Langsung ke konten utama

Still...

"Suatu hari nanti," aku ingat kata yang kau ucapkan itu, yang sepertinya mudah sekali dilupakan
Di sebuah jalan, di mana hembusan angin dapat menghentikan musim itu
Lalu, aku kembali kepada kesadaranku berkat suaramu dan melanjutkan kehidupanku
Betapa bersinar semuanya semenjak hari itu

"Itsuka. Suatu hari nanti,"

Pada hari itu, kita berdiri berhadapan. Tidak ada kata yang terucap di antara kita, tetapi masing-masing sudah tahu inilah saatnya. Aku hanya bisa melihat matamu yang mengucapkannya. "Itsuka," katanya. "Suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi,".

Aku tersenyum. Ah, sudah saatnya. Bukankah begitu?

Kakiku terasa semakin ringan untuk melangkah ketika mengingatmu, meski jarak terasa semakin jauh. Kenangan-kenangan itu menghangatkanku dan terus memberiku semangat untuk berjalan seperti biasanya. Rasanya aku tiada bisa mengelak, betapa bersinarnya semua hal yang kujalani semenjak hari di mana aku bertemu denganmu.

Ketika kau menutup pintu, semuanya terasa seperti menghilang begitu saja
Setiap hari begitu cepat berlalu, aku tidak dapat mengingkarinya lagi

Tidak, bukannya hal itu lenyap secepat kabut tipis di pegunungan. Hanya saja, begitu cepatnya hari berlalu sehingga semua itu hanya tinggal kenangan, bukan? Tidak, memang seperti inilah suratan kehidupan. Ketika kau bersama orang yang menyenangkan, setiap hari tidak akan pernah terhitung olehmu. Betapa asyiknya kau menghabiskan waktu, hingga tak terasa langkahmu tiba pada garis akhir. Sebagaimana kau menghabiskan uangmu untuk sesuatu yang kau suka, hingga tak terasa betapa banyaknya yang telah dikeluarkan.

Mungkin, sebenarnya kita telah mulai berjalan pada waktu itu
Melewati jalan masing-masing
Sampai suatu hari ketika perasaan-perasaan itu memancarkan cahayanya
Ketika roda telah berputar, perjalanan sesungguhnya akan dimulai
Jadi aku tidak akan tersesat lagi, aku akan menggenggam masa lalu dengan lembut

Kau tahu, hari itu ketika langkah-langkah kita menjauh, kurasa kita sudah memulai perjalanan masing-masing. Tiada satu pun yang tahu kapan sebuah titik akan mempertemukan kita kembali.

Namun, aku percaya kepadamu. Karena kita menggenggam kenangan yang sama, tidak ada satu pun yang akan tertinggal sampai ketika hari itu tiba.

Aku tahu betapa sering di tengah perjalanan keputusasaan menghadang. Ketika titik itu tak kunjung mempertemukan kita kembali. Tak apa, sekarang semua sudah baik-baik saja. Aku sudah kembali menempuh jalanku. Karena aku telah memutuskan untuk tidak terlalu sering menengok ke belakang.

Meski itu sebuah rahasia, hanya kepadamulah aku dapat mengatakannya
Tidak peduli apapun, mengatakan segala hal tentangku kepadamu, ah, mungkin aku belum dapat melakukannya...
Di sebuah jalan yang gaduh, aku melewati orang-orang yang tak kukenal
Semua orang tampak merindukan seseorang yang begitu penting untuk mereka

Aku menatap orang-orang di jalan itu, tak tahu kepada siapa harus kuceritakan rahasia-rahasia yang tidak dapat kusimpan lebih lama lagi dalam ketiadaanmu bersamaku. Hal itu memperbesar kerinduanku kepadamu, seseorang yang secara alami membuatku mengatakan segala sesuatu tentang diriku.

Ketika membawa banyak hal yang sepertinya rusak, aku teringat kenangan itu
Betapa kita selalu terhubung, karena genggaman tangan itu tak pernah berdusta
Hari-hari yang tak dapat diulang lagi begitu berharga bagiku, tetapi hari esok telah menunggu kita
Kita masih dapat pergi ke mana pun

Jatuh. Terhempas. Semua itu membuatku teringat kepadamu yang selalu ada untukku.

Ah, betapa kenangan-kenangan itu menghubungkanku kepadamu, terutama ketika hempasan angin dan gelombang terus membuatku tersungkur. 

Betapa rindunya aku kepada hari-hari itu!

Betapa inginnya aku menunda kepergianmu, jika terlupa bahwa masa depan telah menunggu kita di ujung jalan. Aku tertawa.

"Hari itu kukira kau mencoba mengatakan sesuatu kepadaku..."
Bahkan jika kau mengatakannya sekarang, itu semua sudah tidak masalah
Menemui rintangan, secara perlahan saling mengerti, dan menangis kala musim telah pergi
Kamu adalah kamu, raihlah mimpi besarmu
Aku akan selalu mendoakan kesuksesanmu dari sini

"Jika aku hanya menunggu, maka tiada hari esok untukku.
Aku akan terus berjalan, karena tiada hal yang bisa kumulai jika terus di sini,"

Bahkan jika itu jalan gelap yang tak dapat kulihat
Bahkan jika itu, misalnya, adalah sebuah persimpangan
Mari kita tinggalkan ekspresi sedih itu di belakang

Ini bukanlah ucapan selamat tinggal, pertemuan kita adalah awal yang baru
Namun, aku ingin bertemu denganmu lebih sering
Aku masih menginginkannya...
Suatu hari nanti, kita akan bertemu dan tertawa lagi
Pasti, hal itu akan terjadi


(Arashi - Still...)


Yours sincerely,
Anissa A. Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...