Langsung ke konten utama

Kudet? Shiranai

"Kyaaa...Arashi jadi nomor 1 di Oricon chart minggu ini!" seruku seraya berlari kecil ke ruang keluarga.

Mama yang sedang bersiap-siap pergi sebenarnya sudah biasa dengan kehebohanku. Ini bukan pertama kalinya aku begini. Sudah sering.

"Anak stres," kata Mama dari kamar. "Kenapa, sih?".

"Tsunagu jadi nomor 1 di Oricon chart minggu ini, Ma!" jawabku.

"Tsunagu tuh apaan?".

Aku dengan sok tahu menyanyikan nadanya. 

"Nggak tahu, ah!" Mama menyerah.

"Ih, Mama! Itu single Arashi terbaru, Ma!" kataku sebal.

Mama hanya geleng-geleng kepala sembari melihatku yang menyalakan TV dan mencari channel Waku Waku Japan untuk menonton acara J-Pop Countdown. Siapa tahu ada di sana kan, pikirku.

"Kamu tuh dengerin lagu Jepang terus. Pop Indonesia kan banyak yang bagus," ujar Mama.

"Nggak ada yang inspiring, Ma," dalihku.

"Banyak kok yang inspiring,".

"Nggak ada yang liriknya puitis, Ma,".

Well, kalau dibilang berdalih sebenarnya tidak juga sih. Itu benar-benar alasanku kenapa prefer Arashi ketimbang lagu-lagu pop Indonesia. Adikku mungkin juga punya alasan kenapa dia prefer K-Pop (terutama BTS dan Infinite) ketimbang pop Indonesia. Yang jelas, kami berdua tidak mendengarkan lagu pop Indonesia dan mungkin Mama punya keheranan yang sama, tidak hanya kepadaku, tetapi dengan adikku juga. Kami tidak mengikuti perkembangan dunia entertainment Indonesia. Ketika berita mengenai tertangkapnya Ammar Zoni, pesinetron Indonesia, karena menggunakan narkoba mulai viral, aku bertanya kepada adikku, "Kamu tahu Ammar Zoni tuh siapa?".

"Nggak tahu, tuh," jawabnya.

"Hah, apalagi aku!".

Tidak ada tempat bagi sinetron Indonesia di rumah kami dan tidak ada seorang pun yang menyukainya. Dilarang sih sebenarnya sejak aku masih kecil meski pernah diam-diam menonton juga (jaman-jamannya masih ada sinetron Melati untuk Marvel dan Inayah). Saat ini, tidak ada satu pun dari kami yang menontonnya. Mama dan adikku tergila-gila drama Korea, heran deh bahkan Mama bisa nangis kalau nonton itu. Karena ada banyak drama Korea yang bagus di channel K+ dan KBS World, mereka adalah penguasa TV di rumah. Sepertinya dua channel itu masih kurang karena adikku memohon-mohon agar channel TVn masuk rumah.

Aku? Waku Waku Japan dan NHK World tentunya. Dulu ketika Waku Waku Japan masih menayangkan Nazotoki wa Dinner no Ato de (The After-Dinner Mystery), Lucky Seven, Kimi ni Sasageru Emblem (sempat ditayangin satu episode doang, ah Waku Waku nyebelin), dan Kizoku Tantei (Noble Detective), TV menjadi milikku di hari Sabtu dan Minggu. Tidak usah menebak deh, sudah jelas itu dramanya Arashi semua. Sejak Kizoku Tantei selesai, aku tidak lagi menonton Waku Waku Japan selain hari Minggu untuk menonton J-Pop Countdown. Yah, aku masih sangat-sangat berharap Waku Waku akan menayangkan drama-dramanya Arashi lagi. Mungkin Kagi no Kakatta Heya, Ryuusei no Kizuna, Maou, 99.9, Sekaiichi Muzukashi Koi, Mikeneko Holmes no Suiri, Yamada Taro Monogatari, The Quiz Show 2, dan Kazoku Game bisalah ditayangin.

Tentunya, sama seperti adikku, aku juga memohon-mohon kepada Papa agar channel NHK World Premium dan GEM TV masuk rumah. Aku sedih karena tidak bisa menonton The Music Day yang ternyata ditayangkan di Indonesia lewat GEM TV, padahal MC-nya Sakurai Sho dan Arashi juga perform. NHK World Premium...well, aku berharap bisa menonton pembukaan Olimpiade Tokyo 2020. Arashi pantas kok jadi artis yang mewakili Jepang di pembukaan.

Soal musik...aku bahkan tidak tahu kenapa Arashi bisa membuatku sedikit enggan menaruh lagu-lagu lain di ponsel. Arashi itu um...pertama kalinya yang koleksinya lengkap di ponsel dan laptopku, dari single debut A.RA.SHI sampai Tsunagu yang terbaru, dari album debut Arashi No. 1 Ichigou: Arashi wa Arashi wo Yobu sampai yang terkini Are You Happy?. As a normal teenager, aku pernah menyukai K-Pop, tetapi koleksinya tidak pernah selengkap Arashi. Well, kalau K-Pop aja gitu, apalagi lagu pop Indonesia seperti yang ditanyakan Mama, jauh lebih parah. 

Kalau dipikir lagi sih, aku sebenarnya punya alasan sendiri mengapa prefer Arashi ketimbang lagu-lagu dalam negeri. First thing, tipikal pop Indonesia rata-rata kalau romantis liriknya cengeng ketimbang comfortable. Lirik lagunya Arashi menurutku, as I said before, lebih puitis. Daripada mendengar lirik aku tidak bisa hidup tanpamu, sumpah mati aku cinta kamu, dan sampai mati aku mencintaimu, aku lebih suka lirik-lirik seperti aku mencintaimu dan stay gold as usual, perasaanmu yang jernih akan membuatmu dengan segera menggenggam kuncinya, dan meski masa depan kita tertutup kabut, aku yakin kita akan menemukannya karena menurutku lirik seperti itu mengajak pasangan untuk serius menatap masa depan, bukan hanya sekadar romansa (dan karena aku tipikal yang maunya langsung diseriusin, hahaha). 

Second thing, kalau lagunya inspiring, lagu-lagu Arashi lebih banyak mengajak kita untuk terus menatap masa depan, bukan hanya sekadar disemangatin. It is usual kalau ada lirik-lirik jangan menyerah, aku yakin kita menang, dan kau bisa melakukannya, akan tetapi lagu itu akan jadi magis jika ditambahi lirik seperti aku akan terus berjalan melewati angin dan hujan, ciptakan revolusi untuk kita sendiri dengan parade mimpi dan harapan, dan bunga sakura telah mekar, mimpiku yang dulu tertidur kini telah berkembang, ditambah dengan majas-majas personifikasi dan eufimisme lainnya. 

Well, it doesn't mean I dislike Indonesian song. Ada kok lagu-lagu Indonesia yang akan selalu membuatku menangis ketika menyanyikannya: Indonesia Raya dan lagu-lagu nasional lainnya yang biasanya dibawakan dalam upacara bendera. Ah, apalagi kalau suatu saat aku mendengarkan lagu itu ketika pengibaran bendera di luar negeri (huaa...aamiin!).

Jadi...kudetkah aku? Shiranai. Aku tidak tahu. Bukan berarti aku benar-benar kudet sampai nggak tahu perkembangan infotainment Indonesia dan lainnya sih, mungkin hanya sedikit tertinggal. Mungkin.



Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...