketika dia memintaku membantunya setelah mengajar. Aku mengamati buku bacaan apa yang ada di meja kerjanya: Pride and Prejudice karya Jane Austen. Kurasa dia penggemar sastra Barat klasik juga. Ada buku tentang Cokroaminoto dan tiga muridnya juga, ah, aku tahu dia penggemar sejarah. Sisanya novel Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Hah, oh ya, dia kan menugaskan kami untuk menuliskan setiap hal yang dibaca dalam novel Inggris untuk menambah vocabulary.
'Pada akhirnya, aku menemukan lebih banyak lagi kesamaan yang bisa kubahas. Travelling, novel, sastra. Aku akhirnya mulai memahaminya dan menghindari silang pendapat itu lagi (meski sejujurnya itu lebih sulit lagi untuk dihindari setelah kami bisa mengobrol banyak hal). Aku tahu betapa sulitnya, tetapi...ketika hal itu terjadi lagi, aku akan berusaha menjadi orang pertama yang mengajaknya untuk meluruskan perbedaan itu.
'Dan itulah kenapa aku memanggilnya Tuan Beruang Grizzly...'
* * *
Jumat, 29 Januari 2016
Matahari baru dalam perjalanan mencapai titik tengahnya, tetapi gadis itu sudah melakukan banyak hal di sekolah. Dia baru akan mengembalikan speaker milik si pemuda yang baru mengajarnya dalam kelas TOEFL ke kantor guru.
"Hey, you make my table untidy! Kamu membuat meja saya tidak rapi!" tegur pemuda itu ketika si gadis meletakkan speaker-nya di sembarang sisi di meja kerjanya.
"Maaf, Sir," Gadis itu cepat-cepat mengambilnya, lalu meletakkan benda itu di bawah sebuah miniatur kura-kura.
Gadis itu tersenyum. Miniatur kura-kura itu adalah pemberian darinya sepulang dari Wonogiri.
"Kenapa sih kamu ngasih dia kura-kura?" Pria yang duduk di depan meja pemuda itu membalikkan badannya. "Nggak cocok tahu buat dia! Parahnya lagi, dua guru bahasa Inggris-mu kamu kasih kura-kura semua. Kamu mengejeknya,".
Sebenarnya gadis itu ingin tertawa. Dia memang memberikan oleh-oleh berbentuk kura-kura kepada mereka, si pria dan si pemuda.
"Ya, kenapa bukan singa? Atau cheetah?" celetuk si pemuda.
"Parahnya itu dilakukan murid kita," Pria itu menambahi.
"Ya, murid kita," timpal pemuda itu.
Gadis itu akhirnya mengatakan sesuatu. "Aku suka filosofi kura-kura. Jalannya memang lambat, tetapi hidupnya lama. Sampai ratusan tahun,".
"Memangnya saya mau hidup sampai ratusan tahun? Tujuh puluh tahun saja saya sudah bersyukur!" Pria itu menanggapinya dengan canda.
"Ah, kalau dia cocoknya hewan apa ya," Si pemuda tiba-tiba saja berpikir. "Kadal atau ular besar?" ujarnya. "Kalau saya sih, mending-mending kodok atau katak,".
"Menjijikkan," komentar gadis itu geli.
"Tidak semua benci kodok," kata pria itu. "Kurasa kamu paling cocok jadi bunglon," tambahnya lagi kepada gadis itu. "Bisa kamuflase,".
"Itu terlalu bagus untuknya," komentar si pemuda, tertawa.
Gadis itu akhirnya tersenyum usil. "Gimana...kalau kucing aja? Aku mirip kucing. Kucing itu imut dan semua orang suka kucing!".
Selorohan gadis itu bereaksi secepat larutan kimia yang dia pelajari. Pemuda itu tersedak minumannya ketika mendengar selorohan usil itu. Pria yang duduk di depannya tertawa terbahak-bahak.
"Imut? Kamu imut? Itu kebohongan terburuk yang pernah saya dengar!" kata si pria yang masih tertawa.
"Hey, kucing itu suka buang kotoran sembarangan!" ejek si pemuda.
"Kucing terlatih tidak begitu," ujar gadis itu cemberut.
"Baiklah, baik, ayo kita cari hewan yang lebih cocok untuknya,".
* * *
'Oke, itu kedengaran usil sekali. Seorang murid memanggil gurunya dengan Tuan Beruang Grizzly dan Tuan Bunglon,' Gadis itu tertawa geli mengingatnya. 'Namun, mereka berdua sudah berusaha memilihkan hewan yang cocok untukku dan aku tetap memilih kucing sehingga...'
* * *
"Tanggung jawab!"
Gadis itu memberengut kesal kepada pemuda yang hanya tertawa-tawa di meja perpustakaan.
"Lihat deh sekarang teman-temanku memanggilku apa!" kata gadis itu kesal.
Baru saja dia berucap, terdengar panggilan-panggilan usil dari luar ruangan yang kini amat mengganggunya.
"Hey, Katy!".
Gadis itu kesal bercampur geli. Panggilan itu sebenarnya hanya boleh untuk si pemuda ketika tidak ada teman-temannya karena terdengar sangat memalukan. Pagi tadi hal itu dirusak ketika si pemuda refleks memanggilnya seperti itu.
"Kan itu karena kamu suka kucing..."
