Langsung ke konten utama

A Day In Library

Liburan ini benar-benar membosankan karena lebih panjang dari semester sebelumnya. Setelah berputar-putar keliling kota sendirian dengan motor sembari menunggu Papa jogging, aku memutuskan pergi ke perpustakaan. Definitely, itu jauh lebih baik daripada mengisi evaluasi dosen di SIMAWEB. Meccha meccha malas aku melakukannya.

Perpustakaan hari ini cukup ramai. Yah, mungkin karena ini hari Sabtu. Orang yang cepat bosan seperti aku pasti ingin sekali keluar rumah mencari hawa segar dan perpustakaan salah satu tempat ideal. Koleksi novel berak-rak yang membuatku ingin ke sana. 

Belum terlalu lama sebenarnya aku membaca novel. Baru-baru ini aku membaca seri pertama Sherlock Holmes karena penasaran dengan sosok detektif cerdas ini. Well, novelnya keren sekali ternyata. Sasuga desu ne, batinku dalam hati.

Begitu tiba di perpustakaan, mataku terarah kepada rak-rak novel dan sejarah yang berjejer. Entah mengapa tanganku malah teracung untuk memilih buku tentang sejarah Kab. Semarang. Mungkin aku bisa mendapatkan informasi dari sini, batinku. Sesaat aku teringat pada perjalanan napak tilas sejarah kota Ungaran yang kulakukan di ulang tahunku ke-18 dulu yang tidak memuaskan. Kurasa buku ini akan melengkapi informasiku tahun lalu, begitu pikirku ketika kuputuskan untuk mengambilnya.

Aku berjalan ke arah sebuah meja besar di dekat jendela dan duduk di sebelah seorang wanita yang sedang melakukan sesuatu dengan laptopnya. Ah, aku kenal wanita ini. Intuisiku menarikku untuk menyapa.

"Mrs. Wiwin?" sapaku.

"Oh hey, apa kabar?" Ternyata benar, kami saling mengenal. Wanita ini adalah Mrs. Wiwin, guru bahasa Inggris saat aku masih SMP. "Kamu sekarang kelas berapa?"..

Aku tertawa kecil. Pertanyaan itu sudah terlalu besar untuk ditanyakan kepadaku. "Saya sudah kuliah,".

"Oh," Mrs. Wiwin tertawa dan menepuk dahinya. "Masih suka membaca dan menulis novel?".

Ah, how nostalgic! Aku tertawa dalam hati. She remembers it well, as expected

Dulu sebelum disibukkan dengan menulis artikel ilmiah, kritikan, dan lain sebagainya, aku menulis dua buah novel semasa SMP dan sampai sekarang masih aku simpan dokumennya. Beliau pernah membacanya. Aku tidak pernah menulis novel lagi semenjak masuk SMA, sejak kenal peraturan bahwa laptop harus dititipkan di asrama. Setelah lulus, aku sempat kepikiran akan menulis lagi, tetapi hilang semangat karena bahkan project yang harus kulakukan dengan seseorang saja belum kukerjakan. Hidup memang terkadang menyebalkan ya, haha.

"Tidak, saya hanya dapat menulis cerpen sekarang," jawabku.

"Tidak terpikir untuk menerbitkan tulisanmu di Wattpad? Itu enak sekali. Kamu tidak harus menyelesaikan, bisa sebagian di-publish, lalu baru dilanjutkan lagi,".

Aku mengangguk. Nanti kupikirkan, batinku.

"Ada pekerjaan?" tanyaku.

"Tesis," Mrs. Wiwin tertawa, lalu menunjuk laptopnya. "Sudah 3 tahun, saya harus menyelesaikannya segera,".

Aku nyengir lebar dan berpikir sepertinya aku mengenal seseorang yang pernah disibukkan dengan tesisnya selama setahun karena berdebat dengan dosen pembimbingnya. Ah, aku tidak akan jadi terlalu idealis. Memikirkan skripsi menumpuk di depan mata saja aku tidak bisa membayangkannya.

Aku duduk di sebelah beliau dan mulai membaca, tetapi sialnya mataku langsung berkunang-kunang. Akhir-akhir ini aku tidak dapat tidur lebih awal meski ini liburan. Seperti waktu-waktu kuliah, aku malah menghabiskan waktu di depan laptop hingga larut malam, sekitar jam 12 atau 1 malam, baru tertidur.

Dan ini membuatku sangat...mengantuk.

...

Ketika membuka mata, aku mulai sadar barusan aku jatuh tertidur di tempat umum (lagi). Aku mendengus kesal. Kebiasaan buruk. Ini memang bukan kali pertama aku tertidur di perpustakaan, tetapi rasa kesalnya masih sama besarnya. Dulu aku tidak separah ini di SD dan SMP. Semenjak kebiasaan tidur saat pelajaran di SMA meningkat, aku mulai mudah jatuh tertidur di tempat umum.

Mrs. Wiwin masih di sebelahku. Beliau baru saja membuka buku yang diambilnya dari rak kesusasteraan.

"Suka Emha Ainun Nadjib juga?" tanyaku.

"Lumayan, saya sedikit-banyak membaca tulisan beliau, kamu?".

"Saya sudah baca beberapa bukunya. Saya suka,".

Lagi-lagi, usik pikiran liarku, sepertinya aku mengenal orang yang menyukai buku itu lebih dari siapa pun. Aku jadi suka setelah meminjam bukunya. Diam-diam ketika ada festival buku, ketika membeli buku-buku kuliahku di belakang Stadion Diponegoro, ketika berkunjung ke Gramedia, aku selalu mencuri-curi pandang ke arah buku-buku Emha dan membacanya di tempat jika segel plastiknya sudah dibuka.

Natsukashii ne, aku menghibur diriku sendiri.

Aku tidak menyelesaikan buku sejarah Kab. Semarang yang kupinjam. Sudah cukup aku dininabobokan buku yang amat membosankan. Aku kembali menjelajah rak fiksi dan menemukan sebuah novel yang bagus, lalu kembali duduk dan mulai membaca.

Aku menyalakan musik dengan headset yang menancap di ponsel. Semua lagu Arashi mengalun dengan indahnya di telingaku. Namun, ajaibnya rasanya aku seperti lupa sedang menyalakan musik. Novel ini benar-benar mengajak pikiran liarku menjelajah. Seakan-akan aku sedang menonton sebuah film di kepalaku.

"Ah, omong-omong," Mrs. Wiwin menyela imajinasiku yang mulai lepas landas. "Saya duluan ya,".

Aku tersenyum dan mengangguk.

"Ah, sebelumnya saya minta nomor WA-mu. Berdiskusi denganmu selalu menyenangkan. Tulis di sini ya,".

Setelah berpamitan dengan Mrs. Wiwin, novel itu mulai menarik-narikku lagi. Film itu mulai berputar dan menyeretku mengikuti jalan ceritanya.

Dan itu membuatku tersadar, sampai satu setengah jam kemudian, bahwa aku sudah duduk sangat lama di perpustakaan. Ruang baca mulai lengang. Jendela tidak lagi meneruskan cahaya matahari yang tertutup awan gelap.

Ingin rasanya aku tertawa keras ketika melihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah dua siang.

Lagi-lagi, kebiasaan deh! Kalau sudah baca sesuatu yang menarik selalu lupa waktu!


Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...