* * *
'Pada akhirnya pun aku tetap memanggilnya Tuan Beruang Grizzly. Dia memang mirip beruang ketika marah. Aku memutuskannya. Aku memanggilnya balik dengan panggilan itu, "Tuan Beruang!". Usil sekali, bukan? Ah, kenangan yang lucu sekali.
'Sementara itu, aku memanggil pria itu Tuan Bunglon karena alasan paling logis yang berusaha kupikirkan. 29 Januari 2016, dia berpikir bunglon adalah hewan yang paling cocok denganku, tetapi sebenarnya tidak juga. Itu lebih cocok untuknya yang pandai beradaptasi dan berkamuflasi.
* * *
Awal April 2016
Tidak ada yang berubah dari gadis itu meski sebentar lagi dia akan meninggalkan bangku sekolah. Dia tetap usil seperti biasanya dan suka mengikuti guru favoritnya ketika pulang sekolah.
"Sir," kata gadis itu. "Kelulusan nanti kita foto bertiga ya?".
"Dengan dia juga?" tanya pria itu seraya mengeluarkan sepeda motornya dari area parkir guru.
Gadis itu menjawabnya antusias dengan anggukan kencang.
* * *
4 April 2024
Gadis itu hampir menyelesaikan tulisannya hari ini. Dia tersenyum puas sembari membolak-balik setiap halaman yang ditulis, seakan-akan tintanya berguna untuk menuliskan sesuatu yang paling diinginkannya di dunia.
Ketika akhirnya dia mencapai halaman terakhir tulisannya, penanya kembali menari di panggung.
'Kini, aku sudah jauh meninggalkan masa itu. Aku belum lagi bertemu dengan mereka berdua. Apakah aku menginginkan pertemuan itu? Tentu saja. Aku ingin bertemu. Aku tidak bisa mendeskripsikan alasan tepatnya. Bukan, kurasa bukan kangen. Kangen dan rindu adalah keinginan untuk mengulang kembali masa itu. Aku sudah cukup besar untuk menyadari bahwa...sekeras apapun aku berusaha, waktu tidak akan bisa diputar balik. Time-turner milik Harry Potter itu hanya fiksi. Mesin waktu Doraemon juga fiksi. Tidak akan pernah ada alat seperti itu.
'Namun, aku rasa itu cukup manusiawi ketika hasratku menginginkannya. Siapa yang tidak ingin kembali ke masa lalu yang membuaikan? Manusia mana pun pasti menginginkannya. Yah, sayang sekali waktu tidak bisa diputar ulang.
'Aku teringat kepada sebuah film karya Christopher Nolan yang dirilis pada tahun 2000. Tentang seorang pria bernama Leonard Shelby, seorang penderita anterograde amnesia (amnesia ingatan jangka pendek), yang berusaha membalas dendam atas pembunuhan istrinya. Karena dia menderita amnesia ingatan jangka pendek, dia harus menato dan terus mencatat karena dia akan melupakan apa yang orang lain katakan kepadanya hanya dalam beberapa detik saja. Dia tidak mempermasalahkan hilangnya ingatan jangka pendeknya. Baginya, toh ingatan itu bisa berubah dan dimanipulasi sesuai keinginan pemiliknya.
'Namun, aku bukan orang yang tertarik memanipulasi ingatan. Aku segera menulis semua percakapan yang kulakukan ke dalam buku harianku ketika aku memang menginginkannya.
'Karena itulah tulisan ini kuberi judul Memento, sesuai dengan judul film itu.
'Karena aku ingin mengabadikan manusia-manusia yang menarik sehingga tidak bisa dilupakan oleh ingatanku ke dalam tulisan. Ada atau tiadanya mereka, aku masih bisa merasakan semangat dan kehadiran mereka karena mereka abadi di dalam tulisanku, sebagaimana Tom Riddle abadi dalam ingatannya di buku harian.
'Ah, apakah aku juga abadi di dalam ingatan mereka? Aku bukan Tuhan yang bisa menjawabnya. Hanya saja, akan kujelaskan kepadamu, inilah caraku mengabadikan mereka. Aku tidak masalah jika hanya menjadi kabut tipis di dalam ingatan mereka. Yah, kau tahu, belum tentu juga kenangan mereka tentangku adalah kenangan baik.
'Sejarah toh juga berbeda versi kan, tergantung ingatan mana yang diabadikan?
'Namun, tentu saja aku berharap...mereka juga mengenangku dengan baik.'.
Begitu gadis itu meletakkan pena, ketukan pintu yang lembut terdengar membahana di ruang kantornya.
"Nona Atase, agenda harmoni budaya Indonesia-Jepang akan mulai sebentar lagi. Mobil untuk ke Akibahara sudah saya siapkan,".
Gadis itu mengangguk puas kepada sekretaris barunya yang masih berdiri di depan pintu.
"Masuklah," perintahnya. "Masih banyak ejaanmu yang belum tepat, semua yang salah sudah saya coret. Tolong segera diperbaiki,".
"Baik, Nona Atase,".
Gadis itu bangkit dan membenahi tudung hitamnya. Dia berjalan keluar dengan langkah-langkah anggun menuju pintu dan menutupnya perlahan. Bibirnya mengulas sebuah senyuman ketika matanya bertemu dengan papan yang tergantung di pintu depan kantornya.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia untuk Kekaisaran Jepang.
Komentar
Posting Komentar